WARTAKOTALIVECOM — Amerika Serikat diketahui terus menambah kekuatan militernya di kawasan Timur Tengah. Hal ini terjadi saat ketegangan di wilayah tersebut semakin meningkat.
Seperti dilaporkan harian Kompas, media Israel The Jerusalem Post pada Rabu (18/2/2026) menyebut bahwa Washington telah mengirim setidaknya 12 jet tempur F-22 Raptor dan 36 jet F-16 ke kawasan itu.
Semua pesawat F-22 rencananya akan ditempatkan di Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Pangkalan ini merupakan salah satu basis militer terbesar AS di Timur Tengah yang selama bertahun-tahun jadi pusat operasi udara Amerika, termasuk saat konflik di Afghanistan, Irak, dan Suriah.
Sementara itu, lokasi penempatan untuk 36 jet F-16 belum diumumkan secara resmi.
Selain F-22 dan F-16, Amerika Serikat juga dilaporkan mengirim tambahan jet tempur F-35. Namun, jumlah pastinya dan dimana mereka akan ditempatkan masih belum jelas.
Kedatangan pesawat-pesawat tempur generasi kelima ini menunjukkan peningkatan kesiapan militer AS di daerah yang situasi keamanannya kembali memanas karena berbagai konflik.
Tidak hanya pesawat tempur, AS juga mengerahkan tiga pesawat peringatan dini dan kendali udara E-3 Sentry dari Eropa ke Timur Tengah. Sebelumnya sudah ada dua unit E-3 di sana. Pesawat ini berfungsi sebagai pusat kontrol dan pemantauan udara dengan radar jarak jauh yang bisa mendeteksi ancaman dari jarak ratusan kilometer. Kehadiran mereka sering menandakan persiapan untuk operasi udara besar-besaran.
Pesawat lain yang terlibat dalam penguatan ini adalah E-11A BACN dan U-2 Dragon Lady. U-2 adalah pesawat mata-mata ketinggian tinggi yang sudah lama jadi andalan intelijen udara AS. Salah satu perannya adalah menghubungkan komunikasi antara pesawat F-22 dan F-16. Sistem BACN memungkinkan berbagai jenis pesawat dengan sistem berbeda untuk tetap terhubung dalam satu jaringan pertempuran.
Dalam Operasi “Godam Tengah Malam” pada Juni 2025 lalu, AS diketahui menggunakan kombinasi pesawat tempur dan pengintai serupa untuk menyerang target di Iran. Pola yang mirip sekarang ini memunculkan spekulasi bahwa Washington mungkin sedang menyiapkan opsi militer yang sama, walaupun belum ada pernyataan resmi tentang tujuan penambahan kekuatan ini.
Beberapa sumber pertahanan memperkirakan pesawat-pesawat pengintai itu kemungkinan akan ditempatkan di pangkalan udara di Siprus atau di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi.