Pendiri Startup Singapura, Anand Roy, Percaya Kecerdasan Buatan Generatif Dapat Memperbaiki Sektor Musik yang Rusak

Dulu, Anand Roy membuat musik dengan band progressive rock-nya di Bangalore. Sekarang, dia buat musik hanya dengan menekan tombol di startup-nya, Wubble AI. Aplikasi ini bisa bikin, edit, dan sesuaikan musik bebas royalti dalam lebih dari 60 genre.

Roy mulai Wubble bareng co-founder-nya, Shaad Sufi, tahun 2024 dari kantor kecil di Singapura. Platformnya sudah bikin musik untuk perusahaan besar kayak Microsoft, HP, L’Oreal, dan NBCUniversal. Bahkan musik AI-nya dipakai di Taipei Metro untuk tenangkan penumpang yang stres.

AI generatif sering jadi perdebatan di industri kreatif. Banyak seniman dan musisi khawatir AI akan pakai karya mereka tanpa izin dan gantikan peran manusia.

Tapi Roy pikir Wubble justru perbaiki industri musik yang sudah rusak. Di situs streaming kayak Spotify, bayaran untuk artis sangat kecil dan hanya menguntungkan artis terkenal saja.

Roy kerja hampir 20 tahun di Disney, mengawasi operasi di Tokyo, Mumbai, dan Los Angeles. Pengalaman itu buka matanya soal proses lisensi musik yang rumit dan mahal.

“Banyak perjanjian lisensi gagal karena paperwork yang banyak, birokrasi, dan prosesnya terlalu kompleks,” katanya. Perusahaan musik lama, lanjutnya, tidak punya motivasi untuk permudah proses.

Wubble coba cara lain: bekerja langsung dengan musisi dan bayar mereka untuk bahan baku latih AI-nya. “Kalau kami butuh musik Latino hip hop, kami datangi studio rekaman di Buenos Aires atau Rio dan minta 10 jam rekaman,” jelas Roy. Wubble bayar sekali dengan harga yang menurutnya lebih baik dari layanan streaming lain.

Roy akui bayaran sekali itu belum solusi sempurna. Dia sedang teliti teknologi seperti blockchain untuk cari cara baru bayar musisi yang bantu latih AI.

MEMBACA  Berikut judul yang telah ditulis ulang dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Citi Turunkan Target Harga Saham Peloton (PTON), Pertahankan Rekomendasi Netral (Teks asli tidak diulang sesuai permintaan.)

David Gunkel, pengajar dari Northern Illinois University, pikir latih AI pakai materi dari artis itu lebih pintar daripada ambil sembarangan dari internet.

Perusahaan seperti Disney, Universal, dan Warner Bros. sudah tuntut perusahaan AI kayak Midjourney karena langgar hak cipta karakter seperti Darth Vader.

“Kalau kamu pilih data dengan hati-hati, beri kompensasi dan kredit ke artisnya, kamu tidak akan kena tuntutan hukum,” jelas Gunkel. “Itu praktik bisnis yang lebih baik untuk keberlanjutan jangka panjang.”

Generasi teks-ke-suara

Saat ini Wubble hanya tawarkan musik instrumental dan efek audio, tapi Roy bilang suara adalah langkah berikutnya. Akhir Januari nanti, platformnya akan tawarkan suara AI dari naskah tertulis untuk klien yang butuh narasi audio. “Jadi, seluruh alur kerja konten audio bisnis bisa ada di Wubble,” ujarnya bangga.

Startup AI musik bermunculan di seluruh dunia. Ada yang seperti Suno yang buat lagu utuh, ada juga seperti Moises yang kasih alat untuk artis.

Di Asia, startup Korea Supertone tawarkan sintesis dan kloning suara. Perusahaan ini diakuisisi oleh HYBE, perusahaan di balik BTS, dan sekarang debutkan grup virtual K-pop bernama SYNDI8.

Pendiri Supertone, Kyogu Lee, bilang artis musik adalah “rekan kreasi” yang bantu sempurnakan teknologi AI.

“AI akan demokratisasi proses kreatif, jadi setiap orang bisa eksperimen dengan teknologi baru ini,” katanya.

Roy dari Wubble juga lihat AI sebagai cara untuk mempermudah lebih banyak orang terlibat dalam kreasi musik. “Buat musik selalu jadi hak istimewa. Hanya untuk yang punya waktu dan sumber daya belajar alat musik,” katanya. “Kami percaya setiap manusia harus bisa mencipta—dan AI memungkinkan itu sekarang.”

Tinggalkan komentar