Polisi Temukan Peluru di Dekat Gajah Sumatra yang Dipancung

Pekanbaru, Riau (ANTARA) – Polisi Daerah Riau menemukan proyektil peluru dekat lokasi penemuan gajah sumatera yang terpenggal di kawasan hutan Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Temuan ini memperkuat indikasi adanya perburuan liar.

Kombes Pol Ungkap Siahaan, Kepala Laboratorium Forensik Polda Riau, menyatakan penyidik bekerja sama dengan Polres Pelalawan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau untuk memeriksa TKP.

"Di lokasi, kami menemukan dua serpihan logam yang diduga berasal dari peluru senjata api," kata Siahaan.

Serpihan pertama berdiameter 12,3 milimeter dan panjang 16,3 milimeter, sementara yang kedua panjangnya kira-kira 6,94 milimeter.

Tes ilmiah pendahuluan mendeteksi timbal, tembaga atau kuningan, nitrat mesiu, dan residu tembakan pada kedua serpihan. Jenis senjata api spesifik yang digunakan masih dalam penyelidikan laboratorium.

Dokter hewan BBKSDA Rini Deswita mengatakan pemeriksaan lapangan menunjukkan gajah itu ditembak di dahinya.

"Proyektilnya masih ada di dalam tengkorak, yang masih terhubung dengan leher," jelas Deswita.

Bagian depan kepala, termasuk dahi, mata, hidung, dan gading, telah dipotong menggunakan senjata tajam. Belalainya juga terpisah.

Pihak berwenang menduga para pemburu memotong setengah kepala untuk mengambil gading yang panjangnya melebihi satu meter.

"Kepalanya tidak hilang seluruhnya, setengahnya dipotong dengan senjata tajam untuk mengambil gadingnya," ujar Deswita.

Gajah tersebut memiliki panjang tubuh sekitar 286 sentimeter dan diperkirakan berusia lebih dari 40 tahun, berasal dari habitat Tesso Tenggara.

"Gajah itu sudah mati lebih dari 10 hari sebelum ditemukan. Setelah diperiksa, bangkainya dikubur di lokasi," tambah Deswita.

Pemerintah Indonesia telah memasukkan gajah sumatera dalam daftar mamalia yang sangat terancam punah di negara ini.

Menurut World Wildlife Fund (WWF), populasinya diperkirakan hanya tinggal 2.400–2.800 individu.

MEMBACA  Profesor Ilmu Hukum Meminta RUU Polri Didiskusikan dengan Melibatkan Masyarakat

Organisasi itu mencatat bahwa gading masih dapat ditemukan di pasar-pasar sekitar Afrika dan Asia, serta di Amerika Serikat dan Eropa.

Organisasi tersebut mencatat bahwa perburuan untuk perdagangan gading ilegal tetap menjadi ancaman utama bagi gajah liar di seluruh dunia.

Berita terkait: Pasukan Indonesia dikerahkan untuk kurangi konflik gajah di Lampung

Berita terkait: Riau pantau pergerakan gajah dengan pelacakan GPS

Penerjemah: Bayu AA, Rahmad Nasution
Editor: Arie Novarina
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar