Jakarta (ANTARA) – Kementerian Kehutanan secara resmi memulai program reboisasi besar-besaran di Taman Nasional Tesso Nilo, yang bertujuan memulihkan 66.704 hektar lahan terdegradasi di Sumatra tengah.
“Kita tidak bisa lagi menunda upaya restorasi. Tesso Nilo adalah habitat kritis bagi gajah sumatera dan banyak spesies lain. Kalau kita gagal bertindak sekarang, masa depan ekosistem Sumatra terancam,” kata Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam keterangan pada Selasa.
Upacara peresmian berlangsung di Riau, dimana Antoni menetapkan pemulihan kawasan konservasi tersebut sebagai prioritas nasional karena pentingnya secara ekologis.
Inisiatif ini merupakan bagian dari kebijakan lebih luas Indonesia untuk merehabilitasi hutan yang terdampak perubahan penggunaan lahan, khususnya perluasan kelapa sawit.
Pada fase pertama tahun 2026, reboisasi akan mencakup 2.574 hektar, dengan target 66.704 hektar pada 2028.
Penanaman perdana dimulai di bekas perkebunan kelapa sawit seluas sekitar 400 hektar, menggunakan 2.000 bibit pohon hutan.
Antoni menekankan bahwa program ini didasarkan pada penelitian ilmiah yang dilakukan bersama universitas dan lembaga penelitian.
“Restorasi ini dibangun di atas fondasi ilmiah yang kuat. Kami memastikan spesies yang ditanam menyediakan makanan dan tempat tinggal bagi satwa, khususnya gajah sumatera,” jelasnya.
Pemerintah juga memperkuat tata kelola, termasuk penegakan hukum, keadilan restoratif, relokasi masyarakat, dan perbaikan status lahan untuk mengamankan kawasan konservasi yang bersih dan jelas.
Antoni menekankan bahwa keberhasilan bergantung pada kolaborasi antar pemerintah, sektor, dan masyarakat.
“Reboisasi bukan cuma tentang menanam pohon. Ini adalah komitmen bersama untuk mengembalikan keseimbangan alam dan melestarikan hutan yang berkelanjutan untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Penerjemah: Prisca Triferna, Resinta Sulistiyandari
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Hak Cipta © ANTARA 2026