Keamanan dan Keselamatan Kerja: Inti dari Tata Kelola Operasi Pertambangan

Jumat, 16 Januari 2026 – 18:11 WIB

Jakarta, VIVA – Di industri pertambangan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah faktor kunci yang memengaruhi kelanjutan operasi dan stabilitas produksi. Sifat pekerjaan tambang yang punya risiko tinggi membuat manajemen keselamatan bukan cuma jadi kewajiban hukum, tapi juga bagian dari tata kelola operasional dan manajemen risiko perusahaan.

Pendekatan ini terlihat dalam pelaksanaan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (BK3N) 2026 di lingkungan PT Nusa Halmahera Minerals (NHM). Perusahaan memasukkan agenda keselamatan kerja dalam kerangka pengelolaan pertambangan yang terstruktur, sesuai dengan pedoman K3 nasional untuk sektor pertambangan.

Pelaksanaan BK3N 2026 mengacu pada surat edaran Direktur Teknik dan Lingkungan yang juga Kepala Inspektur Tambang (KaIT) tentang tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan Keselamatan Pertambangan Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif.” Tema ini menekankan hubungan antara kompetensi SDM, sistem manajemen risiko, dan koordinasi lintas fungsi dalam mengelola keselamatan kerja di area tambang.

Di tingkat operasional, NHM menghubungkan penerapan K3 dengan peningkatan keterampilan pekerja dan kepatuhan pada SOP. Selain itu, perusahaan menekankan penguatan sistem manajemen keselamatan lewat inspeksi peralatan, pelaporan kondisi tidak aman, serta penerapan praktik kerja aman di semua area.

Mewakili Kepala Teknik Tambang (KTT), General Manager Geology, Resources and Support – Project & Planning NHM, Denny Lesmana, menyampaikan bahwa keselamatan kerja harus dipahami sebagai bagian dari proses operasional harian. “Tema BK3N 2026 bukan cuma slogan, tapi fondasi dan arahan untuk menjalankan operasi tambang dengan aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan,” ujarnya, seperti dikutip dari siaran pers, Jumat (16/1/2026).

Ia juga menekankan bahwa pengelolaan keselamatan pertambangan melibatkan semua bagian organisasi dan mitra kerja. “Dunia tambang adalah kerja ekosistem. Karena itu, tidak boleh ada silo mentality yang malah menghambat tujuan bersama untuk mewujudkan keselamatan pertambangan,” tegasnya.

MEMBACA  BYD Berencana Membuka 50 Diler di Indonesia

Dalam kerangka tata kelola, NHM terus menerapkan beberapa instrumen pengelolaan keselamatan dan lingkungan, seperti Audit Internal SMKP, Audit Eksternal ISO 14001 dan ISO 45001, penerapan Critical Control Management (CCM), serta Leadership Walk About (LWA). Instrumen-instrumen ini digunakan untuk mengidentifikasi dan mengendalikan risiko operasi secara terus-menerus.

Halaman Selanjutnya

Rangkaian kegiatan selama periode BK3N 2026 mencakup program kesehatan dan keselamatan pekerja, termasuk kegiatan pencegahan dan sosialisasi K3. Program-program ini dijadikan bagian dari upaya mengelola risiko sumber daya manusia di area operasional tambang.

Tinggalkan komentar