Oleh: Jada Jones/ZDNET
Ikuti ZDNET: Tambahkan kami sebagai sumber pilihan di Google.
*
Poin Penting ZDNET:**
- Bluetooth SIG sedang mempersiapkan format audio lossless dan spatial.
- Standardisasi mengurangi persyaratan kepemilikan dan biaya lisensi.
- Format ini kecil kemungkinan muncul hingga dekade berikutnya.
*
Headphone dan speaker nirkabel sudah menjadi barang wajib dalam gudang teknologi kita. Namun, ada satu kelemahan besar dalam transmisi audio Bluetooth: pemutaran yang lossy. Bagi mereka yang menikmati audio resolusi lebih tinggi, Bluetooth belum menjadi pilihan. Meski demikian, Bluetooth Special Interest Group (SIG) tengah mengerjakan sejumlah inovasi audio nirkabel*, termasuk audio lossless nirkabel yang distandardisasi, audio spatial, dan surround sound*.
Bagaimana Bluetooth Dapat Menstandarisasi Audio Lossless?
Codec bawaan Bluetooth adalah SBC, yang memberikan kualitas audio terendah dan mengutamakan stabilitas koneksi. Codec lain seperti LDAC, AAC, dan AptX menyediakan transmisi data lebih banyak dan dapat memberikan kualitas mendekati lossless. Masalahnya, codec-codec ini tidak standar; AAC bisa tidak konsisten di Android, sementara LDAC dan AptX mengharuskan produsen membayar biaya lisensi.
Oleh karena itu, tujuan Bluetooth SIG adalah meningkatkan radio Bluetooth LE Audio-nya untuk mendukung audio hi-res dan lossless melalui throughput data tinggi, sehingga menstandarisasi teknologi tersebut di berbagai merek dan produsen.
Sebuah file audio digital dianggap lossless ketika kesetiaan suara (fidelity) terjaga dan lagu mempertahankan semua detail audio aslinya. File audio lossless lebih besar, membutuhkan tingkat transfer data yang lebih tinggi, dan menggunakan daya proses lebih besar. Maka dari itu, file audio lossless tidak kompatibel dengan standar bandwidth Bluetooth saat ini.
File audio nirkabel Anda bersifat lossy, artinya sebagian kualitas audio hilang dalam transmisi. File audio yang dialirkan (streamed) via Bluetooth harus dikompresi agar kompatibel, yang menurunkan kualitas audio. Namun, beberapa codec Bluetooth memberikan kualitas audio lebih baik daripada yang lain, berkat peningkatan pada ambang batas sample dan bit-rate.
Bagaimana Bluetooth Dapat Menstandarisasi Audio Spatial?
LE Audio juga mencakup kerangka kerja untuk pemutaran audio multi-saluran (multi-channel), yang merupakan fondasi dari audio spatial. Codec LC3 berada di pusat LE Audio dan mendukung bandwidth lebih tinggi, latensi lebih rendah, serta aliran audio independen. Hal ini memungkinkan transmisi data untuk audio 3D, penentuan waktu yang presisi, dan pencitraan spatial.
Bluetooth juga mendukung protokol LE Audio open-source untuk pelacakan kepala (head tracking), seperti yang terlihat dalam Dynamic Spatial Audio milik Google. Masih ada pekerjaan untuk meningkatkan bandwidth Bluetooth guna memastikan bahwa versi standar audio spatial dapat bersaing dengan versi kepemilikan yang lebih disukai produsen dan konsumen, seperti Dolby Atmos dan DTS:X.
Kapan Fitur-fitur Ini Dapat Diharapkan?
Bluetooth SIG mengikuti jadwal rilis dua kali setahun, artinya pembaruan spesifikasi inti dirilis dua kali dalam setahun. Meskipun Bluetooth SIG merilis pembaruan inti dengan cepat, adopsi oleh produsen biasanya lebih lambat. Contohnya, Bluetooth Auracast, teknologi berbagi audio terstandar, diperkenalkan ke pasar pada 2022. Namun, adopsi luas baru mulai mendapatkan daya tarik di pertengahan 2025, dengan lebih banyak produk diharapkan sepanjang 2026.
Meskipun perangkat yang mendukung Bluetooth mungkin dilengkapi dengan versi Bluetooth terbaru, kemampuan itu tidak berarti mendukung inovasi nirkabel terkini. Produsen perangkat dapat memutuskan untuk menghilangkan perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan, membuat perangkat Anda tanpa fitur yang diinginkan.
Namun, audio lossless dan spatial yang terstandarisasi masih merupakan proyek yang berlangsung, tanpa detail yang dipublikasikan oleh Bluetooth SIG hingga saat ini. Jadi, jangan berharap fitur-fitur ini muncul di pasar hingga pergantian dekade berikutnya.