Hal yang paling tidak terduka dari serial Game of Thrones adalah rasa nyaman yang diberikannya.
Bagaimanapun, kenyamanan memang langka dalam Game of Thrones dan prekuelnya, House of the Dragon. Dalam serial-serila itu, kita beruntung jika bisa melewati satu episode tanpa menyaksikan kombinasi kekerasan grafis, pemerkosaan, atau penyiksaan.
LIHAT JUGA:
‘Knight of the Seven Kingdoms’: 5 Hal yang Kita Pelajari dari Panel New York Comic Con
Namun, “menyejukkan” justru kata itulah yang terlintas saat memikirkan spin-off terbaru Game of Thrones dari HBO, A Knight of the Seven Kingdoms. Serial berskala lebih ringan dan intim yang diangkat dari novella Tales of Dunk and Egg karya George R.R. Martin ini adalah penawar terbaik bagi kelelahan siapa pun akan dunia Westeros yang suram dan kejam.
A Knight of the Seven Kingdoms Tidak Mirip Serial Game of Thrones Lainnya.
Peter Claffey dalam “A Knight of the Seven Kingdoms.”
Credit: Steffan Hill / HBO
A Knight of the Seven Kingdoms langsung membedakan dirinya dari pendahulunya, bahkan dengan secara harfiah ‘membuang’ kesan megah dari tema lagu Game of Thrones karya Ramin Djawadi yang terkenal itu.
Namun, lelucon tentang kotoran itu jangan dilihat sebagai penghinaan terhadap Game of Thrones atau House of the Dragon. Itu lebih sebagai cara untuk menata ulang ekspektasi. Hampir tidak ada ciri khas yang biasa dikaitkan dengan serial lain di Westeros yang tampak dalam A Knight of the Seven Kingdoms. Tidak ada intrik politik berbahaya di bilik-bilik samping Benteng Merah, tidak daftar panjang lokasi fantasi yang berganti-ganti, dan sudah pasti tidak ada naga.
Tapi tahukah Anda apa yang dimiliki A Knight of the Seven Kingdoms namun tidak dimiliki Game of Thrones dan House of the Dragon? Seorang pria yang sangat jangkung dan sangat baik hatinya. Dan ternyata, itulah justru yang dibutuhkan franchise Westeros.
Mashable Top Stories
LIHAT JUGA:
Apakah ‘A Knight of the Seven Kingdoms’ Cocok untuk Anak-Anak?
Ser Duncan the Tall adalah Pahlawan Besar Berikutnya di Westeros.
Peter Claffey dalam “A Knight of the Seven Kingdoms.”
Credit: Steffan Hill / HBO
Pria jangkung dan baik itu tak lain adalah Ser Duncan “Dunk” the Tall (Peter Claffey). Dulunya ia adalah pelatih bagi ksatria keliling Ser Arlan of Pennytree (Danny Webb), namun setelah sang master meninggal di adegan pembuka, Dunk mengambil alih mantel kesatria dan pergi ke turnamen di Ashford Meadow. Di sana, ia berharap bisa merintis jalannya sendiri sebagai ksatria dan sekaligus mendapatkan sedikit uang.
Dunk bukanlah tipe pahlawan yang kita harapkan dari alam Game of Thrones. Ia bukan berasal dari rumah bangsawan, bukan petarung yang paling tangguh, dan bahkan tidak terlalu cerdas. (“Dunk si Lunk, sekeras tembok kastil” adalah julukan umum dalam novella Martin.) Namun apa yang kurang pada Dunk, lebih dari terbayarkan dengan satu hal kunci: Ia sangat baik hati.
LIHAT JUGA:
Trailer ‘A Knight of the Seven Kingdoms’ Janjikan Aksi Jousting Epik di Westeros
Bagi Dunk, kekesatriaan bukan soal kemuliaan atau pertempuran. Ia tentang melindungi yang lemah dan melakukan apa yang benar — dan setelah dua musim bersama Criston Cole di House of the Dragon, integritas itu terasa seperti hembusan angin segar yang menyegarkan. Namun, rasa kehormatan Dunk tidak termanifestasi dalam sikap sok suci. Melainkan, ia memancar dari tubuhnya yang (sangat) tinggi dalam gelombang kehangatan yang justru membuat Dunk bingung. Dibesarkan di kawasan kumuh Flea Bottom yang penuh hukum rimba, dan sering direndahkan bahkan dipukuli oleh Ser Arlan, ia tak menyangka bahwa dirinya sebenarnya baik. Claffey memerankan keraguan diri ini dengan sifat pemalu yang menarik, sering mengecilkan posturnya yang besar seakan malu mengambil tempat di dunia. Namun, banyak orang yang Dunk temui di Ashford Meadow menyadari keistimewaannya, dari Lyonel Baratheon (Daniel Ings) yang suka pesta hingga seorang anak lelaki botak misterius yang hanya dikenal sebagai Egg (Dexter Sol Ansell).
Egg memutuskan untuk menjadi pelatih Dunk, awalnya tentu saja membuat Dunk kesal. Ia baru saja menjadi ksatria, sekarang harus menjaga anak yang lancang? Namun segera, keduanya mengembangkan kemitraan unik yang menyenangkan: Dunk, setinggi mungkin, dengan hampir tidak ada tulang bijak dalam tubuhnya, dan Egg, kurus dan kecil, namun ternyata sangat berpengalaman (dan lidahnya tajam). Claffey dan Ansell adalah anugerah saat bersama, baik saat bertengkar di tengah turnamen yang ramai maupun menikmati keheningan di bawah bintang. Sejak Sandor Clegane dan Arya Stark, Westeros belum menyaksikan duo serigala sendirian dan anaknya yang begitu berkesan — meski di sini, hubungan mereka langsung dimulai dengan lebih manis, karena si anak tidak berniat membunuh si serigala. (Meski mungkin menyindirnya.)
A Knight of the Seven Kingdoms Menemukan Keagungan dalam Hal-Hal Kecil.
Dexter Sol Ansell dalam “A Knight of the Seven Kingdoms.”
Credit: Steffan Hill / HBO
Kemanisan persahabatan yang baru tumbuh antara Dunk dan Egg benar-benar bersinar berkat skala kecil A Knight of the Seven Kingdoms. Kita jarang meninggalkan arena turnamen di Ashford Meadow, yang dihadirkan tim produksi dengan kemegahan yang terasa nyata, penuh tenda berlumpur dan zirai usang. Elemen-elemen yang sudah sering dipakai ini menciptakan atmosfer yang membumi, di mana rakyat jelata yang bekerja keras menemukan sukacita, baik dengan menonton pertandingan maupun menikmati pertunjukan boneka yang dibuat dengan indah. Mengingat penggambaran Westeros di layar sebelumnya kebanyakan fokus pada masa perang, menonton momen-momen kecil kehidupan dan kesenangan sehari-hari ini terasa menenangkan.
Ini bukan berarti A Knight of the Seven Kingdoms bebas dari konflik dan aksi. Serial ini menampilkan beberapa adegan jousting yang memikat, serta pertarungan tangan kosong yang termasuk paling visceral di seluruh franchise. Selain itu, keluarga Targaryen muncul dan menimbulkan drama, seperti kebiasaan mereka.
Namun bahkan saat itu, fokusnya tetap terutama pada hubungan Dunk dan Egg, dan solidaritas yang mereka temukan dengan orang-orang yang mereka temui. Itulah inti A Knight of the Seven Kingdoms: orang-orang baik yang berusaha saling membantu sebaik mungkin. Ini adalah perubahan yang menyegarkan dalam jajaran Game of Thrones HBO, dan bukti bahwa dunia Westeros bisa lebih dari sekadar pertarungan brutal antar keluarga yang berperang. Lebih dari itu, serial ini adalah obat penyejuk jiwa.
A Knight of the Seven Kingdoms tayang perdana 18 Januari pukul 22.00 ET di HBO dan HBO Max.