Jumat, 19 Desember 2025 – 20:30 WIB
Jakarta, VIVA – Di tengah banyaknya produk skincare dengan klaim bermacam-macam, pertanyaan paling mendasar yang sering muncul di benak konsumen adalah: apakah skincare yang dipakai benar-benar efektif dan aman untuk jangka panjang?
Baca Juga:
Mengulik Manfaat Peeling Serum, Aman Gak Sih Buat Skin Barrier?
Pertanyaan ini makin relevan, terutama bagi konsumen di negara tropis seperti Indonesia. Panas, kelembapan tinggi, dan paparan polusi dapat memengaruhi kondisi kulit secara signifikan. Scroll untuk info lengkapnya, yuk!
Menurut para ahli, efektivitas skincare tidak hanya ditentukan oleh banyaknya bahan aktif atau tren yang viral. Kunci utamanya justru ada pada keseimbangan formulasi, stabilitas bahan, dan kemampuan produk untuk bekerja tanpa merusak skin barrier.
Baca Juga:
Rahasia Tampil Lebih Segar Tanpa Ubah Bentuk Wajah, Ini Tren Anti Aging yang Bakal Booming di 2026
Dermatolog dan Skin Expert, Dr. Claudia Christin, MBBS, PhD, menjelaskan bahwa kesalahan umum dalam memilih skincare adalah mengira produk dengan kandungan aktif tinggi selalu memberikan hasil lebih cepat.
“Dari sudut pandang dermatologi, efektivitas skincare sangat ditentukan oleh cara bahan aktif digabung dalam formula yang stabil, seimbang, dan bisa ditoleransi kulit. Banyak masalah kulit di iklim tropis muncul karena formulasi yang terlalu kuat atau tidak stabil, sehingga memicu sensitivitas dan melemahkan skin barrier,” ujar Dr. Claudia dalam keterangannya, dikutip Jumat 19 Desember 2025.
Baca Juga:
Dokter Peringatkan Bahaya Krim Pemutih, Sebabkan Gagal Ginjal hingga Cacat Janin
“Pendekatan yang digunakan Sungboon Editor, yaitu pemilihan bahan yang purposeful dan tidak berlebihan, membantu kulit merespons dengan lebih konsisten. Formula yang seimbang memungkinkan kulit mempertahankan tekstur halus, hidrasi stabil, serta barrier yang lebih kuat,” sambungnya.
Pendekatan berbasis sains ini semakin dicari konsumen Indonesia. Mereka tidak hanya ikut tren, tetapi mulai mempertanyakan bagaimana sebuah produk bekerja di kulitnya. Hal ini terlihat dari makin tingginya minat terhadap skincare dengan klaim clean ingredients, dermatologist tested, serta fokus pada penguatan skin barrier.
Perubahan perilaku konsumen ini juga diamati oleh pelaku industri kecantikan. Chrisanti Indiana, Co-founder dan CMO Social Bella Indonesia, mengungkap ada pergeseran signifikan dalam cara konsumen memilih produk perawatan kulit.
“Sepanjang tahun ini, kami lihat perubahan menarik dalam cara konsumen memilih skincare. Mereka tidak lagi cari apa yang sedang tren, tetapi semakin paham pentingnya formulasi yang benar-benar bekerja dan aman untuk dipakai jangka panjang. Hal ini tercermin dari performa kategori Korean skincare di Sociolla yang tahun ini tumbuh 55 persen dari 2024. Temuan dari SOCO Insight Factory juga menunjukkan pola serupa, di mana pencarian terbanyak untuk produk dengan klaim skin barrier strengthening, clean ingredients, dan dermatologist tested,” jelasnya.
Kecenderungan ini membuat pendekatan skincare berbasis clean science semakin relevan. Salah satu brand Korea yang membawa filosofi tersebut ke Indonesia adalah Sungboon Editor, dengan prinsip ‘Fine Ingredients. Definite Effect.’ Filosofi ini menekankan pemilihan bahan yang jelas fungsinya, seimbang, dan sudah melalui pengujian dermatologi.