Minggu, 8 Februari 2026 – 18:00 WIB
Jakarta, VIVA – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang seharusnya bikin efisiensi malah buka babak baru kejahatan digital. Dulu, penipuan online identik sama pesan spam atau telepon mencurigakan. Sekarang, wajah, suara, bahkan identitas seseorang bisa dipalsuin dengan sangat meyakinkan.
Fenomena ini bukan kasus yang jarang lagi, tapi udah terjadi secara masif dan terorganisir.
Analisis dari pakar AI ngungkapin bahwa penipuan pakai deepfake sekarang udah jalan dalam skala industri. Teknologi untuk bikin konten palsu yang ditargetin ke orang tertentu nggak lagi mahal atau susah diakses.
Bahkan, alat-alat itu malah makin murah, gampang dipakai, dan bisa diproduksi dalam jumlah besar. Laporan dari AI Incident Database nyatatin lebih dari selusin contoh terbaru "penyamaran buat cari untung".
Kasusnya macam-macam, mulai dari video deepfake jurnalis Swedia, presiden Siprus, sampai dokter palsu yang promosiin produk krim kulit. Ada juga video deepfake perdana menteri Australia Barat yang dipakai buat iklan skema investasi.
Tren ini nunjukkin para penipu memanfaatin AI yang tersebar luas buat jalanin aksi yang makin tertarget. Tahun lalu, seorang pejabat keuangan di perusahaan multinasional di Singapura transfer hampir 500.000 dolar AS ke penipu setelah ikutin panggilan video yang dia anggap dari bos perusahaannya. Di Inggris, konsumen diperkirakan kehilangan £9,4 miliar karena penipuan dalam sembilan bulan sampai November 2025.
"Kemampuan teknologi sekarang udah sampai di titik di mana konten palsu bisa dibuat oleh hampir siapa aja," kata Simon Mylius, peneliti MIT yang terlibat dalam proyek terkait AI Incident Database, seperti dikutip dari The Guardian.
Dia ngitung bahwa penipuan, scam, dan manipulasi yang ditargetin jadi bagian terbesar insiden yang dilaporin ke database itu dalam 11 dari 12 bulan terakhir. "Teknologi ini jadi sangat mudah diakses sampe nggak ada lagi halangan buat masuk."
Pandangan serupa disampaikan Fred Heiding, peneliti Harvard yang pelajari penipuan pakai AI. "Skalanya sedang berubah," katanya. "Biayanya jadi sangat murah, hampir semua orang sekarang bisa pake. Model AI berkembang sangat bagus dan kecepatannya jauh lewati perkiraan banyak ahli."
Halaman Selanjutnya
Contoh nyata dialami Jason Rebholz, CEO perusahaan keamanan AI Evoke. Dia ngaku hampir aja rekrut calon karyawan yang ternyata pake video deepfake pas wawancara online. "Latar belakang videonya keliatan banget palsu," katanya. "Tampilannya bener-bener terasa nggak alami, dan sistemnya kesulitan memproses bagian tepi tubuh orang itu. Kayak ada bagian tubuh yang muncul dan ilang. Wajahnya juga keliatan sangat halus di bagian tepinya."