Profil Giusti Raka, Penyanyi Lagu ‘Masih Adakah’ yang Menyuarakan Kegelisahan Publik Indonesia

Sabtu, 14 Februari 2026 – 00:38 WIB

Jakarta, VIVA – Nama Giusti Raka akhir-akhir ini banyak diperbincangkan publik setelah dia merilis single terbaru berjudul “Masihkah Ada” pada 13 Februari 2026. Penyanyi muda ini sebenarnya bukan artis baru di industri musik Indonesia. Dia lahir dan besar di keluarga yang punya latar belakang musik yang kuat. Yuk scroll untuk baca lebih lanjut!

Profil Giusti Raka

Giusti Raka adalah cucu dari almarhum Arie Wibowo, seorang penyanyi dan pencipta lagu legendaris Indonesia yang terkenal dengan lagu-lagu ikonik seperti “Madu & Racun” dan “Singkong dan Keju”.

Sebagai anak kedua dari Yulia Margareth Putri, Giusti Raka mewarisi bakat seni yang kuat. Warisan bakat ini jadi pondasi penting buat perjalanan karirnya di dunia tarik suara. Dia memulai langkah profesionalnya di tahun 2015 dengan merilis ulang lagu kakeknya, “Walau Sekejap”, sebagai bentuk penghormatan dan juga perkenalan dirinya ke industri musik.

Sejak saat itu, Giusti Raka terus berkarya dan sampai saat ini sudah merilis empat single. Tapi, “Masihkah Ada” menandai fase baru dalam karirnya. Lagu ini adalah rilisan pertamanya di bawah label Prema Svara Records, dan juga awal dari kolaborasi resminya dengan label yang dijalankan anak muda itu.

Mengenal Lagu ‘Masihkah Ada’

Secara tema, “Masihkah Ada” bukan cuma lagu tentang percintaan biasa. Karya ini adalah renungan mendalam tentang cinta yang diuji oleh waktu, keadaan, dan keberanian untuk tetap peduli ketika situasi sudah tidak ideal lagi. Cinta di sini dimaknai secara luas—bukan cuma ke pasangan, tapi juga ke sesama manusia, kejujuran, sampai tanah air sebagai tempat kita bersama untuk bersuara dan bermimpi.

MEMBACA  Indonesia Kirim Tim Medis Keempat TNI untuk Bantu Palestina

Lewat liriknya, Giusti Raka menampilkan cinta sebagai sebuah sikap, yaitu kesetiaan untuk tidak meninggalkan saat keadaan jadi buruk, ketika suara-suara mulai dibungkam, dan ketika kebenaran sulit diucapkan. Frasa “Masihkah Ada” menjadi pertanyaan buat introspeksi: apakah cinta masih tetap hidup di tengah rasa takut, dan apakah kepedulian masih tetap tumbuh ketika diam dianggap pilihan paling aman.

Lagu ini juga menggambarkan kegelisahan yang dirasakan banyak orang di Indonesia saat ini. Dalam situasi di mana demokrasi sering dipersempit dan keberanian mahal harganya, “Masihkah Ada” hadir sebagai ruang untuk merenung, bukan luapan emosi. “Dengan komposisi yang intim dan penuh makna, karya ini jadi ruang kontemplasi buat siapa saja yang masih percaya bahwa cinta, kepada siapapun dan apapun, adalah kekuatan yang bikin kita tetap berdiri dan berjuang,” kata Giusti Raka.

Tinggalkan komentar