Laura Gozzi
Odesa, Ukraina
BBC
Apartemen Sergii, Mariia, dan Eva di Odesa kerap mengalami pemadaman listrik.
Dari apartemen Mariia di lantai 16, perairan Laut Hitam yang tenang membentang hingga ke cakrawala di bawah senja yang memudar.
“Di sini kita bisa melihat dan mendengar saat drone datang,” katanya, berdiri di samping jendela kaca dari lantai ke langit-langit yang memanjang di satu dinding. Saat mereka menghantam gedung dan rumah-rumah di kota Odesa di bawah, “kami juga menyaksikan semua kebakarannya.”
Putri mereka, Eva, yang berusia sembilan tahun, telah mempelajari bentuk dan suara objek-objek yang melintas di langit setiap hari. Dengan bangga ia memperlihatkan daftar saluran media sosial yang ia periksa saat peringatan serangan udara berbunyi.
“Dia tahu apakah yang datang itu sebuah risiko atau ancaman, dan itu menenangkannya,” kata ayahnya, Sergii.
Hampir tidak ada tempat di Ukraina yang tidak menjadi sasaran sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh hampir empat tahun silam.
Tapi dalam beberapa pekan terakhir, Odesa – kota terbesar ketiga di Ukraina – mengalami serangan berkelanjutan. Melalui serangan terhadap infrastruktur pelabuhan dan energi, Rusia berupaya melumpuhkan perekonomian wilayah dan mengikis moral penduduk.
Foto: Disediakan
Pemandangan serangan drone baru-baru ini dari jendela Sergii
Namun, Moskow tidak hanya menyasar fasilitas. Drone-dronenya, yang sebagian besar sebesar sepeda motor, kerap menabrak gedung-gedung tinggi seperti tempat tinggal Masha, meledak saat benturan dan melemparkan kaca serta puing ke dalam. Konsekuensinya sering kali mematikan.
“Beberapa bulan lalu Eva bilang dia takut drone datang terlalu cepat dan kita tidak sempat bersembunyi,” kata Mariia. “Tapi saya jelaskan bahwa jika ia mendekati kita, suaranya akan semakin keras dan kita akan tahu harus lari.”
Mariia, Sergii, dan Eva berasal dari Kherson, wilayah yang terletak 200 km di timur Odesa dan kini sebagian besar diduduki Rusia.
Mereka pergi sesaat setelah invasi dimulai pada 2022; ibu dan anak sempat pindah ke Jerman sebagai pengungsi. Namun Sergii dan Mariia tidak tahan berjauhan, sehingga keluarga itu bersatu kembali di Ukraina dan pindah ke Odesa.
Kini, seiring meningkatnya serangan di wilayah itu, Sergii bertanya-tanya apakah keluarganya harus bersiap pergi lagi. “Perang hanya soal ekonomi, dan Odesa bagi Rusia adalah soal infrastruktur, jadi mereka akan berupaya maksimal untuk menaklukkannya,” ujarnya.
‘Kami bisa lihat dan dengar saat drone datang,’ kata warga Odesa
Berada di barat daya Ukraina, Odesa dahulu merupakan pusat ekonomi sebelum perang. Tapi kini, setelah Rusia menduduki sebagian besar garis pantai Ukraina, wilayah ini menjadi semakin vital. Tiga pelabuhannya adalah yang terbesar di Ukraina dan mencakup satu-satunya pelabuhan air-dalam negara itu. Dengan penyeberangan darat yang terganggu, 90% ekspor Ukraina tahun lalu dikirim via laut.
Tapi di masa perang, pentingnya wilayah ini juga menjadi kelemahannya.
Bulan lalu, Vladimir Putin mengancam akan memutus akses Ukraina ke laut sebagai balasan atas serangan Ukraina terhadap kapal tanker “armada bayangan” yang digunakan Rusia untuk mengakali sanksi.
Ancaman itu telah berubah menjadi dampak nyata. Selama dua tahun, upaya Rusia untuk menggagalkan perekonomian Odesa hampir tak kenal henti – namun beberapa pekan terakhir ini terasa sangat berat.
Serangan udara ke pelabuhan telah menghancurkan kargo dan kontainer serta merusak infrastruktur; awak kapal dagang asing yang beroperasi di Teluk Odesa terluka atau tewas karena drone; dan 800 kali peringatan serangan udara dalam setahun berulang kali menghentikan operasi pelabuhan.
Getty Images
Pemadaman listrik telah menyelubungi sebagian besar Odesa dalam gelap sejak Desember
Hasilnya tahun lalu adalah penurunan 45% pada ekspor produk pertanian, yang vital bagi ekonomi Odesa.
Sehari setelah serangan drone pekan ini yang membakar kapal berbendera Panama dan melukai parah salah seorang awaknya, kepala pemerintah daerah Oleh Kiper mengatakan bahwa pemilik kapal yang memasuki pelabuhan Odesa “sangat memahami bahwa mereka memasuki zona perang” dan bahwa kapal-kapal tersebut diasuransikan.
Tapi jika serangan semacam ini berlanjut, dalam jangka panjang perusahaan asing mungkin akan enggan berdagang dengan pelabuhan itu.
“Setelah serangan seperti tadi malam, orang-orang yang tinggal di sini akan pergi ke tempat perlindungan beberapa waktu, lalu mereka akan bersantai lagi,” kata Maryna Averina dari Layanan Darurat Negara.
Seiring meningkatnya serangan, sirene udara sering berbunyi, tapi tidak semua orang mengindahkannya. Berdiri di depan sebuah gym yang hancur pada pagi setelah serangan drone semalam yang melukai tujuh orang, Maryna Averina dari Layanan Darurat Negara mengakui orang-orang telah menjadi “sangat ceroboh akan keselamatan mereka sendiri.”
Peringatan serangan udara baru-baru ini berlangsung hampir sepanjang hari. “Duduk di tempat perlindungan selama 16 jam jelas tidak realistis,” kata Averina, sementara staf gym keluar dari gedung yang hancur dengan benda apa pun yang berhasil mereka selamatkan dari puing dan besi berantakan di dalamnya.
Meski banyak warga Ukraina kini telah terbiasa dengan serangan drone dan misil, mereka semakin tertekan oleh serangan tanpa henti yang memutus listrik dan pemanas di tengah musim dingin yang amat menyengat.
Pada Desember, hampir satu juta orang di Odesa tidak memiliki daya listrik. “Kami termasuk wilayah pertama yang merasakan bagaimana rasanya melewati periode musim dingin tanpa listrik dan tanpa pemanas,” kata Oleh Kiper.
“Aku hidup dalam harapan bahwa semua ini akan segera berakhir,” kata Yana. “Kita semua sudah hidup seperti ini selama empat tahun, tapi sayangnya, untuk saat ini kondisinya memang demikian.”
Se bulan kemudian, saat suhu berkisar di -1°C, pasokan listrik tetap sangat terganggu.
Ada, 36 tahun, sedang berjalan-jalan di pantai, tak terganggu oleh lolongan sirene peringatan udara yang bercampur dengan teriakan camar. Serangan drone telah meningkat, tapi, katanya, “tembakan-tembakan itu tidak seseram dingin yang ini.”
Di dekatnya, seorang ibu muda bernama Yana setuju. Belakangan ini, katanya, situasi secara keseluruhan “sangat, sangat sulit.” Pada satu titik, sebuah drone menabrak apartemennya, dan tak lama kemudian satu lagi menghantam blok tempat tinggalnya.
Lalu datanglah pemadaman listrik itu. Ia dan keluarganya membeli generator mahal, namun mengoperasikannya selama tujuh jam menghabiskan sekitar $10 – pengeluaran yang signifikan di negara dengan rata-rata gaji bulanan sekitar $500 (£375).
“Sayangnya, kami sudah hidup seperti ini selama empat tahun. Kami serasa lalat yang tak berdaya, segalanya ditentukan oleh pihak berwajib,” ujarnya, sementara berusaha mencegah anak balitanya yang menjerik-jerik masuk ke air yang membeku.
“Mungkin kami sedang dihukum atas sesuatu – seluruh bangsa, bukan hanya segelintir, tapi semua orang.”
Lebih jauh di tepi pantai, Kostya sedang memancing di dermaga yang menjorok ke laut. Ia mengaku tidak khawatir dengan pergerakan pasukan Rusia mendekati kota. “Menurutku mereka tak akan sampai ke sini. [Orang-orang Ukraina] akan mematahkan kaki mereka lebih dulu.”
Namun, ia menambahkan, situasi ini menyakitkan dan menakutkan. Dan seperti banyak warga Ukraina, ia tampak masih sulit menerima kenyataan bahwa perang telah datang ke negerinya empat tahun silam, dilancarkan oleh tetangga yang dulu sangat dikenalnya.
Di masa muda, Kostya pernah bertugas di angkatan darat dan mengucap sumpah kepada Uni Soviet. “Tak pernah kubayangkan akan menyaksikan hal seperti ini di masa tuaku,” katanya.
Sementara para propagandis Rusia sejak lama bersikukuh bahwa kemerdekaan Ukraina sejak 1991 adalah kesalahan sejarah, peran masa lalu Odesa sebagai permata mahkota Kekaisaran Rusia menjadikannya tetap memiliki makna simbolis yang sangat kuat bagi Moskow.
Vladimir Putin berulang kali menyebut Odesa sebagai “kota Rusia” dan acap menggaungkan gagasan “pembebasan Novorossiya,” suatu wilayah historis Kekaisaran Rusia yang mencakup bagian-bagian Ukraina selatan dan timur modern, termasuk Odesa.
“Mereka dulu ingin dan masih ingin merebut Odesa, seperti banyak wilayah lain, tapi hari ini segala daya upaya dilakukan militer kami untuk mencegahnya,” tegas pimpinan pemerintah daerah tersebut.
Getty Images
Patung Maharani Rusia Catherine yang Agung, pendiri Odesa, termasuk yang pertama dibongkar.
Oleh Kiper menjadikannya misi pribadi untuk memutus segala ikatan yang dianggap tersisa antara Odesa dan Rusia. Ia pendukung teguh UU Dekolonisasi 2023, yang menginstruksikan pemerintah daerah untuk menghapus nama jalan, monumen, atau prasasti apa pun yang terkait dengan masa lalu imperialis Rusia.
Diantara patung yang dihapus adalah monumen pendiri Odesa, Maharani Rusia Catherine yang Agung, sementara jalan-jalan yang mengambil nama tokoh Rusia dan Soviet diganti. Jalan Pushkin menjadi Jalan Italia, dan Jalan Catherine kini adalah Jalan Eropa. Kiper juga memperjuangkan penggunaan bahasa Ukraina di kota yang masih sangat luas menggunakan bahasa Rusia.
Ditanya tentang penolakan yang ia temui dari warga Odesa yang bangga akan warisan mereka sebagai pelabuhan multikultural bagi dunia, ia bersikap keras.
“Musuh melakukan jauh lebih banyak dari kita untuk memastikan kota berbahasa Rusia menjadi Ukraina,” kata Kiper. “Itu memaksa orang untuk memahami siapa sebenarnya orang Rusia dan apakah kita membutuhkan mereka sama sekali.”
Keesokan harinya, saat suhu turun hingga -6°C, kota itu mencatat satu bulan pemadaman parsial, dan peringatan serangan udara berlaku selama empat jam. Pelabuhan Chornomorsk, di timur Odesa, kembali dihajar misil balistik, melukai seorang awak kapal sipil.
Seperti halnya wilayah Ukraina lainnya, jika Rusia tak dapat memiliki Odesa, tampaknya mereka bertekad untuk terus melumpuhkannya.
Pelaporan tambahan oleh Liubov Sholudko.