Selasa, 20 Januari 2026 – 06:33 WIB
Pernyataan seorang tokoh agama dari Jawa Tengah, Kiai Ahmad Nuryanto, yang mengaitkan bencana alam di Aceh dengan isu keinginan merdeka, menjadi sorotan luas setelah videonya tersebar di media sosial.
Dalam video yang beredar, Nuryanto menyebut banjir bandang dan tanah longsor di Aceh sebagai bentuk laknat dari Tuhan dan menghubungkannya dengan isu politik. Sebelum pernyataan kontroversial itu, ia lebih dulu menyinggung soal sejarah yang menurutnya telah "dibelokkan". Ia menyatakan bahwa pejuang yang merebut kemerdekaan Indonesia adalah para habaib.
“Kau biarkan kesesatan, kau biarkan pembelokan sejarah, pejuang-pejuang yang memerdekakan Indonesia adalah para habaib, kau biarkan kesesatan bangsamu, sama halnya kau biarkan kehancuran,” ucap Nuryanto.
Pernyataan itu berlanjut dengan pengaitan langsung bencana di Aceh dan isu kemerdekaan. “Kata gusti Allah sama. Aceh, Kota Serambi Mekah, kurang hebat apa, tapi Allah paling laknat hancur itu, kenapa, ingin merdeka aja. Paling enak emang di Indonesia,” lanjutnya.
Banyak warganet menanggapi dan menilai bencana di Aceh adalah fenomena alam yang tidak pantas dijadikan alat politik atau disangkutpautkan dengan narasi agama. Mereka juga menyoroti risiko pernyataan itu yang bisa memperlebar jarak sosial di masyarakat Indonesia yang majemuk.
Tidak lama setelah viral, Kiai Ahmad Nuryanto menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Ia mengakui kesalahan dan menegaskan tidak ada niat menghina masyarakat Aceh.
“Saya Ahmad Nuryanto menyatakan, demi Allah saya tarik pernyataan itu dan saya mengakui kesalahan. Tidak ada unsur kesengajaan untuk mengejek saudara kita yang kena musibah di Aceh,” ujarnya.
Sebagai bentuk penyesalan, Nuryanto menyebut telah menggelar doa bersama (istighosah) dengan jemaahnya untuk Aceh, agar diberi keteguhan iman dan dijauhkan dari bencana.