Dalam upayanya untuk ikut menuai kucuran dana besar yang beredar di Kalshi dan Polymarket, Meta dikabarkan sedang mengembangkan aplikasi pasar prediksi, menurut laporan dari New York Times. Aplikasi yang dijuluki “Arena” ini akan memungkinkan pengguna di jejaring sosial milik perusahaan—termasuk Facebook, Instagram, dan WhatsApp—untuk memasang taruhan pada hampir semua hal.
Ini adalah contoh lain bagaimana perusahaan Mark Zuckerberg kembali memainkan kiat andalannya—tapi bukan yang biasanya Anda bayangkan. Arena jelas merupakan lagi satu kasus Meta yang meniru aplikasi sukses dan berharap tiruannya ikut populer—bergabung dengan Lasso, Hobbi, Bulletin, dan sekian banyak tiruan lain yang terlupakan. Namun lebih dari itu, langkah ini mencerminkan asumsi terburuk Meta terhadap manusia—yang sepanjang sejarah justru menjadi proposisi bisnis paling menguntungkan mereka.
Kita bisa menelusuri hal ini kembali ke awal mula perusahaan. Meskipun mungkin tidak persis seperti yang digambarkan dalam The Social Network, prototipe Facebook buatan Zuckerberg dimulai dari pelanggaran privasi yang diabaikan orang karena dikuasai nafsu. Facemash yang tersohor menggunakan foto KTP yang dikumpulkan dari situs mahasiswa Harvard, pada dasarnya mempertarungkan satu sama lain, meminta pengunjung memilih siapa yang paling seksi. Situs itu langsung menuai kritik begitu populer, namun tetap sukses mengumpulkan puluhan ribu interaksi dalam waktu singkat. Perlu diingat, pada tahun 2003 puluhan ribu interaksi adalah sesuatu yang luar biasa besar di internet.
Ketika Zuck akhirnya benar-benar merilis “The Facebook,” opininya tentang manusia jelas tak berubah. Setelah meluncurkan situs tersebut di kampus Harvard dan mewajibkan pengguna memberikan email kampus untuk masuk, Zuck mendapati dirinya menguasai data pribadi ribuan mahasiswa. Dalam serangkaian obrolan teks dengan seorang teman yang kini terkenal, Zuck mengatakan mempunyai “lebih dari 4.000 email, foto, dan alamat” orang Harvard. Saat ditanya bagaimana ia mendapat data tersebut, ia menjawab, “Saya tidak tahu…mereka ‘percaya’ sama saya. Dasar bangsat tolol.” Ia kemudian merambah kampus-kampus lain, dan kini platformnya punya tiga miliar lebih pengguna aktif.
Seiring perkembangan Facebook, Zuck terus memanfaatkan gagasan bahwa ia bisa memaksimalkan minat ekstra dan keuntungan dengan mendorong orang mengikuti naluri terburuk mereka. Frances Haugen, mantan karyawan kedua yang menjadi whistleblower, mengungkapkan perusahaan memperkuat algoritmanya demi mendorong interaksi, sadar betul interaksi negatif mendulang gperhatian paling banyak. Saat perusahaan memperluas fitur reaksi, mereka menerapkan sistim penilaian: menimbang konten mana yang dipromosikan, misalnya satu “poin” untuk like dan lima poin untuk emoji marah.
Meta berulang kali mendahulukan desain berbasis interaksi dengan mengorbankan para penggunanya. Awal tahun ini perusahaan terbukti bersalah atas kerugian yang dialami anak di bawah umur yang menggunakan platform seperti Instagram, saat pengadilan menerima argumen bahwa apliaksi tersebutdirancang—wa selemat—untuk membuat kecandu’an. Zuckerberg memang menyangkal tuduhan itu, tapi perusahaan jelas meneliti bagaimana membuat orang berlama-lama di platformnya—bahkan menjalankan ekperimen pada pengguna yang tak curiga untuk melihat reaksi mereka.
Dengan demikian, adalah wajar bila Meta merambah ke bisnis saling taruh dan perjudian—wabah yang sedang menghancurkan masa kaum muda yang kebanyakan kalah namun tetap kecanduan lonjakan adrenalin, serta dari hari ke-hari semakin bernapsu mencari uang, lagipaya harus bagi saat mereka Yng sejak pertama kali memiliki pendapatan rutin dari kecanduan kamu dan—lama di sand?