Platform China Seperti Xiaohongshu Melirik Asia Tenggara di Tengah Pengawasan Ketat AS

TikTok, yang dimiliki raksasa teknologi China ByteDance, mungkin sudah menemukan cara agar platformnya tetap beroperasi di AS. Tapi, tantangan selanjutnya untuk platform teknologi China kemungkinan lebih dekat ke rumah mereka.

Xiaohongshu—yang dikenal secara internasional sebagai RedNote—semakin populer di Asia Tenggara seiring perusahaan teknologi China generasi baru mencoba ekspansi keluar dari pasar domestik. Malaysia adalah pasar terbesar kedua platform itu di luar China. Raksasa teknologi China lain, seperti ByteDance dan Tencent, juga meningkatkan penawaran digital di bidang e-sport, e-dagang, dan kecerdasan buatan.

Pada 2025, surplus perdagangan jasa digital China melonjak ke rekor tertinggi 33 miliar dolar AS, menurut data dari otoritas valuta asing.

Asia Tenggara telah menjadi tempat uji coba penting bagi perusahaan teknologi China, menawarkan konsumen muda yang melek teknologi dan tekanan regulasi yang lebih ringan dibanding pasar Barat.

Para ahli mengatakan perusahaan teknologi China kemungkinan akan mengambil pendekatan yang lebih hati-hati di pasar Barat seperti AS, di mana pejabat lebih waspada terhadap platform China karena kekhawatiran privasi data dan keamanan nasional.

Ini terlihat jelas dalam saga panjang TikTok, dimana pejabat AS khawatir platform itu bisa mengirim data pengguna AS ke Beijing dan memanipulasi konten untuk menyebarkan disinformasi. Bulan lalu, TikTok menyelesaikan kesepakatan untuk membuat entitas baru yang berbasis di AS, mengakhiri ancaman larangan yang membayangi sejak 2024. Entitas baru itu, dimana ByteDance memegang 19,9% saham, akan memegang data pengguna AS dan mengelola algoritma rekomendasi.

"Meski platform teknologi China mungkin ingin sukses seperti TikTok, mereka juga waspada terhadap pengawasan politik dan regulasi yang sama," kata Jian Xu, pakar studi media China dari Deakin University, Australia. Mereka mungkin memilih fokus pada pasar regional tertentu daripada mengejar popularitas global skala penuh.

MEMBACA  IEU-CEPA, Pencapaian Penting di Tengah Ketidakpastian Global: Indonesia

Asia Tenggara, yang sebagian besar terdiri dari ekonomi berkembang dan menengah, juga lebih terbuka menggunakan teknologi China dibanding ekonomi Barat matang seperti AS atau Eropa. Ini sebagian karena kedekatan: Perdagangan dan migrasi telah memberikan budaya China dan diaspora China pijakan di wilayah ini.

RedNote, contohnya, banyak digunakan di Malaysia dan Singapura, terutama karena komunitas etnis China yang besar di sana, tambah Wang Zheng, dari ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura.

Bangkitnya Teknologi China

Ekosistem teknologi China sedang mengalami "transformasi struktural", beralih dari model ekspor yang "berakar di manufaktur dan perangkat keras" ke model yang "semakin didefinisikan oleh tata kelola platform, koordinasi layanan, dan sistem sosio-teknis," kata Xu. Ia menambahkan, China semakin mengekspor infrastruktur berbasis layanan yang dapat membentuk arus global ide dan perdagangan.

Pada Juni lalu, Xiaohongshu membuka kantor di Hong Kong, yang pertama di luar daratan China, untuk memulai ekspansi luar negeri. Platform e-dagang China seperti Taobao, Temu, dan Shein juga sangat sukses di luar negeri. Pada 2025, pangsa pasar e-dagang global Temu melonjak ke 24%—setara dengan raksasa pengiriman AS, Amazon.

TikTok Shop, fitur dalam aplikasi yang memungkinkan kreator menjual produk langsung di aplikasi TikTok, juga menjadi kekuatan besar e-dagang global. Momentum Works memperkirakan nilai barang dagangan kotor TikTok Shop tahun lalu mencapai 64,3 miliar dolar AS, hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Khusus di Asia Tenggara, nilainya juga naik dua kali lipat menjadi 45,6 miliar dolar AS.

Namun TikTok Shop juga punya masalah di pasar luar negeri, tidak hanya di AS: Pada 2023, Indonesia memerintahkan platform media sosial seperti TikTok untuk berhenti menyediakan layanan e-dagang, memaksa penangguhan TikTok Shop sementara di ekonomi terbesar Asia Tenggara itu. TikTok menyelesaikan masalah ini dengan membeli 75% saham platform e-dagang lokal Tokopedia.

MEMBACA  Tembaga Tembus Rekor Tertinggi, Kelangkaan Pasokan Picu Defisit

Selain dorongan sektor swasta untuk go global, pejabat pemerintah Beijing juga berjanji mendukung perusahaan teknologi China mengekspor penawaran digital mereka.

"Kami harus berpegang pada keterbukaan, mendorong kerjasama saling menguntungkan di berbagai sektor, memperluas ekspor sekaligus meningkatkan impor untuk mendorong perkembangan perdagangan luar negeri yang berkelanjutan," kata Han Wenxiu, wakil direktur Komisi Urusan Keuangan dan Ekonomi Pusat China, dalam konferensi Desember lalu.

Kekhawatiran Keamanan dan Hambatan Bahasa

Namun, beberapa ahli telah menyoroti potensi risiko keamanan menggunakan platform teknologi China, mengingat beberapa aplikasi China, seperti Xiaohongshu, harus mematuhi regulasi Beijing tentang data, termasuk menyimpan dan memproses data pengguna di dalam negeri.

Zheng dari ISEAS-Yusof Ishak Institute mengatakan klaim ini tidak sepenuhnya tanpa dasar. Xiaohongshu, contohnya, menggunakan platform yang sama untuk pengguna domestik dan internasional. (Banyak aplikasi China, seperti Douyin, menawarkan versi internasional terpisah untuk pengguna asing, yang tidak dikenai "risiko keamanan" yang sama.)

Hambatan bahasa bisa menjadi penghalang lain untuk adopsi platform China, meski mungkin sementara. "Seiring eksposur media tumbuh dan fungsi terjemahan menghilangkan hambatan bahasa, adopsi di kalangan pengguna non-China mungkin meningkat di wilayah lain," kata Zheng.

Tinggalkan komentar