Selat Hormuz sebenarnya tidak sepenuhnya tertutup. Beberapa kapten kapal yang berani telah mempertaruhkan serangan dari Iran untuk mengangkut kargo melalui jalur air Teluk Persia yang sempit ini. Beberapa bahkan mengaku sebagai kapal Cina.
Lalu lintas kapal tanker sebagian besar telah berhenti sejak Amerika Serikat dan Israel memulai perang melawan Iran. Iran membalas dengan meluncurkan misil dan drone ke negara-negara tetangga di Teluk, serta ke kapal-kapal yang mengangkut energi ke berbagai tujuan di seluruh dunia.
Sekitar 20% minyak dan gas alam cair dunia melewati selat ini. Penghentian lalu lintas tiba-tiba ini telah membuat harga melonjak naik. Tapi kenaikan harga itu juga menjanjikan keuntungan besar bagi kapal-kapal yang bersedia melakukan pengiriman. Tarif angkutan telah melonjak ke rekor tertinggi. Sebuah kapal pengangkut minyak sangat besar yang berlayar dari selat ini ke Cina bisa menghasilkan pendapatan sekitar $500,000 per hari.
Selama satu minggu terakhir, setidaknya 10 kapal telah mengubah sinyal transpondernya menjadi “Pemilik Cina”, “Awak Semua Cina” atau “Awak Cina di Kapal”, menurut data MarineTraffic yang dianalisis Financial Times.
Misalnya, satu kapal bernama Iron Maiden sebantar mengubah sinyalnya menjadi “pemilik cina” ketika ia berlayar cepat melalui selat pada hari Rabu, menurut FT.
Sekitar separuh dari impor minyak Cina harus melewati selat ini, dan 90% pasokan minyak Iran berakhir di Cina, seringkali melalui negara ketiga untuk menghindari sanksi.
Akibatnya, Tehran sangat bergantung pada pengiriman itu untuk pendapatannya dan juga sensitif dengan anggapan bahwa militernya mencegah kapal tanker mencapai sekutunya.
Tapi “Cina” bukan satu-satunya identitas yang digunakan kapal-kapal, yang termasuk kapal kontainer dan tanker minyak. FT menunjuk ke satu contoh akhir pekan lalu, ketika sebuah kapal tanker bernama Bogazici menyeberangi selat sementara mengidentifikasi diri sementara sebagai “Muslim Vsl Turkish”.
Untuk mendorong pengangkut agar membawa kargo mereka keluar dari Teluk dan meringankan pasar energi global, Presiden Donald Trump mengumumkan program reasuransi senilai $20 miliar untuk kapal tanker minyak dan lalu lintas maritim lainnya.
Analis mencatat bahwa ancaman dihancurkan oleh proyektil Iran adalah hambatan yang lebih besar daripada mendapatkan pertanggungan asuransi. Jadi Trump juga mengatakan Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker melalui selat jika diperlukan.
Tapi Wall Street tetap tidak yakin. Pada hari biasa, 60 kapal tanker—bahkan sampai 90—melewati Selat Hormuz.
Menjelang dimulainya perang akhir pekan lalu, Angkatan Laut telah memiliki dua kapal induk dan 16 kapal perang permukaan di Timur Tengah. Ini adalah kehadiran terbesar mereka di wilayah itu sejak perang Irak dimulai tahun 2003.
Menurut Center for Strategic and International Studies, armada Angkatan Laut terdiri dari 233 kapal perang yang ditugaskan dan 59 adalah kapal pendukung. Tapi sebagian besar ada di pelabuhan atau dalam perawatan dan pelatihan. Kurang dari seperlima kekuatan yang sedang beroperasi di laut. Pada akhir Februari, hanya 49 kapal Angkatan Laut yang beroperasi di laut.
Sementara itu, AS dan sekutu Teluk-nya mengalami kesuliatan menembak jatuh drone Shahed Iran, yang telah menghantam beberapa target militer besar.
“Mencoba melindungi begitu banyak kapal adalah usaha logistik yang sangat besar,” tulis Robin Brooks, seorang senior fellow di Brookings Institution, dalam catatan Substack hari Jumat. “Yang perlu dilakukan Iran hanyalah menyusupkan beberapa drone untuk meledakkan satu kapal dan kita akan beralih dari insiden yang saat ini sangat serius menjadi guncangan minyak besar-besaran. Singkatnya, saya rasa jaminan AS tentang pengawalan angkatan laut tidak terlalu kredibel. Terlalu banyak kapal tanker minyak yang perlu dilindungi.”