Desa Perlu Perkuat Kesiapsiagaan Bencana di Tengah Ancaman Iklim

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Desa dan Daerah Tertinggal mendorong peningkatan kapasitas desa dalam mitigasi dan kesiapsiagaan bencana, menyusul tren meningkatnya bencana hidrometeorologi yang langsung berdampak pada pedesaan.

“Yang mencolok, 98,33 persen adalah bencana hidrometeorologi seperti banjir, cuaca ekstrem, longsor, kebakaran hutan, dan kekeringan. Yang paling rentan dan berisiko adalah desa-desa,” ujar Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo, dalam Workshop Indeks Risiko Iklim Desa (IRID) di Jakarta, Kamis.

Dia melaporkan total kejadian bencana mencapai 3.116 pada tahun 2025, meningkat 121 persen dibandingkan 2024.

“Ini data terbaru: total bencana mencapai 3.116 sepanjang 2025, naik 121 persen dari 2024. Dampak kerusakannya cukup signifikan,” jelasnya.

Menurut dia, desa paling terdampak karena keterbatasan mata pencaharian alternatif.

“Saya selalu bilang, kalau warga Jakarta kena musibah, mereka masih punya tabungan atau sumber daya lain. Sementara di desa, seringnya cuma punya satu sawah, satu kebun, atau satu ternak, tidak ada pilihan lain,” paparnya.

Widodo mendesak agar kapasitas mitigasi bencana di desa ditingkatkan secara sistematis, antara lain melalui pelatihan bagi kepala desa dan perangkatnya.

Dia juga menekankan pentingnya penggunaan Indeks Risiko Iklim Desa sebagai alat kebijakan dan penganggaran, bukan sekadar data.

Melalui penguatan kapasitas, integrasi indeks risiko ke dalam kebijakan, dan memasukkan isu perubahan iklim ke dalam pembangunan, kementerian berharap desa dapat memperkuat ketahanan bencana sekaligus menjamin pembangunan yang berkelanjutan.

Sebelumnya, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Eddy Soeparno menekankan pentingnya penyusunan RUU Pengelolaan Perubahan Iklim sebagai payung hukum yang komprehensif dan lintas sektor.

Dia menjelaskan, inisiatif itu bertujuan menjamin kepastian hukum, memperjelas pembagian kewenangan, serta memperkuat pendanaan untuk upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, termasuk pengurangan risiko bencana di tingkat daerah.

MEMBACA  Indonesia berhasil mengurangi 875,7 juta ton CO2e

Berita terkait: Forum PRB perkuat ketahanan Indonesia hadapi bencana: BNPB

Berita terkait: Edukasi bencana bisa tingkatkan ketahanan pelajar Indonesia: kementerian

Berita terkait: Perlu simulasi dan edukasi bencana untuk bangun ketahanan: Menteri

Penerjemah: Tri, Kenzu
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar