Memaniskan Dunia: Ambisi Global Gula Kelapa Banyumas

Banyumas, Jawa Tengah (ANTARA) – Kabupaten Banyumas di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, sedang dalam jalur untuk menjadi pusat ekspor gula kelapa kristal terkemuka di dunia. Ini memanfaatkan kekuatan daerahnya yang sudah lama dalam budidaya kelapa.

Sudah dikenal sebagai penghasil gula kelapa nasional selama beberapa dekade, Banyumas sekarang menargetkan transformasi besar sektor pertaniannya dari hulu ke hilir. Fokus utamanya adalah pada upaya merevitalisasi kelapa genjah dan kopyor, memperkuat industri, serta meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan bagi penderes.

Menurut Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, ambisi ini tidak muncul tiba-tiba; ini dirancang selama masa jabatannya sebagai wakil bupati dari 2018 hingga 2023. Setelah Lastiono memimpin, inisiatif ini mulai terbentuk secara lebih terstruktur.

"Permintaan bisnis untuk gula kelapa kristal sangat besar. Bahkan, Indonesia menyuplai sekitar 90 persen kebutuhan dunia, dengan 80 persennya berasal dari wilayah Banyumas Raya (Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara)," ujarnya.

Lastiono menekankan bahwa tren ini adalah peluang yang terlalu berharga untuk dilewatkan Banyumas. Selain volume produksi kelapanya yang luas, kabupaten ini menganggap mimpinya layak secara teknis berkat jaringan penderes, pengusaha, dan eksportir yang sudah mapan.

Bupati yakin bahwa memperkuat posisi Banyumas dalam rantai pasok gula kelapa global akan membawa manfaat ekonomi besar bagi warga, terutama di pedesaan. Namun, dia mengakui ada tantangan mendesak, terutama risiko tinggi yang dihadapi penderes yang memanjat pohon kelapa konvensional setinggi lebih dari 15 meter dua kali sehari.

Terkaget-kaget oleh laporan bulanan kecelakaan penderes, Pemerintah Banyumas kini mendorong transisi dari kelapa biasa ke varietas genjah. Pohon kelapa genjah biasanya hanya setinggi dua sampai tiga meter, sehingga panen lebih aman dan cepat.

MEMBACA  Keir Starmer Resmi Menjadi Perdana Menteri di Britania Raya

Analisis pemerintah menunjukkan, dengan ritme kerja sama, penderes dapat mengumpulkan nira lebih banyak dari pohon kelapa genjah. Ketinggian yang lebih pendek memungkinkan mereka mengerjakan hingga 100 pohon per hari, dibanding maksimal 25 pohon untuk kelapa biasa.

Produktivitas bisa meningkat empat kali lipat, meski setiap pohon genjah menghasilkan nira lebih sedikit—kerugian kecil karena kualitasnya setara dengan kelapa biasa. Transisi ini bagian dari 13 Program Unggulan (Trilas) yang dirancang Lastiono dan wakilnya, Dwi Asih Lintarti.

Memanfaatkan potensi kelapa genjah ini mencerminkan Trilas No. 4 tentang pengembangan sentra bisnis dan petani muda di semua kecamatan, Trilas No. 6 tentang pengentasan kemiskinan, dan Trilas No. 9 yang fokus pada swasembada pangan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Melalui inisiatif ini, pemerintah daerah bertujuan memodernisasi sektor pertanian untuk keselamatan, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi pedesaan yang lebih baik, sekaligus membuka peluang bagi petani muda. Untuk itu, pemerintah telah menyiapkan sedikitnya 625 hektar lahan.

Sadar akan kapasitas fiskal daerah yang terbatas, Lastiono memilih menghindari membebani anggaran daerah. Sebagai gantinya, dia menjalin kemitraan dengan kementerian di Jakarta serta perusahaan swasta dalam dan luar negeri.

Dengan pendekatan ini, pemimpin Banyumas itu mendapat dukungan dari mitra internasional yang berjanji menyuplai puluhan ribu bibit kelapa genjah ke kabupaten itu dalam kerangka tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Cita-cita pemerintah untuk Banyumas juga disambut baik oleh pelaku industri dalam negeri. Direktur Utama PT Integral Mulia Cipta, Mario Ngensowidjaja, menyatakan dukungannya untuk transisi ke kelapa genjah. Dia menyebutkan kekhawatiran atas kurangnya minat generasi muda untuk berkarir di industri kelapa, sebuah tantangan regenerasi yang sebagian disebabkan risiko tinggi memanjat pohon kelapa biasa.

MEMBACA  Misi Antarbintang: Rubah Asing, Planet Luar, dan Carl Sagan di Dunia Virtual

Dominik Schwab, manajer proyek dari lembaga Jerman GIZ, menyatakan timnya siap membantu Banyumas memperkuat rantai pasok gula kelapanya sambil mendukung keberlanjutan lingkungan dan petani. GIZ telah merancang proyek yang mencakup transisi ke kelapa genjah, praktik budidaya ramah lingkungan, pengembangan agroforestri, dan kolaborasi riset dengan universitas di Indonesia.

Perlindungan untuk Penderes

Di luar upaya meningkatkan produksi dan ekspor, Pemerintah Banyumas menganggap sangat penting meningkatkan perlindungan bagi penderes. Bupati Lastiono telah mendorong eksportir gula kelapa untuk memberikan jaring pengaman dengan mendaftarkan penderes ke BPJS Ketenagakerjaan.

Langkah ini mencerminkan kepedulian pemerintah terhadap penderes yang dianggap aset berharga daerah. Data menunjukkan hingga pertengahan 2025 ada hampir 22.000 penderes di Banyumas, tetapi hanya 6.699 yang tercatat di BPJS Ketenagakerjaan. Kesempatan ini mendorong pemerintah mempergiat upaya perlindungan.

Lebih dari sekadar agenda ekonomi, pemerintah daerah membayangkan program transformasi gula kelapa ini sebagai peluang terobosan untuk meningkatkan harkat dan martabat serta standar hidup masyarakat pedesaan.

Banyumas telah memulai perjalanan berat namun menjanjikan—didorong oleh revitalisasi kelapa, pengembangan industri, dukungan internasional, dan perlindungan sosial bagi penderes—untuk mempertahankan posisinya sebagai tulang punggung gula kelapa Indonesia dan muncul sebagai pusat global untuk komoditas berharga ini.

Berita terkait: Indonesia capai swasembada 9 komoditas pangan strategis

Berita terkait: Indonesia kejar hilirisasi industri pangan untuk tingkatkan nilai tambah

Editor: M Razi Rahman
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar