Adakah Pengkhianat Iran di Balik Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei?

Setelah lebih dari tiga dekade memimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara AS dan Israel pada Sabtu pagi. Pertanyaan besarnya, apakah ada pengkhianat di Iran yang membantu CIA dan Mossad melacak Khamenei?

Pria yang memimpin Iran dalam dua peran sejak 1981 ini adalah tokoh penting dalam revolusi Islam tahun 1979. Dia pertama jadi presiden, lalu menjadi pemimpin tertinggi setelah wafatnya pemimpin revolusi, Rohollah Khomeini, tahun 1989.

Meski dipuji karena memimpin Iran melewati perang delapan tahun melawan Irak di era 1980-an dan menjaga ekonomi di tengah sanksi Barat, pemerintahannya juga diwarnai protes massa atas kecurangan pemilu, pelanggaran HAM, dan kesulitan ekonomi.

Baru-baru ini, protes pada Desember dan Januari, yang awalnya demo pedagang di Teheran soal inflasi hingga jadi seruan ganti rezim di seluruh negeri, ditindas keras oleh pasukan keamanan dan berujung pada pembantaian.

Khamenei tewas di awal serangan, bersama beberapa pejabat militer senior, termasuk dari korps elit Garda Revolusi Iran (IRGC).

Hingga Senin, 787 orang dikonfirmasi tewas di seluruh negeri menurut Palang Merah Iran. Setidaknya 165 pelajar perempuan dan staf sekolah tewas dalam serangan ke sebuah sekolah di kota Minab selatan pada hari Sabtu.

Apakah Ada Pengkhianat Iran dalam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei?

1. Khamenei Gelar Rapat di Pusat Kota Teheran

Serangan udara yang menargetkan Khamenei dan pejabat pertahanan utamanya terjadi Sabtu sekitar pukul 09.40 waktu setempat.

Khamenei terbunuh di sebuah lokasi di pusat Teheran yang menjadi kantor dan kediaman pemimpin tertinggi, presiden, serta Dewan Keamanan Nasional Iran.

Menurut The New York Times, yang mengutip sumber anonim, CIA telah mengumpulkan informasi tentang rapat Sabtu pagi yang dihadiri Khamenei dan petinggi militer. CIA lalu membagikan informasi ini ke Israel.

MEMBACA  Pengacara Sebut 5 Terdakwa Pembunuhan Vina Cirebon Bukan Anggota Geng Motor

CBS juga melaporkan, mengutip pejabat anonim, bahwa CIA membagikan data lokasi Khamenei kepada Israel.

Dalam pernyataannya di Truth Social setelah pembunuhan tersebut, Presiden AS Donald Trump menulis bahwa almarhum pemimpin itu "tidak bisa menghindari Sistem Intelijen dan Pelacakan Canggih kami dan, dengan kerjasama erat Israel, tidak ada yang bisa dilakukannya, atau para pemimpin lain yang tewas bersamanya".

Tidak jelas apakah AS menyadap komunikasi telepon atau digital, menggunakan citra satelit, atau memakai agen rahasia untuk mendapatkan informasi ini.

Tinggalkan komentar