Menurut CNBC, xAI milik Elon Musk, anak perusahaan penuh SpaceX, meraih keberhasilan signifikan pada Selasa lalu ketika pihak berwenang lingkungan setempat mengizinkannya untuk menghidupkan pusat data AI dengan membangun 41 turbin pembakar gas alam di Southaven, Mississippi.
Isu perubahan iklim sepertinya sudah tak lagi ramai dibicarakan, tapi mari kita terkesan ketinggalan zaman sejenak. Elon Musk bukanlah yang bisa disebut “penyangkut perubahan iklim” (istilah yang seolah sudah seratus tahun tak terdengar). Dulu ia sempat dikira secara keliru sebagai pahlawan iklim. Pada 2008, The Guardian memasukkannya dalam daftar orang yang “dapat menyelamatkan planet.”
Selama bertahun-tahun, Musk berulang kali menyokong pajak karbon sebagai mekanisme untuk mengarahkan pasar ke energi terbarukan (dan mobil listrik). Posisi ini diambilnya lebih dari satu dekade lalu, dan ia tegaskan kembali bahkan hingga memasuki fase politik kanannya.
Dengan kata lain, Elon Musk telah mengartikulasikan—secara mendalam—bahwa dominasi bahan bakar fosil merupakan ancaman bagi dunia. Ia menggunakan kata-kata yang mengungkapkan keprihatinan, namun tak pernah terlihat benar-benar gelisah. Pada 2014, dalam wawancara dengan Chris Hayes, ia memberikan kutipan berikut yang relevan untuk dibaca dalam konteks kini:
Saya kira kekhawatiran terbesar saya adalah skala besar basis industri yang bergantung pada bensin atau diesel atau semacam bahan bakar fosil.
[…] Maksudnya, jumlah pabrik yang harus dibangun untuk memproduksi baterai dan listrik, untuk memproduksi panel surya, itu sangatlah besar, tahu? Jika Anda memikirkan semua ladang minyak, ladang gas, dan kilangnya. Dan ketika Anda menggantikan—Anda berusaha mengganti infrastruktur itu, yang bernilai triliunan dolar. Jadi akan sulit bagi kita untuk bergerak terlalu cepat.
[…] Masalah terbesar yang kita hadapi saat ini adalah bahwa kita mengalami kerusakan dalam sistem pasar.
[…] karena tidak ada harga untuk emisi karbon, hal-hal yang menghasilkan karbon menjadi sangat menguntungkan, karena biaya sebenarnya tidak dibayar. Jadi jika Anda seorang insinyur petrokimia, Anda dapat menghasilkan uang yang sangat besar, tetapi seharusnya Anda tidak benar-benar menghasilkan uang sebanyak itu.
Selama pemilu 2024, Musk menghabiskan sekitar seperempat miliar dolar untuk berhasil membantu terpilihnya Donald Trump. Tak seorang pun di dunia yang menjadi penghalang lebih besar bagi pajak karbon selain Donald Trump, yang—tentu saja—telah membuat pajak karbon di AS menjadi hal yang mustahil secara politis selama masa jabatannya. Namun ia juga menghabiskan masa pemerintahan keduanya dengan menggunakan ancaman ekonomi untuk memblokir pajak karbon internasional pada sektor pelayaran.
Para pengkritis telah menuduh Trump melakukan “nihilisme iklim.” Namun Trump adalah penyangkal klasik. Ia masih—di tahun 2026!—melakukan hal khas kakek-kakek konservatif, di mana ia melihat berita tentang badai salju dan bersikap seolah itu membantah pemanasan global.
Mungkin “nihilisme iklim” harus dimaknai sebagai pengakuan atas fakta perubahan iklim, tetapi sekaligus mengabaikan konsekuensinya—seperti kehancuran dan kematian dalam skala yang belum pernah terjadi—sebagai hal yang tak relevan. Untuk benar-benar menjadi seorang nihilisme iklim, menurut saya, seseorang harus memiliki pemahaman mendetail tentang moralitas sebagai, katakanlah, salah satu dari lima orang paling berkuasa di dunia, dan tetap berusaha keras memperburuk perubahan iklim.