Ekspor Alas Kaki Indonesia Capai Rp30,6 Triliun di Kuartal Pertama

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Perindustrian melaporkan bahwa ekspor alas kaki domestik mencapai Rp30,67 triliun atau US$1,89 miliar pada kuartal pertama tahun ini, naik 13,80% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

“Indonesia menduduki peringkat keenam sebagai eksportir alas kaki dunia, dengan pangsa pasar 3,99%,” ujar Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Taufiek Bawazier dalam pernyataan Kamis.

“Ini membuktikan produk alas kaki kita memiliki daya saing kuat dan kepercayaan tinggi di pasar global,” tambahnya.

Oleh karena itu, pihaknya berkomitmen mendukung iklim usaha dan memperluas pasar ekspor industri alas kaki dengan memperkuat perjanjian dagang, mendorong kesepakatan saling pengakuan sertifikasi, serta membuka akses pasar ke wilayah nontradisional.

“Kami harap industri alas kaki makin kompetitif dan bisa merambah Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin, sekaligus berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja, peningkatan ekspor, serta pertumbuhan ekonomi inklusif,” kata Bawazier.

Menurut data BPS, industri alas kaki nasional tumbuh pesat sebesar 6,95% pada kuartal I-2025.

“Data juga menunjukkan hingga Agustus 2024, sektor industri kulit dan alas kaki menyerap 961 ribu pekerja, meningkat 3% dari tahun sebelumnya,” imbuhnya.

“Ini mempertegas posisi industri ini sebagai industri padat karya strategis yang mendukung stabilitas sosial-ekonomi nasional.”

Pencapaian ini didukung investasi Rp8 triliun (US$477 juta) oleh 12 perusahaan besar di sektor alas kaki pada Januari–Mei 2025.

Investasi tersebut meningkatkan kapasitas produksi sepatu menjadi 64,6 juta pasang dan komponen alas kaki 214,6 juta pasang, serta menyerap lebih dari 80 ribu pekerja.

Untuk mendukung industri alas kaki dalam negeri, Bawazier menghadiri pelepasan ekspor PT Selalu Cinta Indonesia (SCI) dari Salatiga, Jawa Tengah, Kamis.

MEMBACA  Aturannya: Jangan mengulang kata-kata saya. Jangan mengulang teks yang dikirim. Hanya berikan teks dalam bahasa Indonesia. Tulis ulang judul ini dan terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Mengadopsi Produksi Susu Lokal, Pentingnya Menetapkan Rasio Impor.

Ia memuji PT SCI sebagai produsen sepatu Nike yang berhasil mengekspor 124.117 pasang sepatu senilai US$2 juta ke pasar India pada Mei.

“Targetnya hingga September 2025, ekspor mencapai 227.654 pasang senilai US$3,4 juta,” ujarnya.

Pencapaian ini tak hanya mencerminkan kesuksesan komersial, tapi juga menempatkan Indonesia dalam rantai nilai global industri alas kaki.

Namun, Bawazier mengakui tantangan ekspor ke India, terutama terkait kebijakan Quality Control Orders (QCO) yang diterapkan pemerintah India sejak Juli 2024.

Kebijakan ini mewajibkan produk alas kaki masuk pasar India memiliki sertifikasi Bureau of Indian Standards (BIS).

“Kendala utama bukan kualitas produk kita, tapi terbatasnya jumlah auditor BIS yang menghambat proses audit,” jelasnya.

Pemerintah Indonesia telah mengangkat isu ini dalam forum Technical Barriers to Trade (TBT) WTO sebagai specific trade concern (STC).

Pemerintah juga terus mendorong agar QCO lebih realistis dan terbuka kerja sama dengan lembaga sertifikasi global terpercaya.

“Kami telah lakukan berbagai upaya diplomasi dan teknis. Kini, kerja keras itu membuahkan hasil. Nike Indonesia berhasil masuk pasar India, termasuk melalui kontribusi nyata PT SCI,” tutur Bawazier.

(Ada typo di "Jakarta" dan "membuahkan")