Tangan Kosong di Rahim Ciliwung: Perburuan Arief Kamarudin pada ‘Monster’ Invasif Penjaga Nafas Ikan Lokal

Ringkasan Berita:

Arief Kamarudin, seorang lulusan Bahasa Inggris, mendedikasikan hidupnya untuk memberantas ikan sapu-sapu yang invasif di Sungai Ciliwung secara manual.
Krisis Ekosistem: Dominasi ikan sapu-sapu telah menghabiskan populasi ikan lokal seperti baung dan tawes, sehingga merusak rantai makanan sungai.
Edukasi Digital: Lewat konten media sosial, Arief berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa ancaman untuk sungai bukan cuma sampah, tapi juga spesies asing.

WARTAKOTALIVE.COM – Matahari masih pagi di Jagakarsa saat Arief Kamarudin (34) mulai menyatu dengan air Kali Ciliwung yang keruh.

Di tepian sungai, aliran airnya seperti memeluk tubuh Arief dengan hangat.

Tanpa pakaian khusus ataupun peralatan yang hebat.

Cuma dengan tangan kosong yang meraba dinding tanah sungai, Arief gesit mencari celah tempat “si penjajah” bersembunyi.

Baca juga: Pengerukan Kali Ciliwung di Rawajati Pancoran Jakarta Selatan Ditargetkan Selesai 2 Bulan

Bagi pria asal Lenteng Agung ini, Kali Ciliwung bukan cuma aliran air yang melintasi Jakarta.

Kali Ciliwung adalah tempat ia dibesarkan.

Tapi sekarang, tempat itu sedang sakit, dikuasai oleh predator yang tak ada lawannya: Ikan Sapu-Sapu.

**KERESAHAN EKOLOGIS ARIEF** – Arief Kamarudin (34), kreator konten yang berburu ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung, Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Ini adalah tempat ia tumbuh besar dan yang sekarang membuatnya resah akan ekologi. Arief hampir tiap hari menangkap ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung untuk dimusnahkan, karena ia paham ikan sapu-sapu adalah spesies invasif bukannya asli Indonesia dan bisa merusak keseimbangan ekosistem sungai.

**Kenangan Masa Kecil yang Hilang, Berubah Jadi Kekhawatiran Lingkungan**

Dua puluh tahun lalu, suara Sungai Ciliwung adalah musik kebahagian buat Arief waktu masih kecil.

MEMBACA  Pemerintah Kenya mengutuk lemparan sepatu 'memalukan' pada presiden

Dia ingat sekali aroma airnya yang lebih segar, tempat dia melepas seragam sekolah dan langsung berenang sampai magrib.

Dulu, jala ayahnya selalu pulang membawa “harta karun” lokal. Seperti ikan baung yang gemuk atau ikan tawes yang berkilau.

“Sekarang ikan asli hampir tidak pernah ketemu. Isinya cuma sapu-sapu semuanya,” kata Arief dengan sedih saat ditemui Warta Kota di sebuah posko di tepi sungai, Kamis (12/2/2026).

“Kalau saya ingat, sebelum masuk TK saya sudah ikut bapak menjala,” ujar Arief.

Kondisi Ciliwung sekarang, menurut Arief, sudah berubah jadi medan perang untuk ekosistem.

Ikan sapu-sapu (Loricariidae), spesies invasif dari Amerika Selatan, sudah melakukan “kudeta” di dalam air.

Tinggalkan komentar