Minggu, 18 Januari 2026 – 15:26 WIB
Gaza – Ketua Komite Nasional Palestina yang bertugas mengurusi Jalur Gaza, Ali Shaath, secara resmi mengumumkan nama-nama anggota komite tersebut pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Ia menyampaikan bahwa pekerjaan komite akan dimulai dari Kairo sebelum kemudian pindah ke Gaza untuk menjalankan rencana bantuan darurat.
Pengumuman ini disampaikan sehari setelah Gedung Putih memastikan pembentukan Dewan Perdamaian dan menyetujui susunan Komite Nasional Palestina untuk Administrasi Gaza. Komite ini adalah salah satu dari empat badan yang ditunjuk buat mengelola tahap transisi di wilayah tersebut.
Dalam wawancara dengan media pemerintah Mesir, Al-Qahera News, Shaath yang merupakan akademisi bergelar doktor teknik mengatakan dirinya akan menjabat sebagai ketua komite.
Ia menjelaskan komite tersebut mencakup:
- Insinyur Ayed Abu Ramadan (bidang ekonomi, perdagangan, dan industri)
- Abdel Karim Ashour (bidang pertanian)
- Ayed Yaghi (bidang kesehatan)
- Insinyur Osama al-Saadawi (perumahan dan pertanahan)
- Adnan Abu Warda (bidang kehakiman)
Shaath menambahkan Mayor Jenderal Sami Nasman ditugaskan menangani urusan dalam negeri dan keamanan internal. Sementara itu:
- Ali Barhoum (urusan munisipal dan air)
- Bashir Al-Rayes (keuangan)
- Hanaa Terzi (urusan sosial)
- Jabr al-Daour (pendidikan)
- Insinyur Omar al-Shamali (telekomunikasi)
“Kami mengumumkan dari Kairo sebuah komite yang dibentuk untuk melayani rakyat kami, dengan tujuan mengakhiri ketidakadilan historis yang dialami rakyat Gaza,” kata Shaath.
Ia menegaskan komite tersebut dibentuk untuk meringankan penderitaan kemanusiaan dan memperbaiki kondisi hidup warga Palestina.
Shaath menyampaikan terima kasih kepada Mesir dan Presiden Abdel Fattah al-Sisi atas dukungannya untuk Gaza. Ia juga mengapresiasi negara-negara mediator, khususnya Qatar dan Turki, termasuk negara-negara Arab dan pihak lain yang mendukung kerja komite.
Ia mengatakan komite telah mengadopsi rencana rekonstruksi dan pemulihan Gaza yang diusulkan Mesir sebagai dasar kerja mereka.
Rencana yang diluncurkan Kairo pada Maret, dan diadopsi oleh Liga Arab serta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) itu, juga mendapat sambutan dari sejumlah pihak internasional, termasuk Uni Eropa.
Menurut Shaath, rencana tersebut diawali dengan fase penyediaan hunian darurat berupa tempat tinggal sementara. Ini dilakukan sampai rumah-rumah yang hancur akibat serangan Israel dapat dibangun kembali.
Halaman Selanjutnya
Ia menilai tenda tidak memadai sehingga diperlukan unit hunian prefabrikasi yang harus masuk melalui perbatasan Rafah dengan koordinasi bersama Mesir.