Harga Perak Tembus Rekor: Layakkah Dijadikan Investasi Jangka Panjang?

Sabtu, 21 Februari 2026 – 15:15 WIB

Jakarta, VIVA – Perak kembali jadi sorotan investor setelah harganya naik signifikan dalam dua tahun terakhir. Dari tahun 2025 sampai awal 2026, harga logam mulia ini melonjak tajam dan bahkan memecahkan rekor baru.

Pada Januari 2026, harga perak pernah tembus US$100 per ounce. Itu setara dengan Rp1,68 juta per ons, kalau pakai kurs Rp16.800 per dolar AS.

Tapi, setelah sentuh level itu, harga perak turun lagi ke kisaran US$85 per ounce atau sekitar Rp1,42 juta per ons. Pergerakan yang naik-turun banget ini bikin orang bertanya, apakah investasi perak masih layak untuk masa depan?

Para ahli bilang, nggak ada jawaban pasti soal ini. Tapi, risikonya tetap harus dipertimbangkan sebelum masukkan perak ke portofolio investasi.

Matthew Argyle, pendiri Encore Retirement Planning, ngingetin kalo perak bukan aset yang ngasih penghasilan rutin. “Perak adalah aset yang nggak menghasilkan pendapatan,” katanya, seperti dikutip dari CBS News, Sabtu, 21 Februari 2026.

“Bedasama dengan saham dan obligasi, perak nggak ngasih keuntungan, dividen, atau bunga. Perak nggak menghasilkan arus kas,” jelasnya.

Artinya, untung dari perak sepenuhnya tergantung sama kenaikan harganya. Sementara itu, Evan Mills, analis penasihat keuangan di Scholar Advising, bilang investasi di perak lebih ke diversifikasi yang bersifat spekulatif daripada investasi yang benar-benar menghasilkan.

“Banyak orang cari arus kas yang konsisten dan bisa diprediksi, dan perak nggak nyediain itu,” ungkapnya.

Selain itu, volatilitas harga jadi tantangan besar. Hiren Chandaria, Managing Director di Monetary Metals, jelasin kalo perak bisa bawa risiko signifikan karena harganya mudah berubah dan cenderung ikut pasar yang lebih luas saat ada tekanan.

MEMBACA  Indonesia dan Prancis Tandatangani Perjanjian Kerja Sama Bidang Kebudayaan

“Perak pernah mengalami koreksi tajam dalam waktu singkat, termasuk turun lebih dari 10% dalam periode yang relatif cepat.”

Sebagai contoh, di pertengahan 2024 harga perak rata-rata masih di bawah US$30 per ounce atau sekitar Rp504.000 per ons. Kurang dari dua tahun kemudian, harganya tembus US$100 atau Rp1,68 juta per ons sebelum turun lagi.

“Logam bisa sangat volatil,” kata Chris Berkel, penasihat investasi dan Presiden AXIS Financial. “Di awal 1980-an, perak pernah capai puncak US$50 sebelum jatuh ke bawah US$5. Itu penurunan sampai 90 persen.”

Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah likuiditas, terutama untuk perak fisik. Soalnya, bentuk perak yang kamu punya sangat pengaruhin harganya waktu dijual.

Tinggalkan komentar