Nick Beake
Koresponden Eropa, Brussels
Donald Trump menyampaikan pidato yang luas cakupannya di pertemuan puncak Davos di Swiss.
“Tanpa kami, saat ini kalian semua akan berbicara dalam bahasa Jerman,” ujar Presiden Donald Trump kepada hadirin di Forum Ekonomi Dunia di Pegunungan Alpen Swiss pada hari Rabu.
Ia mungkin lupa bahwa bahasa Jerman merupakan bahasa yang paling luas penggunaannya di antara empat bahasa resmi di Swiss.
Banyak orang – dari Brussels hingga Berlin hingga Paris – akan menganggap pidatonya sebagai penghinaan, arogan, dan tidak akurat.
Dalam pidatonya, ia menyampaikan gagasan bahwa Eropa sedang meluncur di jalan yang salah. Ini adalah tema yang kerap dieksplorasi Trump, namun memiliki dampak yang berbeda saat disampaikan di tanah Eropa kepada wajah-wajah yang dianggap sebagai teman dan sekutu.
Tidak diragukan lagi terdapat kelegaan besar di seluruh Eropa bahwa presiden AS menolak penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland dalam forum di Davos.
Tetapi, meskipun ia menepati janjinya, masalah mendasar tetap ada: ia menginginkan sebidang tanah yang menurut pemiliknya tidak untuk dijual.
Meski demikian, usai forum, Trump menulis di media sosial bahwa ia menghentikan ancaman tarif terbarunya terhadap delapan negara Eropa yang ia nilai paling bersalah menghalangi ambisi Arktiknya.
Ia mengklaim telah “membentuk kerangka kesepakatan” untuk Greenland dan Arktik setelah pertemuan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.
Tidak jelas bagaimana rencana ini dapat memenuhi keinginan Trump yang terang-terangan untuk memiliki pulau itu sepenuhnya.
Pajak 10% yang diusulkan sebelumnya seharusnya mulai berlaku pada 1 Februari.
“Yang jelas setelah pidato ini adalah ambisi presiden tetap utuh,” kata Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen kepada wartawan di Kopenhagen – sebelum Trump mengumumkan pembatalannya.
Ia mengatakan komentar Trump mengenai militer “positif jika dipisahkan dari konteks lainnya”.
Beribu-ribu mil dari Davos, di Nuuk, ibu kota Greenland, pejabat pemerintah meluncurkan brosur baru yang memberi nasihat kepada penduduk tentang langkah yang harus diambil jika terjadi “krisis” di wilayah tersebut.
Menteri Kemandirian Peter Borg menyatakan dokumen itu sebagai “polis asuransi”. Ia menegaskan pemerintah Greenland tidak berharap harus menggunakannya.
Yang krusial, tidak ada indikasi dalam pidato Trump bahwa ia akan mencabut ancamannya untuk mengenakan tarif baru terhadap delapan negara Eropa yang ia anggap paling bersalah menghalangi ambisi Arktiknya.
Pajak 10% yang diusulkan dan rencananya berlaku mulai 1 Februari itu tidak disebut-sebut sama sekali.
Segala harapan di Eropa bahwa Presiden Trump akan meredakan krisis transatlantik ini hancur berantakan saat ia mulai memaparkan argumennya yang tak kenal kompromi untuk mengambil alih pulau tersebut.
Ia mengabaikan penegasan Eropa bahwa Greenland adalah wilayah berdaulat Uni Eropa dan menyajikan akuisisinya sebagai transaksi yang wajar mengingat dukungan militer yang telah AS berikan kepada benua itu selama beberapa dekade.
Trump bersikeras bahwa AS salah telah “mengembalikan” Greenland setelah mendapatkannya pada Perang Dunia Kedua.
Greenland tidak pernah menjadi bagian dari Amerika Serikat.
Trump kembali pada refrein lamanya bahwa anggota-anggota Eropa di NATO tidak pernah berbuat apa-apa untuk AS.
Ia secara khusus merendahkan Denmark dengan mengingatkan bagaimana pada 1940 negara itu “jatuh ke tangan Jerman hanya setelah enam jam pertempuran dan sama sekali tidak mampu mempertahankan dirinya sendiri maupun Greenland”.
Pelajaran sejarah militer Trump gagal mengingat bahwa Denmark adalah mitra kunci dalam invasi pimpinan AS ke Afghanistan dan membayar harga yang mahal.
Denmark kehilangan 44 prajurit, secara proporsional lebih banyak daripada sekutu mana pun di luar AS. Mereka juga kehilangan personel bersama pasukan AS di Irak.
Banyak sekutu NATO lainnya mendukung AS setelah serangan 9/11 pada 2001.
Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mendapat cibiran paling banyak.
Ia diejek karena penampilannya dengan kacamata hitam pada hari Selasa – ia mengalami masalah pada mata – dan pembicaraannya yang “keras” di podium.
Trump bersikeras ia menyukai Macron, sebelum melanjutkan: “Sulit dipercaya, bukan?”
Tapi lelucon semacam ini mulai menjemukan bagi banyak pemimpin Eropa.
Mereka telah menghabiskan setahun untuk mencoba memuji, mengesankan, dan menyenangkan presiden AS, dan sebagai balasannya justru dihadiahi ancaman terbesar mereka hingga saat ini.
Uni Eropa berkumpul pada hari Kamis di Brussels untuk pertemuan puncak darurat, dengan politisi-top Eropa memilih untuk menggunakan bahasa terkeras mereka sebagai tanggapan atas kebijakan AS.
Langkah Trump menarik ancaman tarif yang telah memicu negara-negara UE akan mengurangi ketegangan dalam pertemuan tersebut secara signifikan.
Namun, mereka akan ingin tahu apa sebenarnya yang dirancang Trump dan bos NATO sebagai solusi ajaib.
Mereka mungkin kini memutuskan tidak perlu lagi meningkatkan retorika mengenai tarif balasan dan meluncurkan “bazoka perdagangan” UE.
Di awal pidatonya yang berbelit-belit selama satu jam dua belas menit, Presiden Trump membanggakan bahwa di dalam negeri “rakyat sangat puas dengan saya”.
Setelah putaran luar biasa demokrasi ala Trump terbaru ini, sentimen seperti itu jauh lebih sulit ditemukan di Eropa yang katanya sangat ia cintai.