Harga Emas Global Anjlok Lebih dari 8%, Kembali ke Level US$4.800

Minggu, 1 Februari 2026 – 13:13 WIB

Jakarta, VIVA – Harga emas dunia mengalami penurunan yang tajam setelah mencetak rekor tertinggi beberapa hari berturut-turut. Logam mulia ini anjlok lebih dari 7 persen dan tembus di bawah level psikologis US$5.000 per ons.

Baca Juga:
Bitcoin Ambruk ke Level Terendah, Analis Prediksi Koreksi Lebih Dalam Menuju US$70.000

Menurut data dari CNBC Internasional, harga emas spot turun 7,5 persen ke posisi US$4.992,05 per ons pada Jumat, 30 Januari 2026. Penurunan masih berlanjut hingga akhir pekan.

Berdasarkan Gold Price, harga emas merosot dua digit sebesar 8,15 persen menjadi US$4.893,2 per ons pada Minggu siang. Meski begitu, emas masih mencatat kenaikan sekitar 60,22 persen dalam sebulan terakhir.

Baca Juga:
Susul Bitcoin, Saham Strategy Terkapar dan Sentuh Level Terendah 52 Minggu

Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari juga ikut turun 6,4 persen. Penurunan drastis ini terjadi hanya sehari setelah emas mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di level US$5.594,82 per ons.

Ilustrasi harga emas dunia.

Baca Juga:
Penyebab Harga Emas Antam ‘Menggila’ di Angka Rp3,1 Juta: Isu Greenland dan Tarif Trump Jadi Pemicu Utama

Harga emas dunia naik lebih dari 15 persen sepanjang Januari 2026. Lonjakan ini merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak 1999.

Seorang analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai koreksi harga emas saat ini wajar setelah kenaikan kuat beberapa pekan terakhir. Dia tetap optimis dan memprediksi logam mulia ini akan masuk fase konsolidasi.

“Saya masih percaya faktor pendukung emas tetap kuat. Tapi, setelah reli signifikan, fase konsolidasi adalah hal yang sehat,” kata Staunovo.

Dia menambahkan, tekanan terhadap harga emas muncul bersamaan dengan kabar penunjukan Ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru. Presiden AS Donald Trump akan umumkan pengganti Jerome Powell pada Jumat depan.

MEMBACA  Brasil Gemar Menghajar Lawan! Siapkah Timnas Indonesia U-17 Bertemu di Piala Dunia?

Kevin Warsh disebut sebagai kandidat terkuat. Warsh dikenal mendorong penyusutan neraca The Fed, yang berbeda dengan kecenderungan Trump terhadap kebijakan moneter yang longgar.

Penguatan dolar AS juga memperparah tekanan pada harga emas. Mata uang ini menunjukkan kenaikan setelah sebelumnya sempat sentuh level terendah dalam empat tahun.

Halaman Selanjutnya

Di sisi lain, permintaan fisik justru menunjukkan tren positif. Premi emas fisik di India melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Sementara itu, premi di China juga naik seiring pulihnya permintaan untuk investasi dan perhiasan.

Tinggalkan komentar