Warga Khawatir, Guadalajara yang Rentan Kekerasan Jadi Tuan Rumah Pertandingan Piala Dunia

Dengarkan artikel ini | 4 menit

Kota Guadalajara dan beberapa wilayah lain di Meksiko dilanda gejolak kekerasan kartel akhir pekan lalu, menyusul tewasnya seorang bos narkoba terkenal dalam serangan militer.

Kini, Guadalajara memandang bulan Juni dan Juli mendatang dengan cemas, menyongsong penyelenggaraan Piala Dunia FIFA dimana kota ini akan menjadi tuan rumah bagi empat pertandingan.

Rekomendasi Cerita

[daftar 4 item]

Pemerintah beralih pada teknologi untuk mengamankan gelaran olahraga utama dunia ini, mengingat Meksiko menjadi tuan rumah bersama dengan Amerika Serikat dan Kanada.

Drone, peralatan anti-drone, dan sistem pengawasan video berbasis kecerdasan buatan merupakan sebagian perangkat yang akan diterapkan pemerintah negara bagian Jalisco—dengan Guadalajara sebagai ibu kotanya—untuk menjamin keamanan.

Persiapan ini berlangsung di tengah epidemi penghilangan orang dan penemuan kuburan liar di Jalisco, dengan jumlah warga Guadalajara yang hilang akibat kekerasan brutal terkait narkoba lebih tinggi daripada kota mana pun di Meksiko.

Pada hari Minggu, Nemesio “El Mencho” Oseguera, pemimpin Kartel Generasi Baru Jalisco dan salah satu buronan paling dicari di Meksiko dan AS, tewas dalam operasi militer sekitar 130 km dari Guadalajara.

Kartel tersebut membalas dengan amuk, memicu baku tembak dengan pasukan keamanan yang menewaskan sedikitnya 57 orang di seluruh Meksiko—termasuk prajurit dan anggota kartel—serta pemblokiran jalan raya di 20 negara bagian.

Setelah pembakaran bus dan bisnis, otoritas menunda pertandingan sepak bola di Guadalajara dan negara bagian Queretaro.

Badan pengatur sepak bola dunia, FIFA, menolak berkomentar mengenai kekerasan di salah satu kota tuan rumah piala tersebut.

Pada hari Senin, jalan-jalan di Guadalajara masih hampir sepi, dengan bisnis yang tutup dan kelas diliburkan di Jalisco. Sekolah-sekolah juga ditutup di selusin negara bagian lainnya.

MEMBACA  Jawa Tengah, Dengan Izin Allah, Akan Menjadi Kandang Banteng yang Teguh.

Beberapa hari sebelumnya, pejabat keamanan negara bagian melaporkan bahwa Guadalajara dalam kondisi “damai”.

Situasi yang Menggelikan

Jalisco termasuk negara bagian dengan jumlah orang hilang tertinggi di Meksiko, dengan 12.575 laporan menurut statistik resmi. Lebih dari separuh kasus berasal dari wilayah metropolitan Guadalajara. Para ahli menyatakan penghilangan ini didorong oleh rekrutmen paksa untuk kelompok kriminal.

Para keluarga korban penghilangan telah menggali ratusan kuburan liar dalam upaya mencari orang yang mereka cintai.

Sejumlah aktivis menyatakan keprihatinan atas penyelenggaraan Piala Dunia di Guadalajara.

“Saya rasa tidak ada yang patut dirayakan. Ini seperti situasi yang cukup menggelikan bagi saya,” ungkap Carmen Ponce (26), yang saudara laki-lakinya, Victor Hugo, hilang pada 2020, kepada kantor berita AFP.

“Negara ini merayakan gol, sementara kami di sini terus mencari,” katanya di sebuah lahan tempat ia dan ibunya menemukan kantong plastik berisi sisa lima orang yang dikuburkan September lalu.

Masyarakat juga merasa gugup menyongsong pertandingan Piala Dunia di kota yang telah mengalami begitu banyak penderitaan.

Juan Carlos Contreras, yang mengawasi jaringan kamera keamanan kota, mengatakan kepada AFP bahwa mungkin akan ada protes dari warga yang marah kepada pemerintah dalam usaha mencari orang terdekat mereka yang hilang.

Missael Robles (31), seorang pemandu wisata dari Guadalajara, bercerita kepada AFP bahwa ia telah membatalkan hingga 25 tur sejak kekerasan meletus hari Minggu.

“Pukulan ekonominya sangat besar,” tambahnya.

Otoritas telah menemukan properti yang digunakan kelompok kriminal hanya beberapa kilometer dari Stadion Akron, yang dijadwalkan menggelar pertandingan Piala Dunia.

Kurang dari 2 km dari kompleks olahraga tersebut, petugas kejaksaan negara bagian menggerebek sebuah rumah dan menangkap dua orang atas tuduhan penculikan.

MEMBACA  Mantan Presiden Mengatakan Warga Indonesia Menginginkan Demokrasi Dilindungi

AFP melihat rantai yang melilit jeruji besi di bangunan terbengkalai itu, dengan Stadion Akron terlihat di kejauhan.

Jose Raul Servin, yang telah mencari putranya, Raul, sejak ia menghilang pada April 2018, khawatir turis yang datang untuk Piala Dunia dapat menjadi mangsa bagi geng kriminal.

“Kami tidak ingin ada kejadian apa-apa,” ujarnya, “seperti yang telah menimpa kami.”

Servin mengenang dengan rindu bahwa putranya adalah seorang penggemar sepak bola.

“Jika ia di sini, pasti akan senang dengan Piala Dunia ini,” katanya.

Tinggalkan komentar