Prancis Buka Konsulat di Greenland sebagai ‘Sinyal Politik’ ke AS

Ancaman Washington untuk merebut pulau strategis tersebut telah memicu krisis di antara negara-negara NATO.

Diterbitkan Pada 14 Jan 2026

Prancis bersiap membuka sebuah konsulat di Greenland bulan depan, sebuah langkah yang disebutnya mencerminkan keinginan pulau semi-otonom itu untuk tetap menjadi bagian dari Denmark dan Uni Eropa.

Menteri Luar Negeri Jean-Noel Barrot mengatakan kepada penyiar RTL pada Rabu bahwa pembukaan konsulat di wilayah pemerintahan-sendiri Denmark itu, yang dijadwalkan pada 6 Februari, merupakan “sinyal politik” di tengah ancaman yang berlanjut dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengambil alih kendali atas pulau tersebut.

Rekomendasi Cerita

“Ini adalah sinyal politik yang dikaitkan dengan keinginan untuk lebih hadir di Greenland, termasuk di bidang ilmiah,” ujar Barrot.

“Greenland tidak ingin dimiliki, diperintah … atau diintegrasikan ke dalam Amerika Serikat. Greenland telah memilih Denmark, NATO, [Uni] Eropa.”

Komentar menteri luar negeri Prancis itu disampaikan seiring dengan rencana pertemuan rekan-rekannya dari Denmark dan Greenland, Lars Lokke Rasmussen dan Vivian Motzfeldt, dengan Wakil Presiden AS JD Vance di Washington, DC, untuk membahas pulau tersebut.

Pernyataan berulang Trump bahwa wilayah Arktik itu akan dibawa di bawah kendali AS “dengan satu atau lain cara” telah menciptakan krisis di dalam NATO.

Sekutu-sekutu Eropa telah memperingatkan bahwa pengambilalihan pulau itu akan memiliki dampak serius bagi hubungan antara AS dan Eropa.

Trump menyatakan AS membutuhkan Greenland, di mana Washington telah lama mempertahankan pangkalan militer, karena ancaman pengambilalihan yang ditimbulkan oleh Rusia dan Tiongkok. Ia mengklaim bahwa Denmark telah mengabaikan keamanan wilayah tersebut.

Juga dicatat bahwa Greenland memiliki kekayaan mineral yang signifikan, termasuk minyak dan gas serta logam tanah jarang yang diperlukan untuk produk-produk teknologi.

MEMBACA  Niger Cabut Izin Pengemudi Tangki yang Menolak Bertugas

Menteri pertahanan Denmark mengatakan pada Rabu bahwa mereka berencana untuk “memperkuat” kehadiran militernya di Greenland dan sedang berdialog dengan sekutu-sekutunya di NATO.

“Kami akan terus memperkuat kehadiran militer kami di Greenland, tetapi kami juga akan lebih fokus dalam NATO pada lebih banyak latihan dan peningkatan kehadiran NATO di Arktik,” tulis Troels Lund Poulsen dalam sebuah pernyataan kepada kantor berita AFP.

‘Masalah Besar’

Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen mengatakan pada Selasa bahwa wilayah itu ingin tetap menjadi bagian dari Denmark daripada bergabung dengan AS.

“Kami sekarang menghadapi krisis geopolitik, dan jika kami harus memilih antara Amerika Serikat dan Denmark di sini dan sekarang, kami memilih Denmark,” katanya dalam konferensi pers di Kopenhagen.

Ditanya tentang komentar Nielsen, Trump membalas: “Saya tidak setuju dengannya. Saya tidak tahu siapa dia. Saya tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Tapi itu akan menjadi masalah besar baginya.”

Retorika agresif presiden AS terus memicu janji dukungan bagi Denmark dan Greenland dari negara-negara NATO lainnya.

Barrot mengatakan keputusan untuk membuka konsulat diambil pada musim panas ketika Presiden Emmanuel Macron mengunjungi Greenland sebagai bentuk dukungan. Barrot menyebutkan ia telah mengunjungi pulau itu pada Agustus untuk menyusun rencana konsulat.

Tinggalkan komentar