Presiden Donald Trump bilang dia sudah suruh pasukan Kurdi jangan masuk perang Iran, sementara AS dan Israel lanjutkan serangan ke Teheran.
“Kami sangat bersahabat sama orang Kurdi, tapi kami tidak mau bikin perang ini makin rumit. Saya sudah putuskan, saya tidak mau Kurdi masuk,” kata Trump di Pesawat Air Force One hari Sabtu dalam perjalanan pulang ke Florida setelah menghadiri upacara militer untuk enam prajurit AS yang gugur.
Militer Israel sebelumnya berusaha buka jalan agar pasukan Kurdi bisa ambil posisi di barat laut Iran, dengan tujuan akhir mendorong orang Kurdi bersenjata untuk bangkit melawan Teheran.
Trump bilang dia “punya hubungan baik” dengan Kurdi dan mereka bilang siap masuk ke Iran. “Tapi saya sudah bilang, saya tidak mau mereka masuk,” tambahnya.
Serangan udara telah sasarkan militer dan penegak hukum Iran di wilayah mayoritas Kurdi yang dekat Irak utara, di mana perlindungan udara AS tahun 1991 bantu dirikan pemerintahan Kurdi Irak semi-otonom di Erbil. AS dan sekutunya bergantung pada Kurdi, kelompok etnis terbesar di dunia tanpa negara sendiri, di zona konflik tetangga.
Kurdi yang masuk perang melawan Iran bisa punya dampak lebih luas, dan pemimpin Kurdi Irak segan untuk berkomitmen, menurut sumber yang tahu pikiran mereka.
Kamis lalu, Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, bilang mereka sudah serang kelompok Kurdi di Irak dan peringatkan negara tidak akan toleransi gerakan separatis, sementara Turki bilang organisasi yang promosikan separatis Kurdi ancam stabilitas regional dan keutuhan wilayah negara tetangga.
Meski beberapa faksi Kurdi bersiap untuk operasi lintas batas ke Iran, Dlawer Ala’Aldeen, presiden pendiri Middle East Research Institute di Erbil, bilang kelompok-kelompok ini masih terpecah dan kurang kemampuan untuk tantang negara Iran secara langsung, walau bisa jadi titik tekanan di perbatasannya.