Washington, AS (ANTARA) – Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa 8.000 personel Tentara Nasional Indonesia akan dikerahkan ke Gaza dalam waktu dua bulan untuk bergabung dengan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) menyusul KTT perdana Dewan Perdamaian Gaza di Washington.
Pasukan akan bertugas bersama Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF), yang terdiri dari anggota negara-negara peserta Dewan Perdamaian Gaza (BoP).
"Mungkin dalam waktu satu hingga dua bulan," kata Presiden kepada wartawan di Washington, Kamis sore.
Prabowo mencatat bahwa tim pendahuluan mungkin akan dikirim ke Gaza terlebih dahulu untuk memetakan area dan melakukan analisis risiko.
Dia juga menegaskan kembali bahwa Indonesia dipercaya dengan peran kepemimpinan.
"Mereka meminta kita untuk menjadi wakil komandan," ujar Presiden, menekankan bahwa pemerintah akan menunjuk perwira terbaik untuk posisi tersebut.
Selama KTT, Presiden Prabowo menegaskan kembali kesiapan Indonesia untuk berkontribusi hingga 8.000 pasukan, atau lebih jika diperlukan.
"Gencatan senjata adalah pencapaian nyata. Kami menghargai ini dan untuk alasan itu, kami menegaskan komitmen untuk berkontribusi sejumlah besar pasukan kami," ujarnya.
Sementara itu, Komandan ISF Mayor Jenderal Jasper Jeffers dari Angkatan Bersenjata AS memperkirakan 20.000 tentara dan 12.000 polisi akan bergabung dalam misi untuk memulihkan ketertiban di Gaza pasca-perang.
Dia mengidentifikasi Rafah, yang terletak di Gaza selatan dan berbatasan dengan Mesir, sebagai tujuan awal ISF.
Negara peserta lain termasuk Kazakhstan, Albania, Maroko, dan Kosovo. Selain itu, Mesir dan Maroko akan mengerahkan pasukan polisi untuk memberikan pelatihan khusus.
KTT yang dipimpin Presiden Trump berlangsung sekitar tiga jam saat negara-negara anggota merencanakan pemulihan dan rekonstruksi Jalur Gaza.
Berita terkait: RI tegaskan dukungan untuk solusi dua negara sebagai jalan perdamaian abadi
Berita terkait: Presiden Prabowo janjikan 8.000 pasukan untuk pasukan perdamaian Gaza
Penerjemah: Genta T, Hafidz M, Asri Mayang Sari
Editor: Arie Novarina
Hak Cipta © ANTARA 2026