Setelah awal masa jabatan kedua Trump, kaitan antara kapitalisme, supremasi kulit putih, dan dominasi imperial semakin nyata. Hal ini tercermin dari penggerebekan ICE yang berfungsi bagai patroli perbudakan modern, operasi kriminal global seperti penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores, serta bantuan Amerika Serikat kepada genosida Israel di Gaza sebagai eksperimen bipartisan AS dan korporasi transnasional.
Kesadaran yang tumbuh bahwa masyarakat Global Selatan, bersama dengan Orang Kulit Hitam, Pribumi, dan Orang Kulit Berwarna (BIPOC) lainnya di dalam inti imperial, menghadapi musuh bersama telah memicu gerakan revolusioner antikolonial yang berkomitmen pada transformasi radikal.
Kemudian, perilisian berkas Epstein membanjiri wacana publik.
Jeffrey Epstein adalah seorang finansier yang dihukum karena kejahatan seksual melibatkan anak di bawah umur. Setelah dakwaan federal baru pada 2019, ia meninggal di penjara (secara resmi dinyatakan bunuh diri). Kasus ini memicu kemarahan publik mengenai impunitas kelas penguasa, fokus media pada hubungan tak sedap antara kelas politk dan korporat, serta segudang narasi konspirasi tentang penyelubungan fakta.
Kasus Epstein menjadi jauh lebih dari sekadar proses pidana; ia merefleksikan paparan simbolis atas impunitas dan kekuatan terpusat kelas penguasa serta sebuah spektakel korupsi dalam sebuah imperium yang berada dalam krisis dan kemunduran mendalam.
Kasus Epstein menyingkap kriminalitas kelas penguasa sekaligus menggusur akuntabilitas struktural.
Penting dicatat, “spektakel” bukan berarti “palsu”; ia berarti pengorganisasian politik melalui drama simbolis yang menggantikan analisis politik struktural. Dengan spektakel, kontradiksi sosial (kesenjangan, krisis sosial, dan ketidakstabilan) didramatisir alih-alih ditantang secara struktural.
Fiksasi media dan publik yang berkepanjangan pada berkas Epstein, terutama saat perilisiannya berlangsung dengan sedikit akuntabilitas dan narasi berlanjut yang mendiskreditkan dan mengisolasi penyintas, lebih berfungsi sebagai pengalihan politik ketimbang akuntabilitas atas ketidakadilan sistemik: Rasisme, kapitalisme, pertumbuhan negara polisi, dan impunitas internasional yang berlanjut.
Yang lebih mencemaskan lagi, hal ini menandai langkah lain dalam erosi demokrasi dan konsolidasi fasisme ekspansionis yang digerakkan oleh perang.
Spektakel Fasis
Dalam karya Walter Benjamin, Hannah Arendt, Guy Debord, Umberto Eco, dan lainnya, spektakel fasis melibatkan mobilisasi massa anti-intelektual dan digerakkan emosi seputar biner moral sederhana (rakyat murni melawan kelas penguasa korup), di mana tindakan diagungkan sementara pemikiran dicemooh; penggantian proses institusional dengan pencitraan dan drama simbolis; serta narasi mitis tentang pembusukan dan kelahiran kembali nasional. Teoretikus politik Roger Griffin menyebut kelahiran kembali ini “ultranasionalisme palingenik”, yakni kehancuran sebagai prasyarat untuk kebangkitan.
Fungsi spektakel adalah untuk menggulingkan analisis dan perlawanan berbasis prinsip terhadap penindasan dengan emosi – kemarahan, rasa jijik, keputusasaan, dan rasa tak berdaya.
Teori konspirasi adalah mesin naratif dari spektakel. Teori-teori ini mengubah krisis sistemik dan ketidakstabilan sosial menjadi kisah sederhana yang menggugah emosi tentang pelanggaran tabu sosial, berpusat pada musuh tersembunyi dan tak tersentuh, meletakkan dasar di mana solusi otoriter dipasarkan sebagai hal yang diperlukan dan bahkan menebus.
Saat kekerasan struktural menjadi terlihat, namun akuntabilitas tetap absen, kemarahan publik seringkali mencari penjelasan melalui narasi personal dan konspiratif alih-alih analisis sistemik.
Di tengah ketidakpercayaan dan korupsi yang tumbuh di media arus utama serta kebangkitan ekosistem media sosial alternatif dan digerakkan warga, teori konspirasi seputar kasus Epstein berkembang subur: Klaim tentang kabal global rahasia yang terlibat dalam kriminalitas seksual amoral, fantasi ritualistik melibatkan pengorbanan manusia, kanibalisme, dan struktur simbolis kuno serta stereotip rasis dan antisemit eksplisit tentang penguasa tersembunyi, antara lain.
Teori-teori semacam ini, apakah sepenuhnya benar, sebagian benar, atau salah, bukanlah hal baru; gerakan fasis secara historis dimobilisasi di sekitar gagasan bahwa bangsa sedang secara rahasia dirusak oleh kelas penguasa yang merosot, dengan pembersihan radikal diperlukan untuk kembali ke jalan yang benar.
Narasi-narasi ini tidak mengungkap sistem yang korup; mereka mengaburkan dan memistifikasinya. Dengan mensensasionalisasikan korupsi menjadi mitos dan menyediakan target eksplisit, meski tak tersentuh, untuk kemarahan publik, mereka menggusur analisis material dan antikolonial yang rigoros terhadap eksploitasi struktural, keserakahan, dan kekerasan negara dengan kerinduan kolektif yang otoriter akan seorang *strongman* dan penindasan perbedaan pendapat untuk memulihkan ketertiban.
Kriminalitas Epstein dan tokoh-tokoh berkuasa yang mengorbitinya serta berpartisipasi dalam pelecehannya telah menjadi simbol kelas penguasa yang merosot dengan nama dan wajah yang dapat diidentifikasi, target yang bisa diekspos dan dipenjara, dengan demikian membersihkan ruang naratif bagi seorang *white knight* heroik untuk datang dengan janji-janji penyelamatan.
Sebagaimana Hannah Arendt peringatkan, pemikiran konspirasi berkembang ketika kepercayaan pada institusi runtuh. Skandal Epstein mengintensifkan perasaan bahwa kelas penguasa beroperasi di atas hukum dan bahwa sistem peradilan melindungi kawannya sendiri, kondisi yang ideal bagi gerakan otoriter untuk dieksploitasi dengan bersikeras bahwa sistem telah dimanipulasi secara tak terselamatkan dan bahwa hanya pemimpin kuat yang dapat meruntuhkannya.
Dengan demikian, spektakel skandal Epstein dapat menyerap dan memanipulasi kemarahan publik, mengalihkannya dari akuntabilitas struktural yang diperlukan dalam bentuk dekolonisasi dan redistribusi kekayaan, yang pada akhirnya memperkuat sistem yang justru tampaknya ditantangnya.
Dengan melakukannya, ia mempromosikan estetika politik – spektakel – ketimbang kritik yang berdasar atas kapitalisme dan kekuatan imperial. Lebih jauh, ia berfungsi mengalihkan perhatian dari kegagalan yang pada akhirnya mendorong penindasan dan perang. Menurut Federico Caprotti, berbagai bentuk spektakel fasis menghasilkan sebuah “kolase” yang sekaligus mengekspresikan dan mengaburkan ideologi sinkretik rezim.
Spektakel Agung: Perang
Ketika politik menjadi teater alih-alih kemajuan kolektif yang bergantung pada akuntabilitas, transformasi, atau reformasi, krisis menjadi drama emosional, drama menuntut pelepasan (resolusi internal) atau eskalasi, dan eskalasi pada akhirnya menemukan ekspresinya dalam perang yang dieksternalisasi, di mana bangsa mempertontonkan spektakel agung persatuan dan pengorbanan di panggung sebesar mungkin.
Perang bertindak sebagai kekuatan stabilisasi ketika kontradiksi internal tidak dapat diselesaikan melalui mobilisasi kolektif. Dengan seragam dan pawai-nya, perang menyalurkan ketidakpuasan dengan menyatukan populasi yang terfragmentasi dan murka melawan musuh yang dieksternalisasi, mengubah kemarahan atas kekerasan, penindasan, dan keserakahan kelas penguasa menjadi kesatuan buatan, kepahlawanan, dan makna melalui kekerasan terhadap “yang lain”.
Dinamika ini, yang digariskan oleh Benjamin beberapa dekade lalu, terasa sangat familiar dan mengkhawatirkan pada momen sekarang, termasuk dalam spektakel seputar skandal Epstein.
Dalam konteks ini, konflik eksternal berfungsi bukan hanya sebagai kebijakan tetapi sebagai konsolidasi emosional, mengarahkan kekecewaan internal menuju tujuan nasional kolektif.
Kekuatan fasis mengerahkan spektakel semacam itu untuk mengalihkan perhatian dan memobilisasi, dan sedang melakukannya saat ini; mempercepat pembongkaran sisa-sisa demokrasi AS dan tatanan internasional pascaperang, untuk digantikan oleh sistem yang diperintah oleh paksa dan kepentingan diri yang telanjang.
Politik spektakel tidak memerlukan kesetiaan pada pemimpin tertentu tetapi pada narasi emosional yang mereka wakili, menjadikan figur individu pada akhirnya dapat dikorbankan.
Dalam logika ini, bahkan Trump dapat dibuang, dikorbankan untuk membuka jalan bagi *strongman* pria kulit putih “lebih murni” (Vance? Pence? Carlson?) yang berjanji membersihkan kelas penguasa dan dengan perluasannya “pengendali” asingnya (musuh seperti Rusia, Tiongkok, dan Iran atau bahkan sekutu seperti Israel dan Eropa, yang terakhir sudah diancam oleh Trump), dari unsur-unsur tak sedapnya, terutama jika beban Trump dengan Epstein terbukti tak terselamatkan secara politis.
Sebaliknya, pembebasan dan rekonsiliasi serta akhir dari penindasan kapitalis, dengan kekerasan genosidal dan kehancuran planet yang menyertainya, memerlukan kerangka kerja struktural yang teguh selaras dengan prinsip-prinsip kiri, antirasis, dan antikolonial yang lebih luas. Kerangka kerja semacam itu memprioritaskan transformasi sistemik di atas spektakel. Dalam pandangan ini, skandal Epstein tidak diperlakukan sebagai penyakit itu sendiri, tetapi sebagai gejala korupsi inheren kapitalisme.
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan sikap editorial Al Jazeera.