Selama beberapa dekade, Reza Pahlavi merupakan wajah sopan dari oposisi Iran di pengasingan—seorang mantan penerbang tempur yang berbicara tentang perlawanan tanpa kekerasan dan demokrasi sekuler dari kediamannya di Amerika Serikat.
Namun akhir pekan ini, nada dari pewaris Tahta Merak yang berusia 65 tahun dan putra dari syah Iran terakhir itu berubah secara dramatis.
Dalam sebuah tantangan langsung kepada pemerintah Iran, Pahlavi menyerukan kepada rakyat Iran untuk “merebut pusat-pusat kota” dan bersiap untuk kepulangannya yang segera, yang memicu apa yang digambarkan media negara Iran sebagai “serangan teroris bersenjata” di seluruh negeri.
“Tujuan kita tidak lagi sekadar turun ke jalan,” deklarasi Pahlavi dalam sebuah pernyataan yang dirilis di akun X-nya. “Tujuannya adalah untuk bersiap merebut pusat-pusat kota dan mempertahankannya.”
Dari Pewaris ke Pengasingan
Lahir di Tehran pada 31 Oktober 1960, Pahlavi secara resmi dinobatkan sebagai pangeran mahkota pada usia tujuh tahun. Jalannya seolah ditakdirkan untuk naik takhta hingga revolusi 1979 mengguncang kawasan.
Pada usia 17 tahun, ia meninggalkan Iran untuk pelatihan penerbang tempur di AS di Pangkalan Angkatan Udara Reese, Texas. Selama ketiadaannya, monarki runtuh, dan sistem politik saat ini berdiri, yang menghalangi kepulangannya.
Pahlavi menyelesaikan pelatihannya dan kemudian meraih gelar dalam ilmu politik dari University of Southern California. Selama Perang Iran-Irak pada 1980-an, ia secara terkenal mengajukan diri untuk bertugas sebagai penerbang tempur bagi negaranya namun ditolak oleh otoritas di Tehran.
Sejak saat itu, ia hidup di pengasingan, tinggal di AS bersama istrinya, Yasmine Pahlavi, dan ketiga putri mereka.
‘Bersiap untuk Pulang’
Selama lebih dari 40 tahun, Pahlavi mengadvokasi referendum dan perubahan tanpa kekerasan. Namun, retorikanya telah mengeras secara signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Pada hari Sabtu, ia mendesak pekerja di sektor-sektor kunci—transportasi, minyak, dan gas—untuk melancarkan pemogokan nasional guna “memutus jalur kehidupan finansial” negara. Ia secara khusus menyerukan kepada “pemuda Garda Abadi”—bekas pasukan kekaisaran—dan angkatan keamanan untuk membelot.
“Saya juga sedang bersiap untuk kembali ke tanah air agar pada saat kemenangan revolusi nasional kita, saya dapat berada di samping kalian,” ujarnya.
Seruannya untuk bertindak ini muncul di tengah laporan tentang protes antpemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Pahlavi meminta pendukungnya untuk mengibarkan bendera “Singa dan Matahari” pra-1979, simbol pemerintahan ayahnya, dan menduduki ruang-ruang publik mulai pukul 18.00 waktu setempat (14.30 GMT).
Tuduhan ‘Teroris’
Tanggapan dari Tehran sangat keras. Pada hari Minggu, outlet media afiliasi negara mencap protes-protes tersebut sebagai “fase baru ketidakamanan” dan “perang bersenjata internal”.
Sebuah laporan oleh surat kabar konservatif Vatan-e Emrooz, yang dikutip oleh kantor berita Tasnim, menggambarkan seruan Pahlavi sebagai kedok bagi “nukleus teroris” untuk menyerang polisi dan pasukan Basij.
“Jangan salah; ini bukan sekadar kerusuhan … ini adalah serangan teroris bersenjata,” bunyi laporan tersebut, mengklaim bahwa puluhan personel keamanan telah tewas.
Para pejabat menghubungkan eskalsi Pahlavi dengan campur tangan asing, secara khusus menuduh AS dan Israel. Mereka mengklaim kerusuhan ini adalah “Rencana B” oleh Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyusul berakhirnya perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Mei tahun lalu.
‘Oposisi Melawan Oposisi’?
Sementara Pahlavi menemukan popularitas yang baru di jalanan, ia menghadapi kritik tajam dari dalam oposisi Iran yang terfragmentasi.
Alireza Nader, seorang pakar Iran, berargumen dalam sebuah artikel terbaru bahwa aktivitas politik Pahlavi telah menjadi memecah belah. Para kritikus menuduh lingkaran dalamnya menyerang pembangkang terkemuka lainnya, seperti pemenang Hadiah Perdamaian Nobel Narges Mohammadi, dengan mencap mereka sebagai “kiri” atau “teroris”.
“Pahlavi justru semakin memperkuat penasihat-penasihatnya meskipun ada ketidaknyamanan orang lain terhadap mereka,” tulis Nader, mempertanyakan apakah pangeran ini telah menjadi “oposisi melawan oposisi”.
Ada juga kekhawatiran tentang manipulasi. Nader mencatat bahwa dukungan daring untuk Pahlavi sebagian didorong oleh cyber-army yang terhubung dengan pemerintah Iran, yang dirancang untuk menabur perpecahan, sehingga memunculkan pertanyaan tentang “siapa yang mengkooptasi siapa”.
Terlepas dari perpecahan internal ini, Pahlavi tetap menjadi figur paling terlihat untuk gelombang kerusuhan saat ini. Dengan pemerintahan Trump yang mempertahankan pendekatan tidak campur tangan—menyatakan bahwa “terserah rakyat Iran untuk memilih pemimpin mereka sendiri”—dan jalanan Tehran yang membara, pangeran pengasingan ini tampaknya sedang melakukan taruhan terakhhirnya untuk takhta yang hilang 47 tahun silam.