Perusahaan Fortune 500 secara total mempekerjakan hampir 31 juta pekerja. Tidak ada yang lebih banyak dari Walmart, yang kembali menjadi nomor satu di tahun 2025 sebagai perusahaan swasta terbesar di AS dengan sekitar 2,1 juta karyawan. Tapi, skala tidak selalu terkait jumlah karyawan. Di tahun 2025, delapan perusahaan dalam daftar ini menghasilkan pendapatan besar—lebih dari $87 miliar gabungan—dengan tim kecil yang masing-masing kurang dari 2.000 karyawan. Perusahaan-perusahaan ini, banyak yang bergerak di industri energi atau aset berat, menunjukkan efisiensi operasional dibanding ekspansi organisasi, menghasilkan laba besar dengan jumlah karyawan relatif sedikit.
Apa yang memungkinkan perusahaan-perusahaan ramping ini menghasilkan miliaran dengan karyawan kurang dari 2.000? Ada tiga tren konsisten:
1. Industri padat modal, bukan padat karya
Sebagian besar perusahaan ini bergerak di sektor energi, sumber daya alam, atau aset berat seperti penyulingan, logam, atau investasi properti. Model bisnis mereka lebih tergantung pada infrastruktur, peralatan, dan pasar komoditas daripada tenaga kerja manusia skala besar. Contohnya, satu kilang minyak atau terminal ekspor gas alam cair bisa menghasilkan miliaran pendapatan dengan sedikit karyawan.
2. Leverage operasional dan output bernilai tinggi
Perusahaan seperti Cheniere dan Diamondback Energy mendapat keuntungan dari leverage operasional tinggi, artinya begitu infrastruktur tersedia, output dan laba bisa meningkat tanpa perlu menambah karyawan secara proporsional. Misalnya, perusahaan perdagangan logam mulia A-Mark Precious Metals mengelola aset bernilai tinggi seperti emas dan perak tanpa perlu tim penjualan besar.
3. Konsolidasi dan pertumbuhan terfokus
Beberapa perusahaan ini tumbuh lewat akuisisi—Diamondback, Par Pacific, Ovintiv—bukan ekspansi karyawan. M&A strategis memungkinkan mereka menambah pendapatan dan jangkauan geografis sambil menjaga jumlah karyawan stabil. Lainnya, seperti Delek, menjual segmen padat karya, seperti toko ritel, untuk fokus pada unit yang lebih efisien modal.
Pola utamanya adalah perusahaan dengan pendapatan besar tapi sedikit karyawan cenderung berada di industri di mana aset fisik, bukan orang, yang menentukan kinerja. Mereka juga lebih umum di sektor dengan biaya tetap tinggi dan harga fluktuatif, seperti energi dan komoditas.
Cheniere Energy
Peringkat: No. 275
Pendapatan: $15,7 Miliar
Karyawan: 1.714
Cheniere adalah eksportir gas alam cair terbesar di AS dan produsen kedua terbesar di dunia. Berbasis di Houston, perusahaan ini mengoperasikan terminal ekspor di Sabine Pass dan Corpus Christi, memasok LNG ke lebih dari 40 pasar di lima benua. Meski ada tekanan finansial, Cheniere terus berekspansi didukung kebijakan pro-gas alam Donald Trump. Perusahaan ini turun 75 peringkat tahun ini dan dipimpin CEO Jack Fusco sejak 2016.
Hess
Peringkat: No. 327
Pendapatan: $13,01 Miliar
Karyawan: 1.797
Didirikan tahun 1933, Hess berbasis di New York dan merupakan produsen minyak dan gas utama dengan operasi di Teluk Meksiko serta kerja sama di Malaysia dan Thailand. Perusahaan naik 51 peringkat tahun ini dan sudah masuk Fortune 500 selama 68 tahun. John B. Hess, putra pendiri Leon Hess, telah jadi CEO selama 30 tahun. Pada 2023, Chevron setuju mengakuisisi Hess, kesepakatan yang masih proses.
Delek US Holdings
Peringkat: No. 336
Pendapatan: $12,46 Miliar
Karyawan: 1.987
Delek US Holdings, berbasis di Tennessee, bergerak di penyulingan minyak, logistik, aspal, dan ritel bahan bakar. Pada 2024, mereka menjual ratusan toko ke FEMSA Meksiko seharga $385 juta untuk fokus pada penyulingan dan logistik. Delek, yang masuk Fortune 500 selama 11 tahun, turun 92 peringkat tahun ini. CEO Avigal Soreq, yang pernah bekerja di El Al Airlines dan sebelumnya di Delek, memimpin sejak 2022.
Diamondback Energy
Peringkat: No. 383
Pendapatan: $11,06 Miliar
Karyawan: 1.983
Diamondback Energy, berbasis di Texas dan didirikan 2007, adalah perusahaan minyak dan gas yang fokus di Permian Basin. Mereka naik 66 peringkat setelah akuisisi besar: $26 miliar untuk Endeavor Energy Resources pada 2024 dan $4,1 miliar untuk aset Double Eagle IV pada 2025. CEO Travis Stice, yang memimpin sejak 2012, mengundurkan diri tahun ini. Presiden perusahaan, Kaes Van’t Hof, akan menggantikannya.
A-Mark Precious Metals
Peringkat: No. 423
Pendapatan: $9,69 Miliar
Karyawan: 486
Dengan kurang dari 500 karyawan, A-Mark Precious Metals berbasis di California dan spesialis perdagangan emas, perak, platinum, dan palladium untuk pembeli grosir dan ritel. Didirikan 1965, perusahaan ini pertama masuk Fortune 500 pada 2015. Di bawah CEO Gregory Roberts yang memimpin sejak 2005, A-Mark berkembang lewat akuisisi, termasuk Goldline International pada 2017.
Ovintiv
Peringkat: No. 438
Pendapatan: $9,15 Miliar
Karyawan: 1.623
Ovintiv, berbasis di Denver, muncul dari reorganisasi perusahaan energi Kanada Encana pada 2020. Mereka fokus pada pengembangan shale di Permian Basin AS dan Montney Shale Kanada. Perusahaan ini turun 65 peringkat tahun ini dan dipimpin CEO Brendan McCracken. Pada 2024, Ovintiv menghabiskan $2,38 miliar untuk akuisisi aset shale Montney.
Welltower
Peringkat: No. 472
Pendapatan: $7,99 miliar
Karyawan: 685
Welltower adalah real estate investment trust (REIT) kesehatan berbasis di Ohio yang fokus pada perumahan lansia, asissted living, dan gedung medis di AS, Kanada, dan Inggris. Di bawah CEO Shankh Mitra yang memimpin sejak 2020, perusahaan telah berinvestasi lebih dari $4 miliar di perumahan lansia. Tahun 2025 adalah pertama kalinya Welltower masuk Fortune 500.
Par Pacific Holdings
Peringkat: No. 474
Pendapatan: $7,97 Miliar
Karyawan: 1.787
Par Pacific, berbasis di Houston, mengoperasikan kilang di Hawaii, Montana, dan Washington dengan kapasitas total lebih dari 150.000 barel per hari. Pada 2023, mereka mengakuisisi Kilang Billings ExxonMobil di Montana. Par Pacific turun 20 peringkat tahun ini. William Monteleone, veteran keuangan dan M&A, menjadi CEO pada 2024.
Cerita ini awalnya muncul di Fortune.com