Jakarta (ANTARA) – Penurunan pandangan (outlook) Indonesia oleh Fitch Ratings mencerminkan tekanan ekonomi global yang meningkat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Kamis.
Fitch merevisi pandangan (outlook) kredit sovereign Indonesia menjadi negatif dari stabil, sambil menegaskan peringkat mata uang asing jangka panjangnya di BBB, sehingga status investasi grade negara tetap terjaga.
Berbicara dalam sebuah briefing program bakat semikonduktor di Jakarta, Airlangga menyatakan pemerintah akan mempelajari penilaian Fitch dan memperkuat fundamental ekonomi kunci.
Dia mencatat ketegangan yang meningkat di Timur Tengah tengah menaikkan ketidakpastian global, mendorong penilaian ulang oleh agensi pemeringkat kredit internasional.
Meski ada revisi pandangan tersebut, Airlangga menekankan Indonesia tetap berada di wilayah investasi grade, yang mencerminkan kepercayaan berkelanjutan terhadap stabilitas makroekonominya.
Dia menggambarkan laporan itu sebagai pengingat untuk memperbaiki bidang-bidang struktural, khususnya penerimaan negara, guna memperkuat ketahanan fiskal jangka menengah.
Pemerintah memprioritaskan peningkatan penerimaan pajak melalui peluncuran sistem administrasi pajak digital Coretax, yang diharapkan dapat meningkatkan rasio pajak dengan memperbaiki kepatuhan, efisiensi, dan pemantauan.
Kementerian Keuangan telah mempercepat implementasi platform tersebut sebagai bagian dari reformasi fiskal yang lebih luas, tambahnya.
Fitch juga menyebut program makanan bergizi gratis (MBG) dalam asesmen fiskalnya.
Airlangga menjabarkan inisiatif tersebut sebagai investasi jangka panjang dalam modal manusia dan hasil kesehatan. Mengutip studi Bank Dunia dan Rockefeller Foundation, dia menyatakan setiap US$1 yang diinvestasikan dalam program gizi dapat menghasilkan manfaat ekonomi hingga US$7.
Program serupa banyak diadopsi secara global, termasuk di Amerika Serikat, dan harus dipandang sebagai strategi pembangunan jangka panjang, bukan beban fiskal jangka pendek.
Airlangga juga menanggapi komentar Fitch mengenai Danantara, dana kekayaan sovereign baru Indonesia, dengan mengatakan perlu waktu bagi lembaga itu untuk membangun kredibilitas dan rekam jejak di mata investor global.
Fitch menyatakan pandangan negatif tersebut sebagian mencerminkan kekhawatiran yang meningkat atas ketidakpastian kebijakan dan perubahan tata kelola, serta memperingatkan bahwa sentralisasi pembuatan kebijakan yang lebih kuat dapat mempengaruhi prospek fiskal, sentimen investor, dan ketahanan eksternal Indonesia.
Namun, peringkat BBB mencerminkan rekam jejak stabilitas makroekonomi Indonesia, prospek pertumbuhan jangka menengah yang solid, utang pemerintah yang moderat relatif terhadap PDB, dan cadangan devisa yang memadai.
*Translator: Bayu S, Rahmad Nasution
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026*