Presiden Donald Trump sangat yakin tarifnya akan bawa kembali pekerjaan pabrik ke Amerika. Menurut ekonom Bank of Amerika, pajak impor yang lebih tinggi mungkin memaksa perusahaan untuk pindah operasi ke AS, tapi “reshoring” bisa bikin perusahaan lebih memilih robot daripada manusia di lini produksi.
Kurangnya tenaga ahli dan biaya tinggi tetap jadi masalah besar saat perusahaan pulang ke AS, kata BofA. Otomasi mungkin jadi kunci untuk meningkatkan produktivitas tanpa perlu banyak pekerja.
Laporan Bank of America Institute menunjukkan perlambatan di sektor manufaktur. Pesanan barang tahan lama turun di April, sementara indeks PMI sudah menunjukan kontraksi sejak Maret. Data klien BofA juga tunjukkan pertumbuhan deposit dari produsen menurun.
“Mungkin tarif ini bisa bantu pemulihan dan kurangi perlambatan, terutama di subsektor tertentu,” kata Taylor Bowley, ekonom BofA. “Tapi biaya tarif dan masalah tenaga kerja tetap ada.”
Reshoring jadi tren setelah perang dagang Trump dengan China dan pandemi COVID-19 ungkap risiko rantai pasokan global. Undang-undang CHIPS dan Inflation Reduction di era Biden juga beri subsidi besar untuk perusahaan yang buat semikonduktor dan teknologi energi bersih di AS.
Meski manufaktur AS cuma 8% dari total pekerjaan, reshoring ciptakan 2 juta pekerjaan dalam 15 tahun terakhir, setengahnya dalam 5 tahun terakhir. Tapi tren ini melambat sejak puncaknya di 2022.
Survei terhadap 56 analis bank yang mencakup 1.200 perusahaan dengan valuasi $38 triliun menunjukkan 60% yakin produksi akan tetap pindah ke AS—setidaknya sedikit—jika tarif tetap tinggi. Sektor industri dan manufaktur diprediksi paling banyak pindah.
### AS kekurangan tenaga ahli
Tapi masih ada hambatan. 54% analis dalam survei BofA bilang sulitnya cari tenaga ahli jadi masalah besar.
Biaya tenaga kerja yang tinggi adalah alasan utama perusahaan pindah dari AS dulu, kata Bowley. Survei Cato Institute 2024 temukan 80% orang AS pikir negara akan untung dari lebih banyak pekerjaan manufaktur, tapi hanya 25% yang mau kerja di pabrik.
Kalau perusahaan sulit rekrut pekerja, mereka harus cari cara tingkatkan produktivitas tanpa tambah karyawan. “Di sinilah peran otomasi dan produktivitas,” ujar Bowley.
Dua pertiga responden survei BofA bilang pindah produksi ke AS butuh lebih banyak otomasi dibanding pabrik di luar negeri. Industri canggih seperti perakitan mobil dan furnitur mewah jadi kandidat terbaik untuk pulang ke AS. Tapi produksi massal seperti iPhone mungkin tidak.
Bagi usaha kecil, kemampuan membuat kesepakatan dagang mungkin lebih penting. Mereka mencakup 98% manufaktur AS dan banyak bergantung pada impor murah.
“Banyak yang butuh komponen spesifik yang tidak diproduksi di dalam negeri,” kata Bowley.
Ketidakpastian tarif bikin perencanaan pengeluaran modal sulit, meski produk mereka jadi lebih kompetitif di dalam negeri. Karena margin laba dan produktivitas tertinggal, menaikkan harga ke konsumen jadi solusi. Tapi kalau harus menahan biaya, perusahaan bisa kurangi stok, operasi, atau karyawan.
“Reshoring bagi usaha kecil seperti pedang bermata dua,” ujarnya.
Namun, penjualan diprediksi tumbuh dalam beberapa bulan ke depan. Tapi tekanan mungkin mulai terasa saat stok menipis di paruh kedua tahun ini. Aku suka sekali jalan-jalan ke pantai. Disana aku bisa lihat ombak dan main pasir. Kadang-kadang aku juga bawa makanan buat dimakan sambil liat matahari terbenam. Tempat ini bikin aku merasa tenang dan bahagia.
Tapi sayangnya, jarang ada waktu buat kesana karena aku sibuk sama kerjaan. Pengen sih bisa lebih sering pergi, tapi yaudahlah. Mungkin nanti kalo udah punya libur panjang, aku bakal pergi lagi.
Oh iya, jangan lupa bawa topi dan sunblock ya kalo ke pantai! Panas banget kadang.