Dari Eksperimen ke Komunitas: Dua Inisiatif AI iQIYI Menyoroti Manusia sebagai Inti Kreasi

Beijing (ANTARA/PRNewswire) – iQIYI, platform hiburan online terkemuka dari Tiongkok, sedang mendefinisikan ulang kolaborasi kreatif dengan mengintegrasikan AI ke dalam jantung produksi konten. Selama setahun terakhir, perusahaan ini terus mengubah inovasi menjadi praktik, meluncurkan dua inisiatif andalan, yaitu Kompetisi Pembuatan Film Pendek AI "Beyond Tools, Toward Teammates" dan Lab Bercerita "Peter Pau × iQIYI AI Theater". Inisiatif-inisiatif ini telah menyatukan lebih dari 2.600 kreator dari lebih 30 negara dan wilayah, dengan tujuan untuk menghubungkan, mendukung, dan mengungkap suara-suara kreatif yang membentuk cara bercerita di era AI.

Pada Juli 2025, iQIYI meluncurkan Kompetisi Pembuatan Film Pendek AI "Beyond Tools, Toward Teammates" bekerja sama dengan Google dan Volcano Engine milik ByteDance, menunjukkan bagaimana AI membentuk ulang ekspresi kreatif dalam pembuatan film. Dua bulan kemudian, iQIYI meluncurkan Lab Bercerita "Peter Pau × iQIYI AI Theater" yang dipimpin oleh Sinematografer dan Sutradara pemenang Academy Award, Bapak Peter Pau. Program ini membina pembuat film profesional dalam produksi berbasis AI, menjembatani visi artistik dengan teknologi baru. Karya-karya terpilih dari lab ini dijadwalkan tayang perdana di platform iQIYI pada kuartal pertama tahun 2026.

Melalui wawancara dengan kreator yang berpartisipasi, iQIYI menemukan bahwa, meskipun kemajuan AI sangat cepat dan terlihat dalam setahun terakhir, kebanyakan kreator sampai pada kesimpulan yang sama: walaupun AI adalah penguat imajinasi yang kuat, ia tidak akan pernah bisa menggantikan percikan unik dari kreativitas manusia.

Kreator Berbeda, Satu Rasa Ingin Tahu yang Sama

Youxue CHEN – Pemenang Juara Pertama Kompetisi Film Pendek AI "Beyond Tools, Toward Teammates"

"Bagi saya, nilai AI bukan cuma tentang efisiensi atau menurunkan biaya, tapi tentang membuat yang tidak mungkin menjadi nyata," kata CHEN, yang filmnya "Happy Land" memenangkan juara pertama. Dengan AI, CHEN meninjau kembali cerita yang pernah dia tunda karena "terlalu sulit untuk difilmkan", dan menemukan kedalaman emosi baru melalui eksperimen. "Tantangan sebenarnya bukan mempertunjukkan kehebatan AI, tapi menggerakkan penonton. Dengan karya ini, kami menemukan metode kreatif yang andal dan itu baru awalnya. Kita berada di ambang era baru, di mana imajinasi tidak mengenal batas."

MEMBACA  Distribusi BSU Ditargetkan Selesai Akhir Juli 2025, PosIDN Siaga Penuh

Mario dan Linda – Finalis Kompetisi Film Pendek AI "Beyond Tools, Toward Teammates"

Tim suami-istri asal Indonesia di balik film "Grow" menggambarkan proyek mereka sebagai renungan tentang perjalanan dan ketahanan hidup. Menggunakan AI, mereka menggabungkan narasi emosional dengan sinematografi artistik. Bagi mereka, AI bukan pengganti, tapi pemampu: "AI adalah alat bermanfaat yang membantu kami mewujudkan ide kreatif lebih mudah, cepat, dan efisien. Ia juga memungkinkan orang tua seperti kami untuk berkarya dari rumah, dikelilingi anak-anak yang sedang bermain, membawa cerita dan imajinasi kami ke dunia film yang memikat."

Liu ZHENG – Finalis Kompetisi Film Pendek AI "Beyond Tools, Toward Teammates"

"AI bukan pengganti, ia adalah kekuatan super," kata ZHENG, seorang produser profesional. "Dulu saya punya gambaran jelas di pikiran yang tak bisa saya wujudkan sendiri; sekarang, AI telah menjadi penerjemah paling langsung saya, mengubah imajinasi tanpa batas menjadi kenyataan. Melihat semua prompt itu berkembang menjadi cerita yang koheren dan menyaksikan dunia paralel yang saya bayangkan hidup, itu adalah rasa pencapaian yang tak tertandingi. Target saya di 2026 adalah mengambil tantangan baru sebagai produser dan membuat film berbasis AI yang lebih besar dan ambisius."

Kontak:
Tim Pers iQIYI, [email protected]

Sumber: iQIYI Inc.

Reporter: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar