Setelah Bebas dari Rutan Pondok Bambu, Laras Faizati Mengakui Trauma dalam Memperjuangkan Keadilan

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTALaras Faizati Khairunnisa akhirnya bisa hirup udara bebas. Dia selesai menjalani masa tahanan di Rumah Tahanan (Rutan) Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Kamis (15/1/2026) malam.

Laras dibebaskan dengan syarat setelah sebelumnya terlibat kasus dugaan hasutan di media sosial terkait demo Agustus 2025.

Perempuan kelahiran 19 Januari 1999 itu keluar dari rutan memakai kaus pink bertuliskan “Kritik bukan kriminalitas”.

Baca juga: Hakim Ketuk Palu, Tangis Keluarga Pecah Sambut Kebebasan Laras Faizati

Tangis haru meyambut dia saat bertemu kembali dengan keluarganya yang sudah menunggu diluar.

Pada awak media, Laras ngungkapkan rasa syukurnya atas kebebasan ini.

Dia bilang momen ini seperti kemerdekaan kedua dalam hidupnya.

“Rasanya hari ini seperti dapat kemerdekaan lagi, sebagai warga Indonesia, sebagai pemuda, dan sebagai perempuan,” kata Laras.

Laras adalah satu dari tersangka yang ditangkap polisi karena diduga menghasut lewat medsos saat demo Agustus 2025.

Kasusnya lalu lanjut ke persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Walau sudah bebas, Laras akui masih ada ketakutan dan trauma untuk kembali suarakan keadilan secara terbuka.

Dia bilang, pengalaman ditangkap dan ditahan nggak cuma pengaruhi dirinya, tapi juga keluarga dan teman-temannya.

“Jujur, pasti ada rasa takut dan trauma. Yang kena bukan cuma aku, tapi banyak juga teman-teman pemuda dan perempuan,” ungkapnya.

Dia ngomong, buat sementara ini dia belum berani lagi suarakan isu-isu keadilan, terutama yang berhubungan dengan pembelaan perempuan.

Tapi, Laras berharap negara bisa sediakan ruang aman buat perempuan untuk ekspresikan diri dan sampaikan pendapat tanpa takut.

Baca juga: Jelang Vonis, Laras Faizati Berharap Bebas dan Pulang Jelang Ulang Tahun

MEMBACA  Robert Herjavec dari Shark Tank Ungkap Nasihat Karier Terbaik untuk Gen Z dari Mark Cuban: Tak Ada yang Peduli dengan "Passion"-mu

“Harapan aku ke negara, supaya perempuan berani bicara, negara harus bisa ciptakan ruang aman buat kita bersuara, berekspresi, dan berdaulat,” tuturnya.

Tinggalkan komentar