Wall Street Jatuh Akibat Kebijakan Tarif Trump, Ini Prediksi Pasar Saham Indonesia Minggu Depan

loading…

Pengenaan tarif Trump diprediksi akan berdampak pada pasar saham di Indonesia. FOTO/dok.SINDOnews

JAKARTA – Saham AS dibuka turun tajam pada hari Jumat (4/4), setelah Tiongkok mengenakan tarif baru pada semua barang AS sebagai tanggapan terhadap pungutan besar-besaran oleh pemerintahan Trump, yang meningkatkan perang dagang global.

Kementerian Perdagangan China mengatakan bahwa pihaknya akan mengenakan bea masuk sebesar 34 persen pada semua produk AS. Tarif ini sama dengan tarif yang dikenakan pada barang-barang Cina yang masuk ke AS.

Melansir Investing, Nasdaq anjlok lebih dari 20 persen dari level penutupan tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada bulan Desember lalu. Hal itu membuatnya mengonfirmasi pasar yang sedang lesu.

Adapun, S&P 500 turun 134,05 poin atau 2,48 persen menjadi 5.262,47 poin, sementara Nasdaq Composite turun 473,16 poin atau 2,86 persen menjadi 16.077,44. Serta Dow Jones Industrial Average turun 994,46 poin atau 2,45 persen menjadi 39.551,47.

Saham pembuat iPhone Apple anjlok lebih dari 3 persen, menambah kerugian 10 persen selama seminggu. Perusahaan kecerdasan buatan Nvidia turun 5 persen, sementara Tesla turun 6 persen. Ketiga perusahaan tersebut memiliki eksposur besar ke Cina dan termasuk yang paling terpukul oleh bea masuk balasan Beijing.

“Pemerintahan Trump mungkin sedang bermain adu strategi dengan mitra dagang, tetapi pelaku pasar tidak mau menunggu hasilnya,” kata Michael Arone, kepala strategi investasi SPDR di State Street Global Advisors.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun turun kembali di bawah 4 persen pada hari Jumat karena investor membanjiri obligasi untuk mencari keamanan, mendorong harga naik dan suku bunga turun. Sementara itu, JPMorgan pada Kamis malam menaikkan kemungkinan resesi tahun ini menjadi 60 persen dari sebelumnya 40 persen.

MEMBACA  Pertamina Bentuk Satuan Tugas Ramadan Idulfitri 2025, Memastikan Pasokan Energi Aman

Pengenaan tarif ini diprediksi juga akan berdampak pada pasar saham di Indonesia. Vice President Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi mengatakan memperkirakan, kebijakan ini akan berimbas pada pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat pasar mulai dibuka kembali pada 8 April 2025 mendatang.

Untuk itu, sejumlah langkah strategis yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga pasar tetap kondusif antara lain dengan membuka peluang diversifikasi pasar ekspor maka dapat memanfaatkan free trade agreement (FTA) dengan beberapa negara Asia, Timur Tengah dan Eropa.

Tinggalkan komentar