Terkadang, kita cuma butuh film yang menghangatkan hati dan mampu membuat kita meleleh, dan penulis/sutradara Craig Brewer berhasil menghadirkan keduanya dalam Song Sung Blue.
Diambil dari lagu Neil Diamond, drama ini tidak mengambil jalur seperti A Complete Unknown atau Springsteen: Deliver Me from Nowhere. Alih-alih membuat biopik tentang penyanyi-penulis lagu Amerika di balik lagu “America” dan “Sweet Caroline,” Brewer mengeksplorasi kekuatan musik Diamond melalui kisah band tribute Lightning and Thunder yang nyaris tak masuk akal.
Hugh Jackman dan Kate Hudson membintangi film ini sebagai pasangan suami-istri yang dijuluki Mike dan Claire Sardina di luar panggung. Mereka mencintai satu sama lain sama intensnya dengan kecintaan mereka pada musik Diamond. Sangat pas, lalu, bahwa kisah menakjubkan mereka penuh dengan gejolak emosi layaknya lagu-lagu Diamond paling dicintai.
Apa itu Song Sung Blue?
Credit: Focus Features
Di Milwaukee, Mike Sardina (Jackman) dan Claire Stengl (Hudson) bekerja sebagai peniru selebriti untuk pameran negara dan bar kecil. Secara terpisah, mereka membawakan lagu-lagu standar dalam aksi varietas yang kurang dikenal, namun mereka bermimpi menciptakan sesuatu yang exciting bagi mereka sendiri. Bagi mereka, satu kencan yang baik berubah menjadi sesi jam, pernikahan, dan kemitraan kreatif yang bertahan seumur hidup.
Song Sung Blue mengikuti kisah mereka dari pertemuan manis di balik panggung, melalui masa pacaran musikal, membesarkan anak-anak mereka dari hubungan sebelumnya, dan membangun band tribute yang membuat mereka merasa seperti bintang rock sambil menghidupkan diskografi Diamond dengan cara unik.
Film ini sebagian besar berfokus pada Mike (yang lebih suka dipanggil Lightning) dan Claire, romansa mereka yang indah dan tragedi yang menghampiri — termasuk sebuah kecelakaan mengerikan yang melukainya dan mengancam mengubur band mereka untuk selamanya. Brewer juga memasukkan alur samping yang menyentuh tentang hubungan persaudaraan yang berkembang antara Angela (King Princess) dan Rachel (Ella Anderson). Lebih dari itu, keluarga dan kisah Lightning and Thunder berkembang hingga melibatkan kolaborator dan rekan band, memungkinkan terjalinnya karakter-karakter yang kaya untuk membawa cahaya dan humor ke sudut-sudut terkelam film.
Kate Hudson benar-benar luar biasa di Song Sung Blue.
Credit: Focus Features
Untuk sebagian besar kariernya, Hudson sering memainkan berbagai varian gadis cemerlang, dalam film-film seperti 200 Cigarettes, Almost Famous, How to Lose A Guy in 10 Days, dan segudang rom-com lainnya. Pirang, ceria, dan pintar, dia terasa sangat awet muda dan bersinar, bahkan ketika menghadapi tragedi atau pria kekanak-kanakan. Dalam Song Sung Blue, Hudson mengambil peran yang lebih matang, sambil tetap mempertahankan sinar khasnya.
Claire bukanlah gadis pesta yang glamor atau sosialita kota yang cantik. Dia adalah ibu dua anak paruh baya yang mencintai lagu-lagu Patsy Cline dan memakai sequin. Di sini, Hudson bersinar, layaknya wanita-wanita kota kecil yang tidak memiliki pakaian desainer dan perhiasan custom temltapi dari toserba dan barang bekas, namun mereka tetap bersinar sama. Saat dia bernyanyi sepenuh hati, pipinya kemerahan dan menonjol karena senyumannya yang lebar. Matanya berkilau bersama pakaian rajutnya. Dan aksen Midwestern-nya adalah pencapaian yang sempurna. Hudson menjadikan Claire bukanlah fantasi tentang seorang wanita, tapi seorang wanita yang nyata. Saya mengenalinya. Saya tumbuh di sekitar wanita-wanita seperti ini, yang mengenal kesulitan mengerikan dan dengan berani memilih kebahagiaan lagi dan lagi. Mereka pemberani dan penuh kasih, dan, kadang-kadang, patah hati. Itulah yang menjadi inti Song Sung Blue.
Salut untuk Brewer; dia membiarkan film feel-good ini menjadi benar-benar gelap, saat kecelakaan Claire mengancam untuk memadamkan cahaya dalam dirinya. Disiksa rasa sakit, keraguan diri, dan kemarahan, Claire menjadi tak dikenali oleh suami dan anak-anaknya. Dan melalui ini, kita menyaksikan sebuah pernikahan yang didorong hingga titik putusnya. Namun terkadang, bisa jadi sebuah passion yang sama yang menyelamatkan kita. Dan bagi keluarga Sardina, itu adalah Neil Diamond.
Ada keanggunan dalam hal itu, karena lagu-lagu Diamond dapat merajut kisah pahit-manis, tetapi yang terngiang dalam benak kita adalah chorus-nya yang begitu bersinar dan penuh sukacita sehingga orang asing di seberang bar akan ikut bernyanyi “Bah bah bah!”. Memang, masa indah tak pernah terasa seindah ini.
Hugh Jackman menawarkan performa yang berani di Song Sung Blue.
Di mana saya dengan cepat jatuh cinta pada Claire-nya Hudson, Lightning-nya Jackman lebih sulit ‘terjual’. Harus diakui, untuk babak pertama, saya agak jengah dengan keberaniannya. Lightning adalah peniru selebriti dengan ego seorang bintang rock dan sikap merasa berhak yang sering menyertainya. Awalnya, pemeranan Jackman terhadap si calon bintang ini terasa terlalu berlebihan, seolah-olah dia kembali ke Broadway dan bermain untuk kursi balkon.
Namun, seiring berjalannya Song Sung Blue, saya mengerti. Ini bukanlah akting yang salah ukur. Di mana semua orang lain dalam film ini bertujuan untuk nada yang lebih lembut dan grounded, Jackman dengan sengaja berakting berlebihan, karena Lightning adalah pria yang menuntut untuk dilihat dan didengar. Theatricality ini berisiko terasa tidak tulus. Tetapi karena Jackman tidak pernah mengendurkan nada ini, menjadi jelas bahwa dia memandang Lightning sebagai seorang pemimpi yang setiap saat menjadi frontman yang dia impikan. Inilah caranya menjalani mimpi.
Begitu saya menyadarinya, Song Sung Blue menjadi sedikit lebih menyedihkan. Bukan karena band tribute ini tidak akan mencapai tingkat ketenaran Neil Diamond. Film ini merayakan kemenangan kreatif, bahkan yang kecil, dengan ketulusan yang mendalam — karena ekspresi dan komunitas adalah tujuannya. Saya merasa sedih karena telah salah menilai Lightning, seperti yang dilakukan banyak orang di babak pertama. Kisahnya adalah kisah underdog, pahit-manis tapi inspiratif. Jackman memerankannya dengan sangat maksimal agar kita bisa memahami keberanian dan tekad pria ini.
Pemeran pendukung Song Sung Blue sangat stellar.
Seperti dalam biopik komedi Brewer Dolemite Is My Name, Song Sung Blue memiliki casting yang sensasional. King Princess membawakan sisi rapuh yang menyentuh sebagai putri Lightning, sementara Ella Anderson membawa ketahanan yang membara sebagai putri Thunder. Michael Imperioli ternyata sangat lucu sebagai peniru Buddy Holly yang frustasi, tapi menawan sebagai rekan band Lightning. Jim Belushi membawa sensibilitas kelas pekerja sebagai pemimpi yang tak terduga, membantu memproduksi pertunjukan Lightning, sementara Mustafa Shakir dan Fisher Stevens membawa kehangatan sambil mengisi dunia keluarga Sardina yang kaya akan persahabatan.
Semua ini menghasilkan film feel-good yang bisa sangat intens, karena masa-masa sulit bisa datang tiba-tiba. (C’est la vie!) Tapi seperti lagu Neil Diamond yang hebat, Song Sung Blue akan menemukan jalannya ke dalam hatimu, dan akan tinggal di sana.
Melalui penceritaan yang bijaksana, pemain yang sempurna, dan soundtrack yang dipilih dengan cerdas yang menempatkan penampilan lagu-lagu Diamond secara tematis, Brewer menciptakan sebuah drama yang sekaligus membangkitkan semangat, mengharukan, dan menakjubkan. Bawa tisu. Bawa teman. Dan biarkan Song Sung Blue menyentuhmu, mengguncangmu, dan meninggalkanmu dengan senyuman.
Song Sung Blue ditinjau dari AFI Fest. Film ini tayang di bioskop pada 25 Desember.