Rabu, 28 Januari 2026 – 23:10 WIB
Teheran, VIVA – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump bilang Teheran memohon untuk bernegosiasi setelah armada militer Washington dalam jumlah besar bergerak mendekati Iran.
Baca Juga:
Korban Tewas Akibat Badai Salju AS Bertambah Jadi 62 Orang
Araghchi menyatakan bahwa "tidak ada kontak terbaru" dengan utusan AS Steve Witkoff, di tengah kekhawatiran makin meningkatnya kemungkinan serangan Amerika ke Teheran. "Tidak ada kontak antara saya dan Witkoff dalam beberapa hari terakhir, dan kami tidak sedang melakukan pembicaraan," kata Araghchi kepada media pemerintah, seperti dikutip Kantor Berita Fars.
Baca Juga:
Korban Tewas Akibat Badai Salju di AS Jadi 51 Orang
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan Iran telah berkali-kali menghubungi Washington untuk membuka jalur perundingan, di tengah ketegangan militer yang meningkat di Timur Tengah. Pernyataan ini ia sampaikan dalam wawancara dengan Axios pada Senin. Trump menyebut situasi dengan Iran "sangat dinamis" seiring dengan dikirimnya pasukan militer AS ke wilayah tersebut. Namun, ia yakin Teheran sebenarnya ingin mencapai sebuah kesepakatan.
Baca Juga:
Presiden Iran Sebut AS Bermuka Dua: Mau Dialog Tapi Siapkan Opsi Militer
Di waktu yang sama, Trump menegaskan bahwa jalan diplomasi masih terbuka. Ia mengklaim Iran aktif berusaha melakukan kontak dengan Washington. "Mereka ingin buat kesepakatan. Saya tau itu. Mereka sudah telepon berkali-kali. Mereka mau bicara," ujar Trump.
Araghchi mengatakan sejumlah negara yang bertindak sebagai perantara dan tetap berhubungan dengan Iran, mencatat bahwa banyak negara di kawasan turut merasa khawatir dengan meningkatnya ketegangan ini. "Negara-negara di region ini paham bahwa ancaman militer dalam bentuk apapun akan menggoyang stabilitas seluruh kawasan," dia memperingatkan.
Setop Mengancam Jika Ingin Negosiasi
Araghchi menyeru AS untuk menghentikan apa yang ia gambarkan sebagai ancaman, tuntutan yang berlebihan, dan mengangkat "isu-isu yang tidak masuk akal." Ia beralasan bahwa negosiasi punya prinsipnya sendiri dan harus berlangsung secara setara. "Berunding di bawah ancaman tidak akan berhasil," katanya. Ia menambahkan, meski banyak tokoh dan negara sudah menyatakan minat untuk menjadi penengah atau telah melakukan kontak, sikap Iran "tetap tidak berubah."
"Jika mereka ingin negosiasi berjalan, mereka (AS) harus tinggalkan ancaman, tuntutan yang berlebihan, dan pengangkatan isu-isu yang tidak rasional," tegasnya.
Halaman Selanjutnya
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, mengatakan bahwa "tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung" antara Teheran dan Washington, meskipun terjadi pertukaran pesan.