Jumat, 20 Februari 2026 – 21:20 WIB
VIVA – Puluhan ribu jemaah Muslim melaksanakan shalat Jumat pertama Ramadhan di komplek Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, dengan pengawasan ketat dari aparat Israel. Diantara mereka ada warga Palestina yang datang dari Tepi Barat ke Kota Lama.
Ibadah ini adalah yang pertama sejak perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas berlaku bulan Oktober lalu. Bagi banyak warga Palestina, ini kesempatan pertama sejak Ramadhan tahun lalu untuk bisa beribadah di Al-Aqsa.
Bukan Sekadar Lapar, Ini ‘Ujian Terberat’ Puasa yang Sering Tak Disadari
Israel membatasi ketat jumlah jemaah Palestina dari Tepi Barat yang boleh masuk Yerusalem Timur untuk shalat Jumat pertama Ramadhan ini. Mereka menerapkan aturan ketat dan meminta izin keamanan dulu.
Ustaz Khalid Basalamah: Nabi Tidak Anjurkan Pelihara Kucing, Beda dengan Ayam
Hanya 10.000 warga Palestina dari Tepi Barat yang diizinkan masuk pada Jumat itu. Izin hanya untuk pria di atas 55 tahun, wanita di atas 50 tahun, dan anak-anak sampai umur 12 tahun. Pembatasan seperti ini sudah biasa dilakukan dengan alasan keamanan.
Tempat yang disebut Bukit Bait Suci oleh umat Yahudi dan Haram al-Sharif oleh umat Islam ini adalah lokasi paling suci dalam agama Yahudi dan ketiga tersuci dalam Islam. Kompleks ini berada di area Yerusalem yang sering jadi pusat ketegangan konflik Israel-Palestina.
Olahraga Sebelum Buka Puasa Efektif Bakar Lemak? Ini Penjelasan Dokter
Polisi Israel bilang lebih dari 3.000 personel dikerahkan di seluruh Yerusalem. Mereka bilang tujuannya untuk menjaga keamanan dan bisa bertindak cepat jika ada keadaan darurat.
Otoritas keagamaan Yordania, Jerusalem Islamic Waqf, yang mengurus Al-Aqsa, memperkirakan sekitar 80.000 orang hadir shalat Jumat itu. Biasanya, jemaah shalat Jumat di Ramadhan di sana bisa mencapai 200.000 orang.
Beberapa warga Palestina menyesalkan pembatasan ini. “Kami butuh lebih banyak orang dari ini,” kata Ezaldeen Mustafah, warga Tepi Barat yang hadir.
Ramadhan di Gaza
Di Jalur Gaza, suasana Ramadhan dikatakan jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak warga masih berduka dan menghadapi kehancuran akibat konflik yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun.
Halaman Selanjutnya
“Dulu ada banyak masjid, tapi sekarang hampir semuanya sudah dibom,” ujar Ramiz Firwana, warga Gaza yang ikut khutbah dan shalat Jumat di halaman sekolah.