Dari Arus Sungai ke Podium ASEAN: Perjalanan Siti Aisyah, Bintang Muda Renang Para Indonesia
Nakhon Ratchasima, Thailand (ANTARA) – Dari arus sungai ke podium Asia Tenggara, inilah perjalanan Siti Aisyah—bintang muda cemerlang yang mengharumkan nama Indonesia sebagai swamita andalan di ASEAN Para Games 2025 di Nakhon Ratchasima, Thailand.
Meski masih sangat muda, gadis 15 tahun ini tampil percaya diri pada debut ASEAN Para Games-nya, dengan meraih dua medali emas dan tiga medali perunggu. Prestasi ini tidak hanya melebihi target pribadinya, tetapi juga menandai kemunculan generasi baru talenta renang Indonesia.
Sebagai perenang termuda di tim renang para Indonesia, dia bertanding di lima nomor dan mencetak hasil terbaiknya di nomor 100m dan 200m gaya punggung S14. Kedua medali emas itu terasa istimewa karena salah satunya diraih dengan mengalahkan perenang andalan Thailand, Nattharinee Khajhonmatha—pemegang rekor lama di kategori tersebut.
Tampil pertama kali di ajang bergengsi seperti ASEAN Para Games tidak membuatnya gentar; malah dijadikannya panggung untuk bersinar. Kesuksesannya ini memperkokoh perolehan medali kontingen Indonesia, yang tampil solid sepanjang kejuaraan.
Di tengah persaingan ketat, atlet kelahiran Padang ini mempertahankan konsistensinya dari babak penyisihan hingga final, membelah air dengan irama tenang dan kepercayaan diri yang teguh. "Awalnya, saya hanya menargetkan satu nomor. Saya cuma mengikuti instruksi pelatih dan memberikan yang terbaik," ujarnya.
Dari Arus Sungai ke Lintasan Renang
Perjalanan putri dari Imam Wahyudi dan Iya Diana Sari ini berawal dari kebiasaannya berenang di sungai dekat rumah. Sepulang sekolah, Aisyah sering bermain di sana bersama teman-temannya. Tanpa disadari, sungai menjadi tempat latihan pertamanya.
Kebiasaan ini akhirnya menarik perhatian keluarganya. Ipar ibunya, Rika Astika, menyarankan agar Aisyah mengambil les renang formal untuk mengasah kemampuannya lebih serius di lingkungan yang lebih aman. Ia kemudian mendapat dukungan, termasuk biaya latihan yang ditanggung oleh wanita yang disapanya "Bunda".
Gadis muda itu pun mulai mempelajari teknik renang formal saat duduk di kelas 4 SD. Namun, masa-masa awal tidak selalu mulus; kelelahan dan rasa bosan pernah membuatnya berhenti latihan beberapa minggu. Perlahan tapi pasti, ia kembali menemukan cintanya pada renang dan mendorong diri untuk berlatih dengan rajin.
Bakatnya akhirnya menarik perhatian Komite Paralimpiade Nasional (KPN) Sumatra Barat, yang melihat potensi besar Aisyah, terutama di gaya punggung. Dengan kehadirannya yang kuat di air dan daya tahan yang terus meningkat, ia mulai diarahkan ke jalur kompetitif yang lebih terstruktur.
Berlatih Jauh dari Kampung Halaman
Di usia baru 12 tahun dan masih duduk di kelas 6 SD, Aisyah direkrut untuk program pembinaan atlet pemerintah. Keputusan ini berat karena harus meninggalkan kota kelahiran dan keluarganya, tetapi ia menerima tantangan tersebut dan pindah ke Solo, Jawa Tengah, untuk berlatih di Sentra Keolahragaan Disabilitas (SKODI).
Di sana, remaja ini hidup bersama atlet-atlet berbakat lainnya, menjalani rutinitas ketat dengan jadwal latihan dan kegiatan yang padat. Meski kerinduan pada keluarga tak terhindarkan, tekadnya untuk berkembang menjadi bahan bakar utamanya. Sistem pelatihan terstruktur itu membuatnya matang secara fisik maupun mental.
Saat masih di kelas 4 SD, Aisyah didiagnosis dengan disabilitas intelektual. Meski begitu, ia sangat menonjol dalam aktivitas psikomotor, khususnya olahraga. Renang menjadi medium ekspresinya di mana ia bisa merasa bebas, fokus, dan percaya diri. Aisyah menemukan dunianya di lintasan kolam. Setiap kayuhan tangan dan hentakan kakinya menjadi bahasa ketangguhan.
Berada jauh dari orang tua membentuk kemandiriannya, membangun mental pantang menyerah, dan menguatkan pola pikir kompetitifnya.
Tetap Lanjut Sekolah
Di tengah prestasi atletiknya yang terus menanjak, Aisyah bertekad tidak melalaikan pendidikan. Ia sadar masa depan dibangun tidak hanya di tempat latihan, tetapi juga di ruang kelas. Selama persiapan menuju ASEAN Para Games 2025, ia sempat meninggalkan sekolah selama beberapa minggu, namun keinginannya untuk kembali belajar tetap kuat.
Sepulangnya ke rumah, Aisyah bertekad melanjutkan sekolah sambil mempertahankan latihan rutinnya. Saat ini ia adalah siswa kelas 8 di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Surakarta. Baginya, sekolah dan olahraga adalah dua jalan yang harus beriringan. Ini adalah prinsip yang ditanamkan keluarganya sejak dini.
Orang tuanya juga selalu mengingatkan pentingnya berusaha maksimal tanpa terlalu memikirkan hasil akhir. Nilai inilah yang menjadi pegangan Aisyah di setiap lomba, termasuk saat menghadapi pesaing-pesaing senior di ajang multiolahraga Asia Tenggara itu.
Kemenangannya atas unggulan Thailand di nomor 100m gaya punggung S14 tetap menjadi momen paling berkesan baginya. Tanpa persiapan khusus menghadapi lawan tertentu, ia fokus sepenuhnya pada strateginya sendiri: menjaga irama dan mengikuti instruksi pelatih.
Mengingat usianya yang masih sangat muda, masih banyak peluang yang menanti Aisyah dalam perjalanannya. Dia diproyeksikan menjadi salah satu andalan tim renang para Indonesia di event internasional mendatang.
Namun bagi Aisyah, pencapaian tertinggi bukanlah memenangkan medali, tetapi kemampuan untuk terus belajar, tumbuh, dan membanggakan orang tua serta bangsa. Kesuksesannya di Thailand adalah bukti bahwa pembinaan jangka panjang, dukungan keluarga, dan ketekunan benar-benar membuahkan hasil.
Dari sungai kecil di kampung halamannya ke kolam renang internasional, Aisyah telah mengukir kisah tentang proses, kesabaran, dan keberanian untuk bermimpi besar.
Berita terkait: Januari dari Indonesia pecahkan rekor dan raih emas di ASEAN Para Games
Berita terkait: Indonesia finis kedua di ASEAN Para Games dengan 135 emas
Berita terkait: ASEAN Para Games: Indonesia tambah 7 emas, pecahkan 2 rekor di renang
Penerjemah: Donny Aditra, Raka Adji
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026