Kamis, 19 Februari 2026 – 17:30 WIB
Jakarta, VIVA – Saham raksasa e-commerce dan komputasi awan (Cloud), Amazon, mengalami koreksi panjang selama sembilan hari perdagangan. Penurunan tajam mencapai 18 persen dan menyebabkan kapitalisasi pasarnya hilang miliaran dolar.
Nilai pasar Amazon turun sekitar US$450 miliar atau setara Rp 7.616,9 triliun (kurs estimasi Rp 16.930 per dolar AS). Hilangnya kapitalisasi pasar Amazon pada sesi perdagangan 2-13 Februari 2026 bahkan menjadi penurunan terburuk dalam satu dekade.
Dikutip dari CNBC Internasioanal, investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) karena khawatir perusahaan akan mengeluarkan dana sangat besar untuk membeli teknologi kecerdasan buatan (AI). Tekanan juga diperparah oleh laporan penjualan dan kinerja kuartal IV-2025 yang baru dirilis awal Februari 2026.
Dalam laporan itu, Amazon mengumumkan rencana belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$200 miliar tahun ini. Angka ini naik hampir 60% dari tahun lalu dan sekitar US$50 miliar di atas perkiraan Wall Street.
Ilustrasi kecerdasan buatan (AI).
Sebagian besar belanja akan dialokasikan untuk pengembangan AI, termasuk pembangunan pusat data, pembelian chip, dan infrastruktur jaringan.
Langkah agresif ini membuat investor khawatir.
Investor mempertanyakan apakah investasi besar di AI justru akan menekan arus kas bebas perusahaan dalam jangka pendek.
Secara industri, persaingan belanja AI memang sedang panas. Belanja modal gabungan Amazon, Alphabet, Microsoft, dan Meta diperkirakan bisa mencapai US$700 miliar tahun ini untuk infrastruktur AI.
CEO Amazon, Andy Jassy, menyampaikan optimisme ke para analis bahwa pengeluaran besar ini akan memberi hasil yang sepadan.
Petinggi lain, CEO Amazon Web Services (AWS), Matt Garman, menilai peningkatan capex justru kunci untuk merebut peluang AI di bisnis cloud. Ia bilang investasi tambahan akan memperbesar kapasitas dan daya saing AWS.
Analis Wedbush menilai Amazon sedang dalam tahap pembuktian ke investor. Perusahaan ingin menunjukkan bahwa mereka bisa memberikan hasil yang memuaskan dari capex untuk AI.
“Peningkatan belanja akan tetap jadi beban sentimen selagi investor mencerna panduan perusahaan dan kemungkinan besar mereka akan tunggu bukti hasil yang lebih nyata sebelum kembali merasa nyaman,” tulis analis Wedbush dalam risetnya.