Pasar Saham Lagi Naik, Tapi Ada Beberapa Hal Yang Bisa Bikin Hati-Hati
1/ Awal Dari Akhir?
Investor bakal liat ketat pertemuan Presiden AS Donald Trump sama Vladimir Putin dari Rusia di hari Jumat buat akhiri perang di Ukraina. Tapi ada kekhawatiran soal berapa lama kesepakatan bakal bertahan. Pemimpin Eropa takut AS dan Rusia bisa bikin keputusan besar tanpa melibatkan mereka atau memaksa Ukraina terima kesepakatan buruk.
Kalau pertemuan Trump-Putin di Alaska dapat respon positif, saham (terutama di Eropa) bisa untung. Euro dan obligasi Ukraina juga mungkin naik. Perdamaian juga bisa bantu turunin inflasi global (kecuali AS). Tapi, Eropa mungkin tetep ga mau deket-deket sama Rusia meski perang udah berenti. Jadi saham pertahanan masih bisa naik, tapi pelan-pelan.
2/ Jackson Hole Bisa Bikin Gempar
Ini musim panas buat pasar keuangan. Laporan laba Q2 udah keluar, data ekonomi besar-besaran baru muncul awal September, dan banyak trader liburan ke pantai. Tapi ada satu hal yang perlu diperhatiin: Jackson Hole.
Di acara tahunan bank sentral ini, Ketua Fed Jerome Powell bakal hadir. Pasar saham lagi di level tertinggi, sementara Trump masih suka kritik Powell. Kalau Powell kasih sinyal ga bakal potong suku bunga di September, pasar bisa anjlok. Tapi kalau dia terlalu optimis, bisa bikin euforia berlebihan. "Dan pasar bull biasanya mati di saat euforia," kata Steve Sosnick, strategis di IBKR.
3/ Stagflasi di AS?
Saham global naik, dan semua hal—mulai dari data lapangan kerja AS yang lemah sampai masalah di Fed—dianggap alasan buat Fed potong suku bunga. Jadi bearish ga untung.
Sekitar 60% investor global yang disurvei BofA percaya stagflasi AS bisa jadi tren pasar dalam 3 bulan ke depan. Saham yang biasanya bagus di kondisi stagflasi (pertumbuhan lambat, inflasi naik) masih kalah sama S&P 500 tahun ini.
Survey bisnis minggu depan bisa kasih petunjuk soal apakah tarif AS bawa ekonomi global ke stagflasi. Tapi SocGen prediksi potongan suku bunga Fed bisa bikin gelembung saham yang mungkin baru pecah tahun depan.
4/ Bank Jepang Bedain Diri
Sementara bank sentral lain mau potong suku bunga, Bank Jepang (BOJ) malah pengen naikin—secara teori. Data inflasi Jumat depan bakal dicurigai buat liat kapan BOJ akhirnya naikin suku bunga.
Inflasi inti Juni naik 3,3% (di atas target BOJ 2% selama 3 tahun). BOJ paling agresif dalam pelonggaran kuantitatif, tapi jalan menuju normalisasi rumit karena tarif AS dan kekhawatiran soal jenis kenaikan harga di Jepang.
Gubernur BOJ Kazuo Ueda bilang kenaikan suku bunga pelan karena inflasi dari permintaan domestik dan gaji masih di bawah target.
5/ Pemilu di Amerika Latin
Mulai akhir pekan ini, Bolivia mulai gelar pemilu nasional & lokal di Amerika Latin yang berlanjut sampai akhir tahun depan, termasuk pemilu presiden Brasil.
Setelah "gelombang merah muda" bawa pemerintahan kiri berkuasa di Chile, Kolombia, & Brasil tahun 2022, investor penasaran apakah pemilih bakal balik ke sayap kanan yang lebih ramah pasar.
Sebelum pemilu presiden Bolivia Minggu ini, obligasi negara itu naik karena harapan perubahan politik bisa selamatkan ekonomi. Putaran kedua (jika perlu) di Oktober.
Pemilu lokal Argentina September-Oktober jadi tolok ukur popularitas presiden Javier Milei. Chile pilih presiden November, Kolombia pilih kongres Maret & presiden Mei 2025. Peru pilih presiden April 2026, Brasil Oktober 2026.
(Disusun oleh Amanda Cooper; Grafik oleh Vineet Sachdev; Editan oleh Kim Coghill)