Senin, 2 Maret 2026 – 23:46 WIB
Madiun, VIVA – Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas menyatakan bahwa penguatan ekonomi syariah yang inklusif dan adil merupakan kunci untuk mendorong kesejahteraan masyarakat mulai dari tingkat akar rumput.
Pernyataan itu ditegaskan Ibas saat menghadiri audiens bertema Ekonomi Syariah Yang Inklusif, Berkeadilan, untuk Indonesia Maju dan Sejahtera, pada Minggu, 1 Maret 2026.
Dia menjelaskan bahwa ekonomi syariah tidak hanya membahas sistem keuangan berdasarkan prinsip Islam, tetapi juga menjadi alat untuk pemerataan ekonomi yang bisa memperkuat masyarakat kecil dan pelaku usaha di daerah.
“Ekonomi syariah harus bisa memberdayakan masyarakat dari bawah. Kalau UMKM dan ekonomi rakyat kuat, maka keluarga kuat, daerah kuat, dan akhirnya bangsa kita juga makin kuat,” ujar Ibas dalam keterangannya, Senin, 2 Maret 2026.
Ia memaparkan bahwa tantangan utama pengembangan ekonomi syariah saat ini masih terkait dengan rendahnya pemahaman masyarakat tentang keuangan, keterbatasan akses pembiayaan, serta integrasi yang belum optimal antara dunia pendidikan, lembaga keuangan, dan pelaku usaha.
Oleh karena itu, kolaborasi antar berbagai sektor menjadi faktor penting supaya ekonomi syariah betul-betul inklusif.
Dalam kesempatan itu, Ibas juga menekankan pentingnya kemudahan akses modal bagi UMKM melalui skema pembiayaan syariah atau Kredit Usaha Rakyat.
Dia menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong kebijakan pembiayaan dengan bunga rendah serta prosedur yang lebih sederhana agar pelaku usaha kecil bisa berkembang secara berkelanjutan.
“Akses permodalan harus mudah, tidak dipersulit, tapi tetap produktif dan bertanggung jawab. Pembiyaan yang tepat akan membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi lokal,” jelasnya.
Menanggapi berbagai aspirasi, dia menekankan pentingnya meningkatkan literasi keuangan, pendampingan usaha, serta pembentukan komunitas pendamping bagi masyarakat yang ingin mengakses pembiayaan dari perbankan.
Ia juga mendorong perguruan tinggi dan lembaga pendidikan untuk tidak hanya menghasilkan lulusan akademis, tetapi juga generasi yang siap menciptakan lapangan kerja melalui kewirausahaan berbasis nilai syariah.
“Kampus, dosen, dan pelaku usaha harus menjadi motor edukasi ekonomi syariah. Anak muda jangan hanya cari pekerjaan, tetapi juga berani menciptakan usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.