Aceh Timur, Aceh (ANTARA) – Banjir dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra pada akhir November 2025 tidak hanya meninggalkan jejak kehancuran; bencana itu juga menyisakan tugas bagi para penyintas untuk menyusun kembali kehidupan mereka, berpegang pada harapan akan masa depan yang lebih baik.
Bencana yang menelan lebih dari 1.200 jiwa itu terus memberikan dampak yang luas. Sektor pendidikan terkena dampak sangat keras, dengan setidaknya 4.800 sekolah terdampak, memaksa banyak siswa belajar di fasilitas sementara yang darurat.
"Pak, besok kita belajar lagi, kan?"
Pertanyaan sederhana dari anak-anak korban banjir dan tanah longsor di Aceh Timur itu cukup menyentuh hati para relawan, dan akhirnya mengubah seluruh rencana mereka.
Saat itu, relawan dari Yayasan Atjeh Connection menjalankan program sekolah darurat keliling di berbagai daerah terdampak, termasuk di Dusun Ranto Panyang Rubek, Desa Sijudo, Aceh Timur.
Sesi mengajar ini awalnya direncanakan hanya sekali di setiap lokasi, bersamaan dengan pemeriksaan kesehatan dan pembagian obat.
Namun, permintaan anak-anak itu menggugah para relawan untuk menjadikan inisiatif ini sebagai kegiatan rutin, semua demi melindungi mimpi generasi penerus.
Banjir bandang November mungkin telah meratakan ruang kelas SD Negeri Ranto Panyang Rubek, tapi tidak memadamkan semangat belajar para siswanya.
Menggantikan gedung sekolah yang hancur, sebuah tenda putih kini berdiri untuk menampung kelas.
Di dalamnya, tidak ada dinding pemisah antar kelas dan tidak ada kursi untuk diduduki. Garis-garis sederhana dengan spidol hitam di papan tulis bersama adalah satu-satunya pembeda antara satu pelajaran dengan pelajaran berikutnya.
Para siswa duduk di atas terpal hitam di bawah naungan tenda putih, menggunakan meja kecil sumbangan para relawan.
Meski begitu, semua keterbatasan itu tak mampu mengurangi mimpi-mimpi besar para penyintas cilik ini.
Mimpi dan Harapan
"Aku! Aku! Aku ingin jadi presiden!" seru seorang gadis kecil bernama Nisa, mengacungkan tangan saat tim ANTARA menanyakan cita-cita mereka di masa depan.
"Loh, bukannya tadi kamu bilang mau jadi polisi?" sahut anak lainnya. Nisa dengan cepat menjelaskan bahwa dia berencana jadi presiden atau polisi, atau bahkan keduanya jika memungkinkan.
Sementara Nisa bingung antara jadi presiden atau polisi, anak-anak lain meneriakkan cita-cita menjadi dokter, astronot, guru, tentara, dan pengusaha.
Beberapa bahkan bercita-cita jadi tauke sawit—istilah lokal untuk pemilik kebun kelapa sawit—mungkin karena desa mereka dikelilingi perkebunan dan sebagian besar warga Ranto Panyang Rubek mencari nafkah dari industri kelapa sawit.
Celoteh hidup tentang mimpi-mimpi mereka, yang bergema di atas lumpur sisa banjir, menjadi bukti ketangguhan anak-anak ini. Sekolah mereka mungkin telah hanyut terbawa arus, tetapi mereka tetap berdiri tegak mengejar tujuan.
Semangat tak kenal menyerah dari para siswa inilah yang menjadi penyemangat bagi guru-guru di SD Negeri Ranto Panyang Rubek, termasuk Rahmat Syah.
Dia mencatat bahwa meski harus belajar di tenda darurat, para siswa tetap antusias, antara lain karena berbagai bentuk bantuan yang diberikan, termasuk peralatan sekolah.
Untuk menjaga api semangat siswa tetap menyala, para guru—yang juga adalah penyintas—rela menempuh rute ekstrem dan berlumpur untuk mencapai sekolah darurat.
Jalannya merupakan pendakian curam dan turunan berliku yang melelahkan. Saat hujan turun, jalanan basah membuat kendaraan terus berisiko selip atau terpleset.
Kelas darurat dimulai pukul 08.00 hingga 12.00 dari Senin hingga Sabtu, melibatkan 10 guru yang mengajar 34 siswa SD Negeri Ranto Panyang Rubek. Namun, kegiatan belajar mengajar diliburkan selama bulan Ramadan.
Mata pelajaran yang diberikan antara lain IPA dan IPS, Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Agama Islam, dan Pendidikan Jasmani.
Kebutuhan Dukungan
Kelas darurat SD Negeri Ranto Panyang Rubek masih membutuhkan dukungan sarana dan prasarana. Jika membangun kembali sekolah dalam waktu singkat belum memungkinkan, sekolah setidaknya membutuhkan papan tulis dan buku pelajaran, menurut Rahmat.
Hilangnya buku pelajaran—terhanyut dalam banjir akhir November—membuat para guru kesulitan mengajar.
Selain itu, sekolah darurat membutuhkan tambahan papan tulis; saat ini, sekolah darurat Ranto Panyang Rubek hanya memiliki satu. Mereka juga memerlukan penyekat ruang kelas agar pelajaran bisa berjalan lebih efektif.
Menanggapi kebutuhan penyintas bencana di seluruh Sumatra, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, telah mengusulkan anggaran tambahan sebesar Rp2,4 triliun untuk pemulihan pascabencana di provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Anggaran tambahan akan digunakan untuk bantuan pascabencana, termasuk revitalisasi sekolah, tunjangan khusus guru, dan distribusi peralatan yang dibiayai pemerintah.
Untuk mempercepat pemulihan proses belajar, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menyusun serangkaian rencana kerja dalam dua minggu terakhir Februari. Ini termasuk rapat koordinasi dengan dinas pendidikan di tiga provinsi terdampak untuk mempercepat rekonstruksi pascabencana.
Selain itu, kementerian akan melanjutkan penandatanganan perjanjian kerja sama untuk revitalisasi sekolah, menargetkan total 1.204 sekolah.
Untuk tunjangan khusus guru, kementerian akan melanjutkan proses verifikasi dan pembukaan rekening bagi 13.000 guru, dengan nilai total tunjangan Rp83,3 miliar.
Kementerian juga akan melanjutkan distribusi bantuan pemerintah berupa peralatan—termasuk alat TIK, peralatan lab, peralatan olahraga, kit kebersihan, dan materi permainan edukatif—senilai total Rp60 miliar.
Berbagai upaya ini menunjukkan bagaimana relawan, guru, dan pemerintah bekerja sama memulihkan pendidikan di daerah terdampak banjir dan longsor, menjaga harapan akan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak terdampak.
Berita terkait: BNPB kerahkan 220 mahasiswa verifikasi kerusakan banjir dan longsor di Aceh
Berita terkait: Indonesia kerahkan 1.054 taruna IPDN ke desa terdampak bencana di Aceh
Berita terkait: Aceh Tamiang: Banjir paksa siswa dari 67 sekolah tinggal di rumah
Penerjemah: Putu Indah, Raka Adji
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026