Brandon Herrera, seorang influencer senjata ternama dengan lebih dari 4 juta pengikut di YouTube, menyatakan dalam sebuah video yang diunggah pekan ini bahwa meski kematian Pretti disayangkan, pada akhirnya kesalahan ada pada dirinya sendiri.
“Pretti tidak pantas mati, tapi ini juga bukan eksekusi tanpa dasar,” ujar Herrera, menambahkan tanpa bukti bahwa tujuan Pretti adalah mengganggu operasi ICE. “Jika kau menghalangi penangkapan dan hal semacamnya, itu kejahatan. Jika kau menghalangi jalan petugas, situasi mungkin akan meningkat ke kekuatan fisik, baik itu menangkappmu atau sekadar menyingkirkanmu, yang kemudian bisa berujung perkelahian, yang—jika kau membawa senjata—dapat berakhir pada penembakan fatal.” Ia menggambarkan situasi ini sebagai “sah secara hukum namun mengerikan.”
Herrera dalam video itu ditemani oleh mantan perwira polisi dan sesama influencer senjata Cody Garrett, yang dikenal daring sebagai Donut Operator.
Keduanya menggunakan kesempatan itu untuk mencemooh imigran, dengan Herrera berkata “setiap outlet berita akan membahas ini karena ini isu terkini dan mereka akan mengabaikan 12 pengemudi mabuk yang, kau tahu, membunuh warga Amerika kemarin yang semuanya imigran ilegal atau pemegang H-1B atau apalah.”
Herrera juga menyebut “teman”-nya, Kyle Rittenhouse, yang menjadi pusat banyak perdebatan seputar penembakan ini.
Pada 25 Agustus 2020, Rittenhouse, yang saat itu berusia 17 tahun, bepergian dari rumahnya di Illinois ke sebuah unjuk rasa di Kenosha, Wisconsin, dengan membawa senapan gaya AR-15 dan mengklaim dirinya ada untuk melindungi bisnis lokal. Ia membunuh dua orang dan menembak lengan seorang lainnya malam itu.
Kritikus terhadap tindakan ICE di Minneapolis dengan cepat menyoroti apa yang mereka anggap sebagai kemunafikan pembelaan kaum kanan terhadap Rittenhouse dan serangan terhadap Pretti.
“Kyle Rittenhouse adalah pahlawan konservatif karena datang ke unjuk rasa sambil memanggang senjata, tapi pria ini yang punya izin legal membawa senjata dan sudah dilucuti justru dianggap provokator oleh sebagian orang, padahal ia sebenarnya akan menolong seorang perempuan,” ujar Jessica Tarlov, seorang strategis Demokrat, di Fox News pekan ini.
Rittenhouse juga ikut dalam debat, menulis di X: “Cara yang benar mendekati penegak hukum saat bersenjata,” di atas foto dirinya dengan tangan terangkat di depan polisi setelah membunuh dua orang. Ia menambahkan dalam postingan lain bahwa “ICE melakukan kesalahan.”
Klaim bahwa Pretti yang bersalah diulangi dalam grup Facebook pribadi yang dijalankan milisi bersenjata, menurut data yang dibagikan kepada WIRED oleh Tech Transparency Project, serta di saluran Telegram ekstremis.
“Aku turut berduka untuk dia dan keluarganya,” tulis seorang anggota grup Facebook bernama American Patriots. “Tapi pertanyaanku, mengapa dia pergi ke kerusuhan ini dengan senjata dan magazen tambahan kalau tidak berencana menggunakannya?”
Beberapa kelompok ekstremis, seperti gerakan Boogaloo sayap kanan jauh, sangat kritis terhadap pernyataan pemerintah tentang bersenjata di unjuk rasa.
“Untuk kalian yang bilang ‘jangan bawa senjata ke protes’, persetan dengan kalian,” tulis seorang anggota grup Boogaloo pribadi di Facebook pekan ini. “Untuk para pengkhianat yang pikir melucuti senjata adalah jawabannya dan kira ini takkan terjadi pada kalian juga, persetan dengan kalian. Untuk pemerintah federal yang kusaksikan membunuh warga hanya karena menolak mereka, persetan dengan kalian. Tidak boleh dibatasi.”