Beberapa jam setelah seorang agen federal bertopeng menembak dan menewaskan Renee Nicole Good, perempuan 37 tahun di Minneapolis, para pengguna media sosial membagikan gambar-gambar yang diolah artificial intelligence yang mereka klaim secara keliru dapat “membuka topeng” sang petugas, mengungkap identitas aslinya. Jurubicara Departemen Keamanan Dalam Negeri, Tricia McLaughlin, kemudian mengidentifikasi agen tersebut sebagai petugas Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE).
Penembakan terjadi pada Rabu pagi, dan rekaman dari media sosial memperlihatkan dua agen federal bertopeng mendekati SUV yang terparkir di tengah jalan di sebuah suburb selatan pusat kota Minneapolis. Salah satu petugas terlihat meminta pengemudi keluar dari kendaraan sebelum memegang gagang pintu. Pada titik ini, pengemudi terlihat mundur, kemudian melaju kedepan dan berbelok. Petugas federal bertopeng ketiga, yang berdiri di dekat depan kendaraan, mengeluarkan senjata dan menembak ke arah kendaraan, menewaskan Good.
Video kejadian yang dibagikan di media sosial sesaat setelah penembakan tidak menyertakan rekaman agen ICE tanpa topeng. Namun, beberapa gambar yang menunjukkan agen tanpa topeng mulai beredar di internet dalam hitungan jam setelah insiden.
Gambar-gambar tersebut tampaknya adalah tangkapan layar dari rekaman video asli, tetapi telah diubah dengan alat kecerdasan buatan untuk menciptakan wajah sang petugas.
WIRED mengulas sejumlah gambar hasil AI yang telah dibagikan di semua platform media sosial arus utama, termasuk X, Facebook, Threads, Instagram, BlueSky, dan TikTok. “Kita perlu namanya,” tulis Claude Taylor, pendiri anti-Trump Mad Dog PAC, dalam sebuah unggahan di X yang menampilkan gambar agen hasil olahan AI. Unggahan itu telah dilihat lebih dari 1,2 juta kali. Taylor tidak menanggapi permintaan komentar.
Di Threads, akun bernama “Influencer_Queeen” memposting gambar agen hasil AI dan menulis: “Ayo dapatkan alamatnya. Tapi fokus hanya pada DIA. Bukan pada anak-anaknya.” Postingan itu telah disukai hampir 3.500 kali.
“Penguatan berbasis AI cenderung berhalusinasi dalam detail wajah, yang menghasilkan gambar yang mungkin terlihat jelas secara visual, tetapi juga bisa jauh dari realitas terkait identifikasi biometrik,” ujar Hany Farid, profesor di UC-Berkeley yang pernah meneliti kemampuan AI dalam meningkatkan gambar wajah, kepada WIRED. “Dalam situasi ini di mana separuh wajah tertutup, AI, atau teknik lainnya, menurut saya tidak mampu merekonstruksi identitas wajah dengan akurat.”
Beberapa orang yang memposting gambar-gambar itu juga mengklaim, tanpa bukti, telah mengidentifikasi agen tersebut, dengan menyebarkan nama-nama orang sungguhan dan, dalam sejumlah kasus, memberikan tautan ke akun media sosial mereka.
WIRED telah mengonfirmasi bahwa dua nama yang beredar tampaknya tidak langsung terkait dengan siapapun yang berasosiasi dengan ICE. Meski banyak postingan yang membagikan gambar AI ini memiliki keterlibatan terbatas, beberapa di antaranya mendapatkan daya tarik signifikan.
Salah satu nama yang dibagikan secara online tanpa bukti adalah Steve Grove, CEO dan penerbit Minnesota Star Tribune, yang sebelumnya bekerja di administrasi Gubernur Minnesota Tim Walz. “Kami sedang memantau kampanye disinformasi online terkoordinasi yang secara keliru mengidentifikasi agen ICE yang terlibat dalam penembakan kemarin,” kata Chris Iles, Wakil Presiden Komunikasi di Star Tribune, kepada WIRED. “Perlu ditegaskan, agen ICE tersebut tidak memiliki afiliasi dikenal dengan Minnesota Star Tribune dan pastinya bukan penerbit dan CEO kami, Steve Grove.”
Ini bukan pertama kalinya AI menimbulkan masalah pasca suatu penembakan. Situasi serupa muncul pada September lalu ketika Charlie Kirk tewas dan gambar hasil AI dari penembaknya, berdasarkan rekaman video buram yang dirilis penegak hukum, dibagikan secara luas di internet. Gambar AI itu sama sekali tidak mirip dengan pria yang akhirnya ditangkap dan didakwa atas pembunuhan Kirk.