loading…
Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan beberapa organisasi masyarakat Islam menandai fase penting dalam upaya meredakan eskalasi politik dan sosial. Foto/SindoNews
JAKARTA – Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan beberapa ormas Islam menjadi momen penting dalam usaha menenangkan situasi politik dan sosial yang tegang. Agenda yang membawa pesan persatuan dan tantangan bangsa ini disambut baik oleh banyak pihak, termasuk aktivis dan masyarakat sipil.
Pertemuan ini terjadi di tengah hiruk-pikuk dinamika politik di Jakarta dan nasional. Ketidakpuasan publik terhadap kenaikan harga kebutuhan hidup, kebijakan pajak, sampai sorotan gaya hidup pejabat jadi percikan yang memicu amarah. Di titik ini, pertemuan antara Presiden dan ulama seperti menjadi jembatan untuk meredakan ketegangan. Ulama punya kharisma yang kuat di masyarakat, sementara negara punya alat kebijakan untuk menjawab kegelisahan itu.
Kedewasaan bangsa diuji ketika gelombang protes rakyat semakin kuat. Tugas negara bukan cuma mengamankan demo, tapi juga mendengar dan mengolah aspirasi menjadi tindakan yang solutif. Pertemuan dengan ormas Islam patut diapresiasi, tapi harus dipahami bahwa lambang persatuan tak akan cukup tanpa langkah nyata di lapangan. Presiden perlu memastikan pesan dari para ulama tidak cuma jadi retorika, tapi jadi dasar membuat kebijakan.
Baca juga: Prabowo Dialog dengan 16 Ormas Islam Sikapi Situasi Nasional, Ajak Masyarakat Lebih Tenang
“Kami menilai, kehadiran ulama dalam momen ini adalah kekuatan moral yang strategis. Mereka bukan cuma penyejuk hati umat, tapi juga penuntun arah bangsa. Tapi, ulama tidak boleh dibiarkan berdiri sendiri. Negara harus bergandengan tangan dengan para kiai, habib, dan cendekiawan Muslim untuk membangun dialog kebangsaan yang tulus. Dalam hal ini, JAN tekankan pentingnya kelanjutan pertemuan, bukan cuma seremoni saja,” kata Ketua Jaringan Aktivis Nusantara Romadhon Jasn, Sabtu (30/8/2025).