Para Ilmuwan Memindai Komet ATLAS untuk Sinyal Alien. Inilah Hasilnya.

Sejak para astronom menemukan objek antarbintang 3I/ATLAS, mereka terobsesi dengan satu pertanyaan: Apakah sebenarnya objek ini? Penelitian berbulan-bulan telah menghasilkan konsensus ilmiah yang kuat bahwa ia adalah komet dari luar tata surya kita. Meski demikian, beberapa pihak masih berspekulasi bahwa tamu kosmik ini bukanlah benda alami sama sekali.

Pada Juli lalu, tak lama setelah penemuannya, astronom Harvard Avi Loeb dan rekan-rekannya mengusulkan bahwa 3I/ATLAS bisa jadi adalah wahana antariksa alien. Bahkan ketika berbagai studi telah menyanggah hipotesis ini, Loeb tetap berpendapat bahwa 3I/ATLAS mungkin bersifat teknologis. Untuk menjernihkan perdebatan, para astronom baru-baru ini melakukan “pencarian teknosignature” terhadap objek antarbintang tersebut, intinya memindainya untuk mencari sinyal radio buatan.

Studi yang belum melalui penelaahan sejawat itu menyimpulkan “tidak ada deteksi kredibel atas teknosignature radio pita sempit yang berasal dari 3I/ATLAS.” Dengan kata lain, kemungkinan objek ini merupakan sesuatu selain komet sangatlah kecil, bahkan nyaris tidak ada.

Kesunyian dari 3I/ATLAS

Program Breakthrough Listen melakukan pencarian teknosignature itu ketika 3I/ATLAS mendekati titik terdekatnya dengan Bumi pada 18 Desember. Breakthrough Listen mengklaim dirinya sebagai program penelitian ilmiah terbesar yang pernah ada untuk mencari bukti peradaban di luar Bumi.

Untuk pencarian ini, para peneliti menggunakan Teleskop Radio Robert C. Byrd Green Bank (GBT) di Green Bank, West Virginia. Teleskop radio steerable setinggi 328 kaki (100 meter) ini merupakan struktur bergerak terbesar di daratan. Ia merupakan aset kunci bagi penelitian SETI (Pencarian Kecerdasan Ekstraterestrial), yang memanfaatkan sensitivitasnya yang ekstrem untuk memindai objek-objek langit jauh guna mendeteksi sinyal radio buatan.

“Saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa [objek antarbintang] adalah apa pun selain objek astrofisika alami,” tulis para penulis studi. “Namun, mengingat sedikitnya jumlah objek semacam ini yang diketahui (hanya tiga hingga saat ini), dan plausibilitas wahana antarbintang sebagai sebuah teknosignature, kajian mendetail tetap diperlukan.”

MEMBACA  Ulasan Apple iPhone 17 Pro dan iPhone 17 Pro Max: Sebuah Lonjakan Kemajuan

GBT memindai 3I/ATLAS dari jarak sekitar 167 juta mil (269 juta kilometer), melakukan pengamatan yang mencakup empat pita spektrum radio. Awalnya, pencarian mereka menghasilkan 470.000 sinyal potensial buatan, tetapi para peneliti menyisihkan semuanya kecuali sembilan karena sinyal-sinyal itu juga muncul ketika teleskop diarahkan menjauhi 3I/ATLAS. Kandidat yang tersisa itu kemudian dikesampingkan sebagai interferensi radio buatan manusia.

Para peneliti mencatat bahwa dua kelompok peneliti lain baru-baru ini juga melakukan pencarian teknosignature mereka sendiri terhadap 3I/ATLAS pada frekuensi berbeda, namun mereka pun tidak mendeteksi sinyal radio buatan yang kredibel.

Lebih dari Sekadar Komet

Para penggemar fenomena ekstraterestrial mungkin kecewa dengan hasil ini, tetapi asal-usul alami 3I/ATLAS sama sekali tidak mengurangi fakta bahwa ia adalah salah satu penemuan astronomi paling memesona sepanjang hidup kita.

Mendeteksi objek antarbintang memberikan kesempatan langka untuk mempelajari objek berskala kecil dari sistem bintang lain. 3I/ATLAS hanyalah objek ketiga yang pernah ditemukan, dan dalam beberapa bulan terakhir, para astronom menemukan bukti yang menunjukkan bahwa ia sangat berbeda dari dua pendahulunya. Komet ini jauh lebih tua, lebih besar, dan lebih cepat dibandingkan pendahulunya, serta menunjukkan sifat kimia dan fisika yang unik.

3I/ATLAS kini sedang dalam perjalanan kembali ke ruang antarbintang, tetapi ini bukanlah terakhir kalinya Anda mendengar tentangnya. Para astronom akan terus menganalisis gunungan data yang mereka kumpulkan tentang komet ini dalam tahun-tahun mendatang. Studi-studi ini mungkin tidak membawa kita lebih dekat ke bukti kehidupan cerdas di luar Bumi, tetapi mereka akan memperkuat pemahaman kita tentang sistem bintang yang jauh.

Tinggalkan komentar