Kisah Mualaf Rapper Amerika yang Mirip Umar bin Khattab, Dulunya Membenci Islam karena Alasan Ini

Jakarta, VIVA – Perjalanan spiritual tiap orang sering membawa cerita yang gak disangka-sangka. Itu juga yang dialami rapper dari Amerika Serikat, Mutah Beale. Pria yang dulu dikenal dengan nama panggung Napoleon ini punya latar belakang kelam sebelum akhirnya memutuskan masuk Islam pada tahun 2001.

Transformasinya bahkan sering dibandingin sama kisah Umar bin Khattab, yang awalnya menentang Islam sebelum jadi salah satu tokoh penting dalam sejarah peradaban Muslim. Yuk scroll lanjut!

Kisah ini diungkap lagi dalam tayangan YouTube berjudul ‘Kisah Mualaf Mirip Umar Bin Khattab, Mutah ‘Napoleon’ Beale’. Dalam ceritanya, Mutah menceritakan bagaimana kebenciannya terhadap Islam justru berubah menjadi titik balik hidupnya.

Sebelum kenal Islam, kehidupannya dekat dengan dunia jalanan. Dia tumbuh di lingkungan yang keras, terlibat dalam aktivitas geng sampai bisnis narkoba.

Trauma masa kecil juga membentuk pandangannya. Kedua orang tuanya meninggal di depan matanya saat dia masih berumur tiga tahun, sebuah pengalaman pahit yang menumbuhkan kemarahan yang dalam, termasuk sikap Islamofobia.

Pada suatu waktu, dia datang ke masjid dengan niat yang jauh dari baik. Dia bahkan bawa senjata dan mengajak sekitar 20 temannya.

"Aku panggil teman-temanku, kami pergi kesana sekitar 20 orang dan aku jalan ke Masjid dan itu membuatku terkejut. Karena aku melihat hal-hal di dalam masjid yang tidak aku lihat di industri hiburan dan di komunitasku," kata Mutah Beale, dikutip Rabu, 25 Februari 2026.

Apa yang dia lihat di dalam masjid justru menghancurkan prasangkanya. Dia melihat kebersamaan lintas ras yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

"Aku melihat persaudaraan yang aku tidak percaya itu ada. Ketika aku masuk ke masjid, isinya orang Amerika yang didominasi orang kulit hitam, pria Afrika-Amerika. Tetapi apa yang kulihat kenapa ada orang kulit putih Amerika juga?," lanjutnya.

MEMBACA  Fase Bulan Hari Ini: Penampakan Bulan pada 27 Oktober 2025

Keberagaman itu makin terasa ketika dia melihat jamaah dari berbagai latar belakang—Arab-Amerika, Pakistan-Amerika, sampai warga kulit putih dan kulit hitam—berbaur tanpa ada pemisah.

"Mereka semua adalah satu tubuh dan beda halnya dengan di Gereja Amerika. Jika Anda pergi ke Gereja ini maka semuanya kulit hitam, ada juga Gereja untuk kulit putih. Gereja orang Korea, Asia. Anda tidak pernah benar-benar melihat keragaman di dalam Gereja di Amerika," ungkap pria yang sekarang berusia 46 tahun itu.

Halaman Selanjutnya

Puncak pengalaman batinnnya terjadi saat waktu salat tiba. Dia diajak untuk ikut serta, meski belum paham tata caranya.

Tinggalkan komentar